
Ibu Lea di larikan ke rumah sakit terdekat. Sedang Lea sendiri berserta Richard dan juga Daniel, menunggu kabar di ruang tunggu unit gawat darurat.
Beberapa saat yang lalu, sebelum Lea dan Daniel tiba di toko kue. Richard datang terlebih dahulu untuk mengawasi semuanya.
Pria itu sejatinya tak minta keuntungan apa-apa, dari bisnis yang ia beri modal tersebut. Namun dirinya hanya ingin memastikan, jika semuanya berjalan dengan baik.
Ia ingin menjalin hubungan pertemanan yang dengan ibu Lea. Karena biar bagaimanapun mereka memiliki seorang anak. Akan lebih baik lagi jika mereka bisa berteman atau mungkin menjadi seperti saudara.
Karena meski sudah memiliki suami, Lea hanyalah remaja belasan tahun yang masih butuh kasih sayang orang tuanya. Lagipula Richard dan Citra akan menjadi nenek kakek bagi cucu mereka dalam waktu dekat.
Richard ingin semuanya jelas, bayi itu harus memiliki keluarga dengan hubungan-hubungan baik yang terdapat didalamnya.
"Tapi dari kemarin pengunjungnya lumayan?" tanya Richard ada Citra kala itu.
"Ya, sangat-sangat lumayan." jawab Citra seraya tersenyum.
"Bagus kalau begitu."
Ayah Lea merasa dirinya butuh ke toilet, maka ia pun berjalan ke arah sana. Sedang citra kembali membantu melayani pembeli. Sebagai pemilik bisnis ia ingin terjun langsung untuk melayani. Agar ia juga bisa memahami perilaku konsumen yang datang ke tempatnya.
"Citra."
Tiba-tiba sang suami muncul di hadapannya. Mereka saat ini tengah berada dalam proses perceraian.
"Mau apa kamu?" tanya Citra pada laki-laki itu.
"Berani kurang ajar kamu ya."
Ayah tiri Lea berujar dengan suara pelan, namun terasa menusuk di hati.
"Nggak usah sok menggunakan otoritas kamu sebagai suami. Kamu lupa sudah aku gugat cerai, walaupun saat ini masih dalam proses?"
"Mentang-mentang sudah kaya kamu sekarang, songong sama suami. Nggak punya etika tau nggak."
"Nggak usah sok ngomongin etika di depan aku, tata krama kamu aja nggak ada." balas ibu Lea.
"Apa kamu bilang?"
Tiba-tiba ayah tiri Lea mencekik sang istri. Para karyawan pun mulai mendekat untuk melerai.
"Mana uang aku yang kamu habiskan?"
Ayah tiri Lea berteriak, ia sengaja playing victim supaya orang mengira jika ibu Lea adalah istri yang sangat buruk.
"Uang apa, mana ada uang kamu." ujar Ibu Lea dengan nada yang tak kalah berteriak.
"Kamu pikir selama ini kamu hidup dari mana, hah. Kembalikan semua uang aku...!"
"Nggak tau diri kamu, bilang aja kamu mau uang kan buat judi. Nggak usah bilang uang kamu yang di aku, karena nggak ada sama sekali uang kamu. Ini semua uang bapaknya Lea."
Ayah tiri Lea kembali memberontak, dan memukul ibu Lea. Kali ini dengan pukulan demi pukulan yang amat keras. Para karyawan yang mencoba memisahkan dan menolong ibu Lea pun tak luput dari sasaran amukannya. Ibu Lea benar-benar kualahan hingga ia jatuh tak sadarkan diri. Sampai kemudian Richard tiba dan menarik serta memukul laki-laki itu.
"Buuuk."
Ayah tiri Lea terkejut. Sekembali dari toilet, Richard kebetulan menerima telpon. Sehingga ia tidak tahu jika di depan telah terjadi kericuhan. Para pengunjung mendadak membubarkan diri, namun sebagian masih menonton dari jarak jauh.
Mereka tidak berani untuk ambil tindakan, sedang Richard akhirnya membabi buta. Ia balas memukuli ayah tiri Lea, sampai Daniel dan Lea akhirnya tiba dan menyaksikan itu semua.
***
__ADS_1
"Selamat siang pak."
Seorang dokter keluar dan berbicara pada Richard
"Iya dok, bagaimana keadaannya?" tanya Richard kemudian.
Dokter pun mulai menjelaskan jika kondisi ibu Lea saat ini cukup parah. Namun dokter telah menanganinya dengan baik dan akan segera di pindahkan ke kamar rawat.
"Baik dok, terima kasih banyak."
Richard berujar, sebelum akhirnya dokter tersebut berlalu. Selang beberapa saat mereka sudah berada di ruang rawat VIP. Namun ibu Lea belum sadarkan diri.
"Lea kamu makan dulu ya."
Daniel berujar pada istrinya tersebut.
"Kamu belum makan?" tanya Richard padanya.
Lea menggelengkan kepala.
"Ya udah, makan gih." lanjut Richard kemudian.
"Ibu gimana?" tanya Lea.
"Biar ayah yang jagain disini. Sana kamu makan, ntar kamu juga ikut kenapa-kenapa lagi." ujar Richard.
"Ya udah yah, aku tinggal ya yah."
"Iya." jawab Richard.
"Lo mau gue bawain makan nggak?" tanya Daniel.
"Mau apa?"
"Apa aja." Ayah mertuanya tersebut menjawab.
"Ok."
Daniel pun beranjak keluar bersama Lea.
"Makan di dekat sini aja mas." ujar Lea.
"Iya." jawab Daniel.
Maka mereka pun mencari makanan yang ada di kantin rumah sakit. Disana ada banyak pedagang kaki lima yang menawarkan makanan. Lea dan Daniel pun makan bersama di sana.
"Le, ayah kamu mana ya?"
Dian mengirim pesan singkat pada Lea, ketika Lea baru saja selesai makan bersama Daniel.
"Siapa Le?" tanya Daniel kemudian.
Kak Dian mas." jawab Lea.
"Kenapa dia?" tanya Daniel lagi.
"Nanyain ayah." jawab Lea.
Perempuan itu mulai mengetik balasan.
__ADS_1
"Kenapa emangnya kak?"
"Nggak kenapa-kenapa. Aku kirim pesan nggak di balas, telpon di reject terus." balas Dian.
"Lagi sibuk mungkin kak, nanti aku coba hubungi ayah ya."
"Tapi dia baik-baik aja kan, Le?" tanya Dian lagi.
"Baik kak, sehat koq." jawab Lea.
"Ya udah, kakak cuma nanyain itu doang."
"Ok kak, nanti aku suruh ayah ngabarin kakak."
"Makasih ya, Le."
"Sama-sama."
Lea dan Dian menyudahi percakapan tersebut.
"Kamu bilang apa ke Dian, Le?" tanya Daniel.
"Aku bilang aja ayah mungkin sibuk, mas. Masalahnya nggak enak juga kalau aku bilang ayah lagi ngurus ibu. Nanti salah paham lagi."
"Iya sih." jawab Daniel.
"Eh Le, kalau seandainya Richard balikan sama ibu kamu gimana?"
Daniel melontarkan pertanyaan yang sedikit membuat Lea terdiam.
"Waduh, aku nggak ikut-ikutan mas. Masalahnya mereka orang tua aku, kak Dian temen aku. Nggak mau aku terlibat, takut salah bertindak."
Daniel tertawa kecil.
"Aku ngebayangin ini dari kemaren-kemaren loh. Nggak tau kenapa kepikiran aja."
"Kalau sampe kejadian cinta segitiga, aku pensiun jadi manusia mas. Aku mau jadi kangkung aja." ujar Lea.
Lagi-lagi Daniel tertawa kecil.
"Soalnya Richard tuh susah ditebak kalau soal hati." ujarnya kemudian.
"Tau deh mas, kita netral aja lah. Lagian yang terpenting saat ini adalah kesembuhan ibu, dan urusannya sama bapak Ryan dan Ryana."
"Iya sih, oh ya bisa dilaporkan ke polisi penyerangan yang dia lakukan tadi."
"Kan ayah juga nyerang, mas."
"Ayah kamu posisi udah di tempat duluan. Bapaknya Ryan sama Ryana yang datang-datang bikin keributan. Dia lah yang salah."
"Emang gitu ya mas?"
"Iya dong, siapa yang datang menyerang ketempat orang duluan itu yang salah. Walaupun misalkan ada pemicu lain sebelum itu."
"Oh gitu."
Lea terdiam sejenak
"Serahkan sama ibu aja deh mas, maunya apa terhadap suaminya itu. Pokoknya kita ngikut aja dan bantu sebisanya."
__ADS_1
Daniel mengangguk, lalu ia pun memesan makanan untuk Richard.