Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Random (Extra Part)


__ADS_3

Ibu Lea dan mantan suaminya yakni ayah Leo terlihat kompak di toko. Leo memperhatikan semua itu dan senyum-senyum sendiri. Mereka terlihat begitu akrab sama seperti dulu, saat menjadi suami-istri. Sebelum pertengkaran hebat itu terjadi dan mereka akhirnya berpisah.


"Bu, pa. Kenapa nggak balikan aja sih kalian?"


Leo melontarkan pertanyaan yang membuat ayah dan ibunya mendadak terdiam dengan wajah yang memerah. Saat ini telah masuk jam makan siang dan mereka makan bersama di sebuah warung soto, yang ada di seberang toko.


"Leo, jangan melontarkan pertanyaan yang orang tua susah untuk menjawab." ujar sang ayah kemudian.


Ibunya terlihat meminum air putih di dalam gelas. Tampak jelas sekali ia seperti hendak menetralkan perasaan dan berusaha bersikap biasa. Meski sejatinya agak canggung serta salah tingkah.


"Lea ada menghubungi kamu?" Ibunya mengalihkan pembicaraan. Padahal tadi pagi juga Lea ada menelpon ibunya tersebut dan Leo mendengar hal itu.


"Mmm, nggak ada." jawab Leo.


"Lea ada di Singapore ya sekarang?"


Sang ayah ikut-ikutan bertanya, perihal yang sia sendiri sejatinya sudah tau.


Leo hendak tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya tersebut. Mereka persis ABG yang saling jatuh cinta, tapi gengsi mengakui.


***


"Darriel kangen nggak sama papa Rich?. Hmmh?"


Richard bertanya pada Darriel, saat cucunya tersebut berada dalam gendongan. Mereka terlihat berjalan-jalan di sekitar tempat makan.


Karena di negara itu area merokok sangat-sangat terbatas. Maka Richard tenang membawa Darriel dimuka umum. Sebab tak ada yang sembarangan menghisap serta menghembuskan asap rokok di manapun.


"Darriel kalau ada ayah, anteng." ujar Lea lagi.


"Emang Richard tuh pawang anak kecil." ujar Ellio.


"Emang iya?" tanya Lea.


"Segala anak kecil tuh nempel kalau sama dia. Beda sama gue, apalagi laki lo noh." Ellio mengarah pada Daniel dan Daniel pun mendadak tertawa.


"Eh, itu dulu ya. Sekarang Darriel nempel-nempel aja tuh sama gue." ujarnya membela diri.


"Iya karena lo bapaknya, jadi si Darriel mau. Coba kalau dia bayi orang lain, udah takut duluan ngeliat lo."


"Itu Danisha mau gue gendong."

__ADS_1


"Ya karena adek lo."


Ellio masih berusaha memojokkan Daniel, sementara Daniel kian terbahak.


"Emang dulu kenapa sih, om?" tanya Lea penasaran.


"Daniel tuh jahil kalau ngeliat bayi orang, di tangisin mulu sama dia. Di lewein, di pelototin." ujar Ellio.


"Jahat kamu mas." tukas Lea.


"Abisnya ada tau Le, kadang anak kecil tuh yang ngeselin. Bawaanya pengen nangisin aja." ujar Daniel.


"Tuh kan, nggak bohong gue." ucap Ellio lagi.


Dan lagi-lagi Daniel tertawa.


"Kamu mah bener-bener." tukas Lea.


"Heheee."


Tiba-tiba Darriel tertawa dengan kencang. Membuat Lea, Daniel dan Ellio sontak menoleh.


"Dia ngeliat anak itu." ujar Richard seraya mengarah pada anak kecil umur tiga tahun yang memakai kostum sapi.


"Oh." Lea tertawa, begitu pula dengan Daniel dan Ellio.


"Heheee."


***


"Sen, pulang. Udah beberapa hari kamu nggak pulang, papa khawatir sama kamu."


Reynald mengirim pesan pada Arsen, yang saat ini tengah berada di sebuah area penanaman hutan kembali di sebuah provinsi.


"Arsen baik-baik aja, pa. Nanti Arsen pulang. Lagipula kan Arsen kuliah, nggak mungkin disini juga selamanya." balas Arsen.


"Tapi kamu baik-baik aja kan?. Nggak ada luka atau apa?" tanya Reynald lagi.


"Nggak ada, pa. Papa percaya sama Arsen." lanjut pemuda itu.


"Ya sudah kalau emang begitu. Tetap jaga diri, jaga kesehatan. Hormati dan jaga sopan santun ke warga sekitar tempat itu. Jangan songong dan kalaupun kamu nggak percaya takhayul, kalau disana ada kepercayaan apa dan nggak boleh apa. Kamu dengarkan dan turuti aja."

__ADS_1


"Iya, pa. Kalau soal itu Arsen udah ngerti koq. Papa jangan kesehatan ya disana."


"Iya." jawab Reynald.


Mereka pun lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.


***


"Tadi soal omongan Leo tentang kita, jangan diambil hati ya." ujar ayah Leo pada sang mantan istri.


Ibu Lea mengangguk, namun dengan wajah yang tersipu malu. Ayah Leo pun sejatinya masih canggung. Sedang Leo sudah pamit pulang sejak beberapa menit yang lalu.


Sementara itu di suatu tempat, Vita dan Nina tampak sibuk mengurusi kiriman barang. Kedua sahabat Lea itu kini berbisnis suplemen kesehatan.


Sejak tadi ada puluhan orderan yang masuk dan berhubung bisnis tersebut baru di rintis, hanya ada mereka berdua yang bertugas untuk packing. Mereka belum berani merekrut karyawan lain. Mungkin nanti jika keuangan mereka sudah semakin lancar.


"Nin, yang ini nanti diambil kan sama ekspedisi?" tanya Vita seraya menunjuk ke arah sebuah karung yang berisi hampir setengah dari paket.


"Iya, ini nanti diambil." ujar Nina.


"Ya udah, berarti yang ini yang dianter?" tanya Vita lagi seraya menunjuk ke banyak paket yang lain di keranjang.


"Iya, ini dianter." jawab Nina.


"Gue aja yang nganter, sekalian gue mau beli es boba." ujar Vita.


"Serius, lo mau nganter sendirian?" tanya Nina


"Iya nggak apa-apa, naik motor ini. Gue mau beli boba, lo mau nggak?"


"Mau, tapi gulanya jangan banyak banget."


"Oke."


Vita memindahkan paket-paket di dalam keranjang tersebut ke sebuah karung lain. Kemudian ia mengikatnya lalu membawa paket itu ke ekspedisi terdekat, dengan menggunakan sebuah sepeda motor.


Ia dan Nina menikmati pekerjaan baru mereka. Ternyata berbisnis pun hasilnya lumayan, dan lebih terasa nikmat ketimbang menjadi seorang sugar baby. Terlebih sugar baby simpanan, bukan istri resmi.


Hidup kalau mau berusaha, maka ada saja jalannya. Intinya punya kemauan dulu, jangan apa-apa ingin yang instan. Sebab yang instan, kadang hilangnya juga instan. Bahkan karma yang menyertainya dibayar kontan.


Lebih baik berusaha dan mengandalkan tenaga sendiri. Daripada berharap di jadikan Putri, tetapi makan hati.

__ADS_1


__ADS_2