
Malam itu Shela tampak tidak begitu nyaman. Sebab ia diintimidasi oleh Lea dan juga kedua temannya. Dimana ada Shela, disitu ada Lea dan juga Adisty serta Ariana.
Shela hendak makan, maka Lea dan teman-temannya sudah ada di dekat meja prasmanan. Shela hendak ke toilet, maka Lea dan teman-temannya juga sudah berada di sana. Di setiap pergerakan Shela, selalu ada mereka.
Hingga akhirnya Shela pun meminta pulang pada Al. Lea dan teman-temannya tertawa-tawa.
"Mampus tuh si ayam gatel." ujar Adisty ketika melihat Shela dan Al akhirnya keluar dari tempat acara.
"Nggak tahan sendiri dia." timpal Ariana.
"Gue di lawan." Kali ini Lea yang berbicara.
Ketiga sahabat itu kembali tertawa-tawa.
"Yuk lanjut makan!" ajak Lea kemudian.
"Yuk."
Mereka pun melanjutkan pesta, sedang Shela sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Ketika pulang ke rumah Lea senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tersebut.
Hal itu tentu saja mengundang tanda tanya besar bagi Daniel, yang saat ini habis mengambil air minum di dalam kulkas.
"Kamu kenapa, Le?" tanya nya kemudian.
"Kenapa emangnya?" Lea balik bertanya.
"Itu senyum-senyum sendiri kayak abis nonton stand up comedy."
"Hehehe." Lea nyengir.
"Nggak koq mas, cuma tadi liat beberapa meme aja di sosmed. Jadinya kebayang-bayang mulu di pikiran." Lea berdusta.
Padahal sejatinya ekspresi wajah Shela di acara tadi lah, yang membuat dirinya menjadi tak tahan untuk tertawa.
"Darriel mana mas?" tanya Lea kemudian.
"Ada tuh di kamar atas, nonton dari tadi sama aku." jawab Daniel.
"Ini dia kamu tinggal sendiri?" tanya Lea lagi.
"Aku halangi bantal, lagian ini juga udah mau naik lagi koq."
"Oh ya udah, nanti aku nyusul deh. Aku mau mandi dulu." ujar Lea.
"Oke."
Daniel kemudian kembali naik ke atas, sedang Lea pergi mandi lalu berganti pakaian. Tak lama setelah itu ia pun menyusul ke atas. Tampak Darriel masih terjaga kedua matanya dan menonton televisi.
"Hey anak lele, kamu nonton?"
Lea menyapa sang anak kemudian duduk dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Heheee." Darriel tertawa.
Lea mencium pipi anak itu kemudian ikut nonton. Sesekali Daniel bertanya mengenai bagaimana acara tadi. Lea mengatakan yang baik-baik saja dan sama sekali tak menyinggung soal Shela. Karena baginya hal itu tak penting juga untuk dibicarakan.
***
"Sebel banget gue, asli."
Shela bercerita pada Susi mengenai kejadian tadi, dan Susi benar-benar kesal mendengar semua itu.
"Lo harus cepet-cepet dapatin lakinya si Lea, jangan kasih kendor lagi. Lakukan cara apapun, biar mampus itu perempuan."
Susi berkata dengan penuh berapi-api, dalam nada bicaranya terdapat kemarahan serta dendam. Ia tak rela temannya di perlakuan seperti itu oleh Lea.
"Lo bantuin gue ya, Sus." ucap Shela kemudian.
"Dendam banget gue sama tuh cewek." ujarnya lagi.
"Iya, pasti gue bantu koq." jawab Susi.
Mereka kemudian lanjut berbincang, sementara Hanif berada di belakang rumah. Ia tadi pamit pada Susi dan mengatakan jika ada telpon penting mengenai pekerjaan. Padahal dirinya tengah bertengkar dengan Yayah sang istri kedua.
"Kamu jangan macem-macem ya, aku masih kepala keluarga disini."
"Kepala keluarga?. Kepala keluarga untuk siapa?. Untuk istri ketiga kamu?. Hah?"'
Yayah terdengar marah-marah di telpon.
"Ya aku minta kamu sabar, nanti juga aku bakalan datang ke kamu."
"Pokoknya kalau kamu nggak datang, aku akan segera layangkan gugatan cerai."
"Jangan macam-macam kamu ya!"
Hanif marah dan mengancam, namun kemudian sambungan telpon tersebut mendadak terputus.
"Tuuuut."
"Brengsek."
Hanif mengumpat, namun kemudian ia melihat Susi melintas dan ia pun langsung berpura-pura tak terjadi apa-apa.
***
"Delil mau bobok dimana?"
Lea bertanya pada Darriel ketika malam telah begitu larut, dan anak itu masih juga belum mengantuk.
"Heheee."
Darriel hanya memberikan tawa.
__ADS_1
"Ketawa melulu." ujar Lea sambil mencoba memakan pipi anak itu. Sementara Daniel tersenyum lalu mengusap-usap kepala Darriel.
"Kalau mau bobo sama papa mama juga nggak apa-apa." ujar Daniel.
"Iya, mau nggak Delil bobo disini?" tanya Lea lagi.
"Heheee."
"Bisanya cuma hehe sama oek. Dikit-dikit hehe, dikit-dikit oek."
Lea menggelitik anak itu dan Darriel makin tertawa-tawa. beberapa saat, ia seperti meminta untuk diberikan susu. Maka Lea pun memberikannya, perlahan anak itu mulai mengantuk, kemudian terlelap. Mereka tidur bertiga disana malam itu.
***
Pagi hari Lea baru ingat jika ini adalah jadwal Darriel untuk imunisasi. Itu pun Daniel yang mengingatkan, sebab Daniel mencatat semua jadwal yang akan dijalani oleh anak pertamanya itu.
"Oh iya, mama hampir lupa." ujar Lea seraya menyiapkan sarapan pagi.
Sementara Darriel kini terlihat dalam ayunan elektrik sambil menghisap jari.
"Papa anterin yuk!" ujar Daniel.
"Mas emangnya nggak telat kerja nanti?" tanya Lea.
"Nggak, kan ini menjelang weekend juga. Jadi kantor nggak terlalu sibuk."
"Oh ya udah, ini kopinya mas."
Lea memberikan segelas kopi yang baru saja ia buat kepada Daniel. Sejak tadi pria itu memang telah duduk di meja makan dan menikmati sarapannya.
"Delil mau pergi sama papa-mama ya?" tanya Lea.
Darriel hanya memberikan lirikan pada ibunya itu.
"Tumben nggak hehe-hehe." ujar Lea.
Daniel memperhatikan Darriel.
"Masih ngantuk kayaknya dia." ucap pria itu.
"Mungkin, tapi udah maksa diri untuk bangun." jawab Lea.
Keduanya lalu sama-sama tersenyum dan waktu pun berlalu. Daniel akhirnya menemani Lea dan juga Darriel pergi ke dokter, untuk kemudian menjalani imunisasi. Darriel diajak bicara dan dialihkan terlebih dahulu perhatiannya oleh dokter. Lalu suntikan pun diberikan.
Ia agak bengong, karena mungkin merasakan sakit yang tiba-tiba. Namun ia juga tampak bingung, antara ingin menangis tetapi ragu-ragu. Daniel dan Lea hanya tertawa menyaksikan semua itu.
"Udah selesai." ujar Lea pada Darriel ketika mereka hendak pulang.
"Semoga Darriel sehat selalu ya."
Dokter berkata dan baik Lea maupun Daniel lalu berterima kasih, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Daniel mengantar terlebih dahulu anak dan istrinya pulang ke rumah, setelah itu barulah ia pergi ke kantor untuk bekerja.