
"Lita, jangan paksa Nadya terus sama kalian. Mungkin dia ada keperluan lain atau nggak mau di ganggu."
Richard akhirnya menegur ketiga asisten rumah tangganya di hadapan Nadya. Ia takut Nadya jadi risih dan mendongkol dalam hati. Dan lagi sebagai bos ia harus menunjukkan sikap bahwa ia mendidik para asisten rumah tangganya dengan baik.
"Nggak apa-apa koq pak Richard. Saya senang jalan sama mereka." ujar Nadya.
"Tapi, Nad."
"Ini tulus koq, bukan pura-pura." lanjutnya lagi.
"Tuh kan, pak. Mbak Nadya-nya aja nggak masalah." ujar Lita.
Richard menarik nafas panjang.
"Oke." ujarnya kemudian.
Mereka terus memilah belanjaan, hingga kemudian semuanya selesai dan mengantri di kasir.
"Mbak Nadya nanti langsung pulang?" tanya Ayu.
"Iyalah, Yu. Dia harus mengurus rumah tangganya."
Richard menjawab sebelum Nadya yang mengatakan itu semua.
"Ngopi yuk mbak, bentar." ajak Ayu.
Ia memberi kode pada Richard, sedang Richard sejatinya merasa tak enak hati.
"Saya nggak pernah ke tempat yang kayak gitu-gitu." ujar Nadya.
"Ayo mbak sekali-kali." ujar ayu lagi.
Lita dan Siti tampak berada di depan kasir. Sedang ayu dan Richard menunggu bersama Nadya yang sudah selesai membayar.
"Saya harus pulang." ujar Nadya.
"Sebentar aja mbak, please!"
"Yu, jangan suka maksain orang." Richard kembali menegur asisten rumah tangganya itu.
"Ih si bapak mah, tadi mbak Nadya ceritain cara bikin beberapa masakan yang enak. Saya kan masih penasaran."
"Iya tapi jangan maksain orang juga."
__ADS_1
"Nggak apa-apa pak." ujar Nadya.
"Saya akan kasih tau ayu lebih banyak lagi, setelah itu saya pamit pulang."
"Oke, senyaman kamu aja Nad." ujar Richard.
Setelah Lita dan Siti selesai membayar, mereka mengantar semua barang belanjaan ke mobil. Sedang Richard menemani ayu dan Nadya menuju ke sebuah kafe yang ada di samping supermarket.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, Nadya menginjak tempat itu. Ia adalah wanita rumahan yang tak pernah keluar kemana-mana.
Ayah dan ibunya akan marah jika pulang sekolah ia mampir kesana-kemari. Setelah menikah dengan Hanif pun, Hanif tak pernah sama sekali mengajak ia pergi kemana-mana
Hanif mengatakan sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan yang dirumah, sedang Hanif sendiri doyan berkeliaran. Seolah dunia ini hanya diciptakan untuk laki-laki.
"Mbak mau pesan minuman apa?" tanya Ayu seraya memberikan menu pada Nadya. Nadya kemudian melihat-lihat.
"Saya ini aja." ujarnya menunjuk pada es coklat susu.
"Hallo."
Tiba-tiba Lita dan Siti kembali muncul. Lita lalu duduk di samping Richard, sedang Siti dihadapan Richard. Nadya sendiri ada di depan ayu yang berdekatan dengan Richard.
Lita dan Siti serta Richard turut memesan minuman. Tak lama ayu pun kembali berbincang dengan Nadya.
"Jadi gimana mbak, soal yang tadi." ujar ayu.
Sebab apa yang ditanyakan Ayu adalah masakan yang sering ia buat di rumah. Ayu berlagak tak bisa memasaknya dengan baik lalu meminta tips pada Nadya.
Nadya sendiri entah terlalu polos atau terlalu baik dan ingin membantu orang lain, sehingga ia terjebak dalam situasi ini.
Padahal jika ia ingin pulang, sedari tadi saja ia bisa mengatakan jika dirinya sibuk atau ada urusan lain.
Tapi mungkin ini juga keberuntungan Richard. Liciknya para asisten rumah tangga serta polosnya Nadya menyatukan mereka semua di meja ini.
Usai berbincang cukup lama, Nadya berpamitan. Richard mengantarnya sampai ke parkiran. Nadya tidak menyetir sendiri melainkan ada seorang supir yang bertugas mengantar dan menjemputnya.
"Nad, maafkan ketiga asisten rumah tangga saya yang songong sama kamu." ujar Richard.
Nadya tersenyum, meski ia lagi-lagi menjatuhkan pandangan dan tak berani menatap Richard.
"Mereka nggak songong koq, pak. Mereka baik." ujar Nadya.
"Iya tapi kan mereka asisten saya, harusnya saya bisa mendidik mereka."
__ADS_1
Untuk yang kesekian kali Nadya kembali tersenyum.
"Mereka baik di mata saya, pak." jawab Nadya.
"Oke terima kasih banyak ya, Nad."
"Sama-sama pak."
Mereka lalu berpisah di tempat tersebut. Nadya masuk ke dalam mobil, dan mobil tersebut lalu berjalan. Richard sendiri kembali ke kafe.
Selang beberapa saat berlalu mereka juga memutuskan untuk pulang ke rumah, karena hari telah larut.
***
"Gimana tadi pak?" tanya Lita pada Richard ketika mereka telah di mobil.
"Kalian hebat." ujar Richard sambil tertawa.
"Bapak juga aktingnya hebat. Melarang kita semua untuk nggak terus-terusan menahan Nadya."
"Itu serius, saya nggak enak sama Nadya." ujar Richard.
"Ya meskipun dalam hati, saya suka kalian menahan dia."
Mereka semua sama-sama tertawa.
"Ya udah nih, kalian semua mau makan pizza nggak?" tanya Richard.
"Mau." jawab mereka bertiga serentak.
"Ya udah pesan sana!. Buat uang dirumah juga." ujar Richard.
"Asik."
Mereka bertiga bersorak kegirangan. Sementara di jalan lain, supir Hanif bertanya pada Nadya.
"Koq tadi lama bu, belanjanya. Tadi pak Hanif telpon dan nyuruh saya samperin ibu."
Nadya diam, ini kali pertamanya ia keluar agak lama. Selama ia menikah dengan Hanif.
"Tadi didalam itu rame pak, kasirnya ngantri dan saya ketemu sama teman saya yang tadi."
Nadya menyinggung soal Richard yang mengantarnya sampai ke halaman parkir. Yang mana supir tersebut juga turut menyaksikan kehadiran pria itu.
__ADS_1
"Lain kali bilang ya, bu. Kalau semisal ibu bertemu teman atau apa. Soalnya saya nggak enak sama pak Hanif." lanjutnya lagi.
"Iya pak " jawab Nadya kemudian.