Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kejadian Mengejutkan


__ADS_3

"Lele."


Daniel berseru dari kaca mobil yang diturunkan. Kepala pria itu nongol hanya untuk memanggil sang istri, yang masih sibuk bercanda.


"Laki lu, Le." seloroh Adisty.


Lea menoleh.


"Eh iya, gue balik ya." ujar Lea pada teman-temannya.


Mereka saling melambaikan tangan dan Lea kini masuk ke dalam mobil sang suami.


"Tadi supir udah kamu suruh balik kan, Le?" tanya Daniel seraya menghidupkan mesin mobil.


"Udah mas, malah dari nganter tadi pagi udah aku suruh pulang. Aku bilang kalau ada janji mau pergi sama kamu."


"Baguslah, jangan sampe supirnya kamu suruh nunggu tapi kamu nya nggak ada. Itu dzalim namanya."


"Hehehe."


Lea terkekeh.


"Baby D, kamu sehat?"


Daniel mengelus perut istrinya, sambil terus fokus mengemudi.


"Sehat dong papa, hari ini aku sama mama makan ikan gurame sama nasi."


"Oh ya, koq papa nggak dikasih?"


"Abis enak, lupa deh bagi papa."


Daniel tertawa.


"Sehat terus ya kamu, nanti jadi temen papa main PS." ujar Daniel.


Kali ini Lea yang tertawa.


"Mas tadi udah makan siang?" tanya nya kemudian.


"Udah, sama Yohan." jawab Daniel.


"Makan apa?"


"Salmon mentai."


"Ih mauuu."


Daniel tertawa.


"Ya udah ntar beli."


"Ntar aja di rumah. Ini tuh kita mau ke pabrik nya gitu ya mas?" tanya Lea pada Daniel.


Perempuan itu sudah tau kemana tujuan mereka hari ini. Yakni menyambangi sebuah pabrik pembuatan skincare dan kosmetik.


"Iya, tapi kita ke kantornya. Nggak masuk ke dalam pabrik. Kan kamu lagi hamil, ntar kena kimia loh. Jadi baby chemical nanti."


"Jadi super hero ntar dia." ujar Lea seraya tertawa.


"Jauh nggak sih mas?" tanya Lea kemudian.


"Ya namanya juga pabrik, nggak mungkin di kawasan dekat kota yang padat penduduk dong. Pastinya jauh."


"Iya sih."

__ADS_1


"Kenapa, kamu capek ya?" tanya Daniel.


"Nggak koq."


"Kalau capek aku anterin pulang, biar aku yang kesana. Nanti sampel produknya kau bawa ke rumah."


"Ih jangan, aku mau liat langsung. Mau tanya-tanya banyak juga ke orangnya. Lagian aku suka koq jalan, walaupun jauh. Kan naik mobil ini." ujar Lea.


"Ya kali aja kamu lagi capek, nggak pengen jalan jauh."


"Nggak koq mas, hehehe."


Lea bersandar di bahu Daniel. Mereka menyusuri jalan demi jalan sambil berbincang. Kadang diam karena tidak ada topik, kadang juga Lea tertidur beberapa saat. Lalu terbangun lantaran mendengar suara klakson yang keras dari pengendara lain.


Di beberapa titik mereka berhenti, untuk sekedar mengisi bensin, membeli air mineral atau makanan ringan. Hingga beberapa saat telah berlalu, mereka pun tiba di tujuan.


Sesampainya disana, Daniel dan Lea disambut dengan sangat baik oleh pimpinan yang mengelola pabrik tersebut. Mereka diajak sedikit berjalan-jalan sambil menunjukkan sampel-sampel produk yang pernah dibuat untuk klien.


Disana Lea banyak melihat orang-orang yang seliweran, dengan menggunakan jas putih seperti dokter. Tampaknya mereka adalah peracik kosmetik maupun skincare yang bekerja disana.


"Waw, kemasannya lucu-lucu banget."


Lea mengomentari kemasan serum yang disuguhkan di depan matanya. Sementara Daniel dan pihak maklon terlibat obrolan yang cukup serius tapi santai.


Lea mendengarkan secara seksama, bahasa dan istilah yang mereka gunakan cukup bisa di mengerti oleh remaja seusia dirinya. Ia juga banyak melontarkan pertanyaan, mengenai seputar bahan serta produk apa yang paling diminati konsumen saat ini..


***


"Gimana Le, tadi?"


Daniel bertanya pada Lea, ketika mereka sudah berada di jalan pulang.


"Mmm, ok sih mas." jawab Lea.


"Iya, aku suka produk-produk mereka. Ada beberapa juga yang kayaknya belum ada di pasaran."


"Itu aku tau dari Ellio, Ellio kan raja skincare tuh. Jadi dia tau siapa aja produsen-produsen produk lokal yang bagus."


"Itu tadi lokal mas?"


"Lokal." jawab Daniel.


"Jaman sekarang banyak loh skincare produk lokal yang sukses di pasaran. Yang tampil dengan harga terjangkau, menyasar konsumen sampai ke bawah." lanjutnya lagi.


"Iya, kayak..."


Lea menyebut nama-nama skincare lokal, yang saat ini tengah booming dan di gandrungi konsumen.


"Penjualannya gila-gilaan kan?' ujar Daniel.


"Asli, ada yang sampe beli jet pribadi mas."


"Iya makanya. Kita harus bangga akan produk lokal." ujar Daniel lagi.


"Tapi aku, kalau sukses berbisnis nanti. Aku nggak tertarik buat beli jet pribadi mas."


"Kenapa?" tanya Daniel.


"Pengennya beli pulau pribadi, terus aku bangun wahana di tengahnya."


"Wahana apaan tuh?"


"Wahana roller coaster, tapi yang menjorok ke laut. Jadi biar takutnya double."


Daniel tertawa.

__ADS_1


"Kalau keretanya jatuh, langsung dimakan hiu." ujarnya kemudian.


"Hahaha."


Mereka terus berjalan sambil berbincang. Masih seputaran skincare dan segala yang berhubungan dengan hal tersebut.


Memasuki sebuah kawasan, Daniel menurunkan kecepatan mobilnya secara drastis. Ia melihat ke arah sebuah rumah, dimana ada beberapa mobil polisi yang terparkir di depan.


Lea sendiri bingung, mengapa Daniel memperhatikan rumah itu. Tak lama terlihat Grace ada di sana.


"Ini rumah kamu mas?" tanya Lea.


"Ya, rumah orang tua aku." jawab Daniel.


"Koq ada polisi?" tanya Lea.


"Mungkin Grace udah melapor kali, soal Danisha."


Mereka masih memperhatikan sejenak, setelah itu Daniel kembali menekan pedal gas mobilnya dan berlalu.


"Mas nggak mau liat dulu ke dalam?"


"Buat apa?. Biarin aja si tua bangka yang nggak tau diri sama pacarnya itu di tangkap. Anak bayi dianiaya, salah apa coba. Sampe dibuat jatuh dari tangga, mati pun bisa kalau nggak lekas di tolong."


Lea menghela nafas, dalam hatinya juga membenarkan. Bahwa perbuatan tersebut sangat tidak berprikemanusiaan. Apalagi korbannya adalah anak bayi, yang masih belum berdosa.


***


"Sharon."


"Shaaar."


Maya berteriak memanggil nama Sharon. Ketika ia dan Tasya menginap malam itu. Ia berteriak dari dalam kamar ibu Sharon. Karena kebetulan ia diminta oleh Sharon untuk mengantarkan susu untuk ibunya.


"Shaaar."


Sharon dan Tasya yang tengah membuat makan malam itu pun, terkejut dan langsung berlarian.


"Mama?"


"Mamaaaa."


Sharon berteriak histeris seraya menghambur ke dekat ibunya yang tergeletak di lantai.


"Mama kenapa, May?" tanya Sharon pada Maya dengan wajah yang panik.


"Nggak tau, Sha. Tau-tau udah begini." jawab Maya tak kalah panik.


"Ma, bangun ma. Maaa."


"Ma, bangun...!"


"Tas, ambulans." ujar Maya.


"Iya tunggu dulu, ini lagi mau gue telpon."


Tasya bergegas. Beruntung telpon tersebut langsung tersambung dan mendapat respon. Selang beberapa saat, sebuah ambulans tiba. Ibu Sharon kemudian dibawa, untuk mendapatkan pertolongan.


Sharon, Maya dan Tasya sendiri ikut menemani. Mereka bertiga kini berharap-harap cemas. Mereka tak tau apa yang telah terjadi pada ibu Sharon.


***


BACA JUGA :


__ADS_1


__ADS_2