
Sebelum peristiwa itu.
Lea tidur dengan nyenyak, sesuai yang di prediksikan oleh Daniel. Memasuki bulan-bulan terakhir kehamilan, ia jadi doyan tidur.
Jangankan di rumah, di kampus saja apabila selesai mata kuliah. Ia pasti tidur di meja kantin. Dan untungnya ada teman-teman yang selalu setia menemani.
Kebiasaan Lea yang suka tidur tersebut, dibarengi juga dengan kepekaan hidungnya yang kian bertambah tajam. Dalam radius puluhan meter, Lea bisa mencium bau makanan semenjak hamil.
Maka tidur perempuan itu pun terganggu dengan aroma nasi goreng yang dibuat oleh Daniel. Lea terbangun, dengan perut yang mendadak terasa lapar.
"Hmm." Ia mengikuti arah penciumannya yang mengendus sesuatu.
Lea kemudian berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga. Aroma dari masakan tersebut semakin kuat. Lalu ia menemukan adanya tiga piring nasi goreng yang terletak di atas meja makan.
"Mas Daniel, Ayah, om Ellio." ujarnya menghitung piring tersebut dan menebak siapa pemiliknya.
"Koq gue nggak dikasih?" tanya nya kemudian.
"Curang anjay." lanjutnya lagi.
Lea menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada tanda-tanda keberadaan ketiga lelaki itu di sekitar. Maka ia pun bergegas mengambil piring, lalu menyendok 1/4 milik Daniel, Ellio dan juga Richard. Ia juga mencuri bagian kuning dari ketiga telur mata sapi yang ada. Kemudian ia beralih ke kulkas.
Mumpung Daniel dan yang lain sedang tidak ada, pikirnya. Ia memotong dua buah tomat segar serta mentimun. Meski ibu hamil di larang memakan sayuran mentah. Namun bagi Lea tomat serta timun adalah buah, bukan sayur. Ia menambahkan pelengkap tersebut lalu mengambil air minum dan membawa semuanya ke kamar.
Lea makan di kamar dengan lahap. Rasanya bahagia sekali jika perut terisi di malam yang suntuk. Seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan yang hakiki.
"Eheeek."
Ia bersendawa cukup besar, dengan wajah yang sumringah. Ia bahagia mendapat makanan yang begitu lezat. Meski statusnya adalah curian atau ilegal. Ia bersandar sejenak pada bantal, lalu kembali menjadi ikan paus.
"Good night baby D, kita tidur ya." ujarnya seraya mengusap-usap perut.
Tai lama ia pun kembali nyenyak. Daniel beserta Richard dan Ellio mulai berjalan untuk pulang ke rumah.
***
Pagi buta.
Disaat Daniel, Richard, serta Ellio masih tertidur dengan lelap. Mereka terbangun karena mencium aroma masakan yang begitu lezat. Ketiganya mendadak beranjak dan dihantui rasa lapar.
Mereka keluar dari dalam kamar dan masing-masing saling bersitatap. Sebab kamar yang mereka tempati sama-sama berada di lantai dua.
__ADS_1
Ketiganya lalu beralih ke pinggir tangga dan melihat ke bawah. Tampak Lea dan asisten rumah tangga tengah menyiapkan makanan di meja makan. Daniel, Richard, dan Ellio pun kompak turun ke bawah.
"Wah Lele, kayaknya enak nih." seloroh Ellio.
"Ayo makan om, tapi pada cuci muka dulu." ajak Lea.
Maka Daniel, Ellio, dan Richard pun bergegas mencuci muka. Pada menit berikutnya mereka sudah terlihat duduk di kursi meja makan.
Lea dan asisten rumah tangga masak banyak hari ini. Apa yang ia makan, asisten rumah tangga disana juga ikut kebagian. Lea tak ingin membeda-bedakan antara dirinya dan juga penghuni lain di rumah itu. Meskipun para asisten rumah tangga makan di meja belakang. Namun masakan yang mereka makan itu sama.
"Kalian nggak usah pulang ya. Tinggal disini aja sama ayah." ujar Richard seraya menyuap makanannya.
"Ayah suka kalau rame kayak gini, rumah jadi hidup." lanjutnya lagi.
"Nggak enak lah yah, kan aku udah nikah. Kami kan ada rumah sendiri." jawab Lea.
"Gue aja bro yang tinggal disini, gimana?" Ellio menawarkan diri.
"Ntar gue deh yang masakin lo tiap hari." lanjutnya kemudian.
"Ogah, yang ada gue radang lambung gara-gara lo." seloroh Richard. Ellio sewot, sementara Daniel dan Lea tertawa-tawa.
"Le, nanti siang ke dokter." ujar Daniel.
Daniel mengangguk, kemudian mereka melanjutkan makan.
***
"Nina."
Lea menghambur ke arah Nina, yang akhirnya kini kembali ke kampus.
"Lele."
Keduanya saling berpelukan.
"Duh gue kangen." ujar Nina."
"Lo udah baik-baik aja kan?" tanya Lea.
"Baik, udah bosen juga gue di rumah terus." jawab gadis itu kemudian. Tak lama Vita datang menghampiri dan suasana pun kian bertambah heboh.
__ADS_1
Mereka berbincang dan pergi ke kantin bersama-sama. Nina sudah jauh lebih baik, bahkan ia sudah bisa tertawa lepas. Lea lega melihat perubahan yang ada di diri sahabatnya itu. Meski mungkin masih luka, namun Nina sudah bisa melangkah lagi untuk ke depannya.
***
Siang hari Daniel menemani Lea ke dokter kandungan. Dokter mengatakan jika kondisi bayi mereka sehat, Lea pun dinyatakan sehat. Namun kali ini muncul ketakutan dalam diri Lea, sebab sebentar lagi bayi itu akan lahir.
Pikirannya mulai di padati tentang bagaimana rasanya melahirkan. Sakit atau tidaknya proses itu nanti.
"Le, kamu kenapa tegang gitu?"
Daniel bertanya pada Lea, ketika akhirnya mereka kembali ke dalam mobil dan Daniel melihat ada perubahan di wajah istrinya tersebut.
"Aku koq makin takut ya mas?" tanya Lea kemudian.
"Takut, takut kenapa?" Daniel balik bertanya, ia kini sudah mengunci semua pintu mobil.
"Ya takut aja, nanti melahirkan gimana. Aku harus ngeluarin kepala bayi. Nggak kebayang sakitnya bakalan kayak apa."
Daniel menarik nafas dan tak jadi menghidupkan mesin mobil. Ia kini menatap Lea dan mencoba memberi perhatian pada perempuan itu.
"Takut tau mas." ujar Lea seraya kemudian memeluk Daniel. Daniel pun membalas pelukan itu.
"Nggak usah takut, kan ada aku." ujar Daniel.
"Ya tapi kan mas nggak ngerasain sakitnya, aku yang ngerasain."
"Terus kamu pikir aku bakalan bisa ketawa-ketawa liat kamu kesakitan?"
Lea diam.
"Takut pokoknya mas." rengek Lea lagi.
Daniel mencium kening istrinya itu.
"Semua akan baik-baik aja, kamu nggak usah khawatir." Daniel kembali berujar.
"Kamu harus berfikir positif, banyak nanya ke dokter, atau baca artikel tentang melahirkan yang valid. Ok?"
Lea mengangguk, dan makin erat memeluk sang suami. Daniel membiarkan dulu istrinya seperti itu hingga tenang. Setelah itu barulah ia menghidupkan mesin mobil dan mereka berlalu meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
Lea tertidur di sepanjang perjalanan pulang, Daniel memperhatikan istrinya itu sesekali. Jujur sebagai suami, ia pun merasa khawatir sekaligus takut. Sebab ia juga belum pernah menangani seorang perempuan yang akan melahirkan.
__ADS_1
Ia tidak tau bagaimana caranya mengatasi ketakutan Lea. Namun disisi lain ia juga harus bisa membuat Lea tenang dan tak melulu hidup dalam kecemasan.