Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Beres


__ADS_3

"Dan."


Richard menyapa Daniel yang baru saja kembali. Namun matanya masih tertuju pada televisi.


"Udah lo bereskan?" tanya nya kemudian.


"Udah." jawab Daniel.


"Good."


Daniel lalu naik ke atas, ia pergi mandi dan berganti pakaian.


"Mas, itu koq tangan kamu merah gitu?. Kenapa?"


Lea mempertanyakan tangan sang suami yang terlihat agak memar.


"Nggak apa-apa." jawab Daniel lalu tersenyum.


"Mas tadi dari mana?" tanya Lea lagi.


"Dari ada urusan." jawabnya.


Lea ingin mengorek keterangan lebih lanjut, tapi Daniel sudah keburu mendekat ke box bayi Darriel dan menggendong anak itu.


"Kamu dimana sayang?. Di rumah papa Rich ya?. Main kesini lagi kita ya?"


Daniel seakan mengajak Darriel berbicara. Maka bayi itu pun tersenyum-senyum bahkan tertawa.


"Hokhoa."


Ia bersuara.


"Kamu suka disini?. Bisa jalan-jalan ke halaman samping dan belakang kan?"


"Hokhoa."


Daniel mencium pipi anaknya itu dengan gemas, dan sekali lagi Darriel tertawa.


"Kamu kalau di cium papa, seneng ya. Coba kalau mama yang cium, langsung berkerut keningnya." ucap Lea.


"Mama bau ya nak?" Daniel bertanya pada Darriel sambil tertawa.


"Enak aja, mama wangi ya." Lea membela diri.


"Mama bau terasi." ucap Daniel lagi. Darriel kini tertawa-tawa dengan suara lebih keras.


"Seneng tuh kamu di gituin." Lea kembali berujar dan Darriel lagi-lagi tertawa.


Mereka terus bercengkrama, tanpa Lea tau jika tadi suaminya tadi habis meluapkan emosi pada seseorang.


***


"Lo harus balas, bro. Jangan diam aja."


Marvin berkata dengan nada penuh kemarahan serta berapi-api. Tatkala ia mendengar salah satu temannya di hajar oleh Richard dan juga Daniel, melalui sambungan telpon.


Padahal temannya tersebut babak belur akibat mulutnya sendiri yang tak bisa di jaga. Tapi rata-rata, seperti orang salah pada umumnya. Mereka selalu tak menyadari apa yang telah mereka perbuat.

__ADS_1


Yang mereka ingat hanyalah bagaimana mereka mengalami peristiwa memalukan atau kerugian. Penyakit orang yang salah adalah tak bisa melihat kesalahannya sendiri dan selalu menyalahkan orang lain.


"Gue akan buat perhitungan sama dia." ujar orang tersebut.


Marvin pun lanjut berkata dengan masih penuh emosi. Bahkan emosinya masih terasa ketika telpon tersebut telah di sudahi.


"Kenapa, bro?" Salah seorang teman yang berada di dekatnya bertanya.


"Si Sandi di pukul sama Richard dan Daniel." jawabnya kemudian.


"Masalahnya?"


"Sandi menyinggung masalah anak Richard yang jadi sugar baby nya Daniel." ujar Marvin lagi.


"Lah, itu kan fakta bro. Ngapain Richard sama Daniel mesti kebakaran jenggot?" tanya temannya itu lagi. Sementara teman yang lain kini tertawa-tawa.


"Bener kan gue ngomong?"


Temannya itu meminta kesepakan yang lain dan ternyata yang lain pun setuju.


"Yoi, bro. Ngapain dia harus marah. Emang anaknya sugar baby si Daniel koq tadinya, sebelum dinikahi." teman Marvin yang lainnya ikutan nyeletuk.


"Makanya kata gue, lawan aja." Marvin kembali bersuara.


"Takut amat sama dua orang itu." lanjutnya lagi.


***


"Kamu masih pake semua ini?"


Sean berkata pada Dian yang masih menggunakan beberapa fasilitas dari Richard. Dian mengerti pastilah Sean merasa tak enak hati dengan itu semua.


"Apa dia ngajak minta semua ini kembali?" tanya Sean lagi.


Dian menggeleng. Richard memang telah mengikhlaskan semuanya. Ia juga masih mau membiayai Dian sampai akhir, sesuai apa yang telah dijanjikannya di awal mereka bertemu.


Richard tak masalah soal itu, toh kepada siapapun ia memang baik dan tidak pelit. Namun saat ini Dian juga mesti menjaga perasaan Sean.


Dian memang masih memiliki perasaan pada Richard, namun tertutup sikapnya yang selama ini agak kurang perhatian. Plus ia yang masih suka bermain api dengan banyak perempuan.


Dian merasa harta saja tak cukup untuk menjalani rumah tangga. Berdasarkan sifat dan sikap Richard selama ini, ia tak yakin pria itu bisa setia.


Memang berat, lantaran Richard bisa memberikan segala kesenangan yang paling dicari perempuan. Yakni uang, harta dan kemewahan. Tapi selama di luar negri dan bergaul dengan banyak orang, perlahan pandangan matanya pun terbuka. Bahwa hidup tak melulu soal materi.


"Kamu nggak marah kan?" tanya Dian pada Sean.


Pemuda itu menggelengkan kepala.


"Asal kamu janji untuk mengembalikan semuanya. Disini kita bisa berusaha, kalau memang mau."


Dian menganggukkan kepalanya, sambil menarik nafas dan tersenyum meski tipis.


***


"Marsha, tante liat kemarin kamu posting video di Instagram. Koq makan mu dikit kali. Kan kamu lagi hamil, harusnya porsi double. Makan itu jangan buat kamu sendiri, tapi buat dua orang."


Marsha menatap pesan dari tante yang notabenenya merupakan tante jauh tersebut, dengan tatapan mata yang datar.

__ADS_1


"Abis itu makan lagi koq tante, abis satu magicom." balas Marsha dengan kesal.


"Nah iya, lagi hamil itu makan harus banyak."


Si tante melanjutkan wejangannya. Sementara Marsha kini membuka aplikasi chat dokter dan bertanya pada salah seroang dokter kandungan.


"Dok, emang ibu hamil mesti makan double porsi ya?" tanya Marsha.


"Ibu saat ini sedang hamil?" Dokter tersebut balik bertanya.


"Iya dok."


"Baik, bu. Ketika sedang hamil itu tubuh memang membutuhkan nutrisi yang lengkap untuk perkembangan janin. Yang penting bukan porsinya, tapi kualitas serta kandungan gizi dalam makanan yang kita makan." jawab dokter tersebut.


"Jadi nggak perlu porsi double?"


"Nggak perlu, porsi double kalau nggak banyak kandungan gizinya juga percuma. Yang terpenting itu kualitas makanannya bukan jumlahnya."


"Baik, dok. Terima kasih banyak."


Marsha akhirnya bernafas lega.


"Kamu kenapa sayang?"


Ellio yang baru masuk ke kamar, memperhatikan wajah Marsha yang begitu serius menatap layar handphone.


"Ini ada tante aku yang julid. Tante jauh sih." jawab Marsha."


"Julid?. Julid kenapa?" tanya Ellio heran.


Kemarin kan aku ada posting makanan tuh di insta story'. Terus tadi dia kirim chat ke aku. Katanya hamil koq makannya dikit banget, harusnya double porsi. Sebab makannya buat dua orang, bukan untuk diri sendiri. Terus aku nanya sama dokter bener apa nggak."


"Terus dokternya bilang apa?" tanya Ellio lagi.


"Dokter bilang, porsi double itu nggak perlu. Yang harus diperhatikan adalah kandungan gizi dan kualitas makanannya. Porsi double kalau nggak ada gizinya juga percuma."


Ellio tertawa kecil.


"Ya udah, turutin apa yang dibilang dokter aja." ujarnya kemudian.


"Aku bete aja, sama orang-orang yang suka sok tau dan ikut campur urusan orang lain. Kayak dia paling tau segalanya aja tentang kehamilan."


Ellio menghela nafas dan lagi-lagi tertawa. Kali ini ia duduk di pinggiran tempat tidur sambil memperhatikan Marsha.


"Kalau ada orang yang kayak gitu, iyain aja. Toh kita juga nggak tinggal serumah sama dia. Dia nggak tau aktivitas kita apa. Sebab kalau dibantah, akan keluar jurus pamungkas. "Orang dulu begini, begitu, bla, bla, bla". Pasti senjata andalannya ya itu." ujar Ellio.


Marsha kini memperhatikan sang suami.


"Dan apa-apa itu kalau bisa nggak usah kebanyakan di share di sosial media, soalnya di sosmed emang banyak orang sok pinter. Jadi sebisa mungkin kita jangan terlalu perlihatkan hidup kita. Banyak pengangguran yang suka ngurusin hidup orang disana." ujar Ellio lagi.


Marsha tertawa kali ini. Ellio mendekat lalu mencium bibir istrinya tersebut.


***


Mau tau fakta-fakta mencengangkan di dunia entertainment?. Bagaimana industri hiburan memanfaatkan netizen demi meningkatkan pendapatan. Yuk ikuti kisah menarik berikut ini. Dunia entertaint yang penuh gimmick akan hadir membuka pandangan anda.


__ADS_1


Atau baca kisah Ferdi yang harus berjuang merebut hati ketiga anak tirinya dan meyakinkan mereka jika ia tulus mencintai ibu mereka, yang merupakan seorang janda.



__ADS_2