Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Fotografer


__ADS_3

Lea akhirnya di perbolehkan pulang setelah 3 hari menjalani perawatan. Daniel benar-benar protektif kali ini. Ia bahkan tak mengizinkan Lea untuk banyak bergerak dulu.


"Mas kalau aku nggak gerak, justru itu akan menghambat proses lahiran aku nanti."


"Nggak usah ngajarin, Lele. Aku juga tau soal itu. Tapi hari ini kamu jangan banyak gerak dulu."


Daniel menggendong Lea dari kursi roda ke dalam mobil. Sedang Ellio membantu memasukkan barang ke bagasi. Richard sendiri sudah siap di kursi kemudi. Lea duduk di tengah bersama Daniel, sedang Ellio dan Richard berada di depan.


"Udah semua?" tanya Richard.


"Udah, jalan bro." ujar Daniel.


Richard pun menghidupkan mesin lalu menginjak pedal gas. Sesaat kemudian mereka meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.


***


"Maryam, kamu harus tetap bertahan dan jangan mengalah. Mami yang akan bilang ke Richie, untuk memilih kamu." ujar ibu Richard pada Maryam di telpon.


Gadis itu sangat sedih pasca Richard mengakui soal Dian dihadapannya tempo hari.


"Tapi mi, saya takut mas Richard tidak menyukai saya. Karena sepertinya mas Richard dan perempuan itu saling mencintai."


"Kamu tenang saja ya, mami yang akan urus semuanya. Sudah jangan takut dan jangan mikir macam-macam lagi."


"Iya mi."


Ibu Richard lalu membicarakan banyak hal dengan Maryam. Termasuk rencana pernikahan antara gadis itu dan juga Richard.


***


Di lain pihak.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mobil yang dikemudikan Richard akhirnya tiba di penthouse milik Daniel.


Ellio menyiapkan kursi roda, yang diambil dari bagian belakang mobil. Kemudian Daniel kembali menggendong Lea dan mendudukkannya di kursi roda tersebut. Daniel dan Ellio mengeluarkan barang-barang, sedang kini Richard mendorong Lea ke arah lift.


Sesampainya di atas, Richard yang mengendong Lea sampai ke kamar. Kemudian membaringkan tubuh anaknya itu ke atas tempat tidur.


"Yah mau senderan aja." ujar Lea.


"Ok."


Richard membantu Lea untuk bangun, lalu memberikan bantal untuk bersandar di belakang punggungnya.


"Kamu istirahat ya, dengerin apa kata Daniel. Jangan membantah terus." ujar Richard kemudian.


"Iya yah."


Richard tersenyum lalu mencium kening anaknya itu.


"Ayah ke depan ya."


Lea mengangguk. Richard hendak beranjak, namun tiba-tiba Lea menarik tangannya, hingga Richard akhirnya duduk kembali.


"Kenapa?" tanya Richard heran.


"Yah, ayah tuh sebenernya mau memilih siapa?" Kali ini Lea yang bertanya.

__ADS_1


Richard diam lalu menarik nafas panjang.


"Ayah sebenarnya mau pilih ibu kamu." Richard menjawab seraya menatap mata Lea. Sementara yang ditatap agak terkejut.


"Setelah ayah pikir, perasaan ayah lebih berat ke dia. Tapi Dian, kamu tau kan hubungan ayah sama dia sudah sejauh apa?. Ayah nggak mungkin nggak bertanggungjawab. Ayah nggak tega ninggalin dia."


"Ayah tuh cinta sama ibu apa kak Dian?. Karena kan bisa aja perasaan kita lebih condong terhadap seseorang, tapi itu bukan cinta. Simpati misalnya, atau sekedar sayang, ingin melindungi dan lain-lain." ujar Lea.


Richard menghela nafas.


"Ayah cuma cinta sama satu orang, namanya Cassandra."


Richard menjawab pertanyaan Lea sambil melempar pandangan ke suatu sudut.


"Cewek mana lagi itu yah?" tanya Lea.


"Ayah mah banyak banget, sampe Cindy temen aku pun ayah gebet." lanjutnya kemudian.


Richard tertawa kali ini.


"Koq kamu tau soal itu?" tanya Richard pada Lea.


"Ya tau aja pokoknya, informan di kampus kan banyak." jawab perempuan itu.


"Richard makin tertawa.


"Ayah cuma kasihan sama Cindy, nggak ada perasaan apa-apa dan nggak punya niat apapun juga."


"Tapi yah, kata teman aku keluarga Cindy tuh matre parah. Udah banyak cowok Cindy yang di porotin sama keluarganya."


"Ayah tau itu koq. Ayah pernah nggak sengaja baca chat dari keluarganya, yang nyuruh dia buat minta ini itu ke ayah. Kayaknya dia cerita ke keluarganya kalau lagi dekat sama ayah, padahal anaknya baik. Dulu waktu ayah nggak sengaja nabrak dia, dia justru nggak mau ayah ganti rugi. Dia nolak sampe beberapa kali."


"Iya." ujar Richard sambil menghela nafas.


"Oh ya, ayah tadi belum jelasin ke aku. Cassandra itu cewek mana lagi?"


Richard kembali membuang pandangannya kali ini.


"Dia udah nggak ada." jawab pria itu.


"Nggak ada maksudnya pergi gitu?" tanya Lea.


"Meninggal." jawab Richard.


"So, sorry." ujar Lea kemudian. Ia benar-benar tak tau mengenai hal tersebut, Daniel juga tidak pernah menceritakan padanya.


"Sakit yah?" tanya Lea lagi.


"Kecelakaan pesawat." jawab Richard.


"Oh."


Lea menatap sang ayah dengan perasaan yang gamang. Ia merasa bersalah telah membawa pembicaraan sampai sejauh ini.


"Soal cinta, ayah udah nggak ada Lea. Tapi kalau perasan, ayah masih bisa kasih semua itu. Ayah simpati dan sayang dengan ibu kamu. Tapi ayah juga sayang dan merasa bertanggungjawab atas Dian. Dia sudah ayah tiduri dan ayah nggak mau meninggalkan dia gitu aja. Sementara selama ini dia sangat sabar menghadapi ayah."


"Tapi yang jelas, Maryam nggak masuk hitungan kan?" tanya Lea

__ADS_1


"Dalam hitungan ayah nggak, dalam hitungan nenek kamu udah pasti."


Lea menarik nafas panjang.


"Berarti yang perlu ayah pilih adalah antara ibu dan kak Dian."


"Ya."


"Tapi ibu udah bisa mandiri yah, dia nggak akan apa-apa hidup tanpa suami." ujar Lea pada sang ayah.


Kali ini Richard yang menghela nafas panjang.


"Kamu setuju kalau ayah pilih Dian?"


Lea mengangguk.


"Masalah ibu dan adek-adek, kita akan jaga dan bantu mereka sama-sama." ujarnya kemudian.


Richard diam, namun sepertinya ia memang harus memilih Dian. Karena yang terpenting saat ini adalah persetujuan dari Lea. Sebab istri Richard nantinya juga akan menjadi ibu tiri Lea.


"Ya sudah, istirahat gih." ujar Richard.


"Makan dulu bro." ujar Daniel dari arah pintu.


"Iya." jawab Richard kemudian.


"Kamu mau makan nggak, ayah ambilin?"


"Aku masih kenyang yah. Nanti kalau laper, minta tolong mas Daniel aja."


"Ok."


Richard lalu meninggalkan kamar tersebut dan menyusul Daniel serta Ellio di ruang makan.


"Lele mau makan nggak?" tanya Daniel seraya menilik ke kamar.


"Nggak mas." jawab Lea.


"Oh ya udah."


Daniel kembali ke meja makan. Dan pada saat mereka tengah menikmati makanan, tiba-tiba Lea berteriak dari dalam kamar.


"Mas koq aku laper ya tiba-tiba."


Daniel, Richard dan Lea kompak melebarkan bibir hingga kuping, sambil menarik nafas akibat menahan kesal.


***


Dua hari kemudian, photoshoot yang ditunda akhirnya akan di realisasikan. Baik Daniel maupun Lea, kini tengah menunggu kedatangan sang fotografer.


Mereka telah menginformasikan pada bagian keamanan di bawah, untuk membawa saja ke atas jika ada tamu.


"Hallo pak, ada fotografer mau ketemu bapak." ujar salah satu sekuriti di telpon.


"Oh, bawa aja ke atas pak." ucap Daniel.


Tak lama fotografer yang dimaksud itu pun tiba.

__ADS_1


"Pagi." sapa sang fotografer. Lea tercengang, begitupula dengan Daniel.


"Hans?" ujar Lea tak percaya.


__ADS_2