
"Hahaha."
Lea tertawa mendengar cerita Daniel mengenai tingkah laku Ellio saat di rumah sakit.
"Sampe segitunya mas, om Ellio?"
"Iya, sampe takut banget kalau mukanya kenapa-kenapa. Padahal udah tua juga."
"Hahaha." Lea kembali tertawa.
"Tapi tadi udah dikasih resep obat?" tanya Lea.
"Udah."
"Mas juga udah mandi kan?"
"Udah, udah clean semua. Sampe mobil udah aku sterilkan juga. Dan besok jangan dulu pake mobil itu, takut kamu ketularan."
"Iya mas, aku juga belum pernah kena cacar air soalnya."
"Iya makanya."
"Dert."
"Dert."
Terdengar notifikasi panggilan. Lea dan Daniel sama-sama melihat ke arah handphone Daniel. Dan disana tertera nama Grace. Daniel menatap Lea seakan meminta persetujuan.
"Angkat aja mas." ujar Lea.
Pria itu pun kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo."
Dan terdengarlah suara Grace di seberang, wanita itu berbicara panjang lebar.
"Ok." jawab Daniel kemudian.
Tak lama percakapan tersebut pun di akhiri.
"Kenapa mas?" tanya Lea.
Daniel menghela nafas.
"Daddy." jawabnya dengan nada lesu.
"Dia ditahan sama pacarnya." lanjutnya kemudian.
Lea diam, ia tidak tahu harus bersimpati atau apa. Di satu sisi Edmund adalah ayah kandung Daniel. Namun disisi lain Edmund juga memiliki perilaku yang buruk terutama terhadap istri dan anaknya sendiri. Daniel sendiri pun ikut bingung, apakah ia mesti kasihan atau justru malah senang.
Mereka berdua kini hanya terdiam, tanpa tau harus berkata apa-apa.
***
Esok hari.
"Lea kamu nggak kuliah?"
Daniel bertanya pada Lea, ketika hari sudah menjelang siang namun istrinya itu tak jua beranjak dari kamar.
"Males mas." ujar Lea seraya menggeliat, lalu menarik selimut.
"Loh kenapa?"
Daniel mendekati Lea lalu duduk disisi istrinya itu.
"Pokoknya males mas. Pengen tiduran aja."
"Kamu sakit?" Daniel meraba kening perempuan itu.
"Nggak, males aja."
"Ya udah, kamu istirahat aja di rumah."
__ADS_1
"Mas ngantor nggak?"
Daniel menghela nafas.
"Kamu mau aku di rumah?"
Lea mengangguk.
"Hari ini aja mas."
Daniel diam, kemarin ia sudah libur weekend. Namun sepertinya Lea memang sedang membutuhkan dirinya hari ini.
"Ok." jawabnya kemudian.
"Beneran mas?"
"Iya."
"Yeay." Lea memeluk Daniel dan begitupun sebaliknya.
"Pokoknya hari ini, kamu mau ngapain aku layanin." ujar Daniel.
"Ye, asik." Lea kembali memeluk Daniel. Kali ini Daniel mencium kening istrinya itu.
Maka hari pun dimulai dengan Daniel yang membuatkan sarapan. Ia benar-benar tak menyuruh Lea untuk sibuk pagi itu. Usai membuat sarapan, ia menyuapi Lea. Lalu pria itu lanjut membersihkan rumah. Bahkan Lea mandi pun, ia yang menggendongnya ke bathub.
"Mas, aku seneng deh pagi ini." ujar Lea.
Daniel hanya tertawa lalu memandikan istrinya tersebut.
"Kamu mau langsung dibersihkan atau mau berendam dulu?" tanya Daniel.
"Mau berendam dulu mas." jawab Lea.
"Ya udah, aku tinggal masak buat makan siang ya."
"Mas mau masak?"
"Iya, kamu panggil aku aja kalau udah bosen berendamnya."
Maka Daniel pun meninggalkan Lea sendirian di bathub. Ia pergi ke dapur untuk memasak makan siang. Meski ini masih jam 10 pagi, namun ia akan lega bila semua sudah di kerjakan. Jadi nanti siang mereka tinggal makan saja.
***
Beberapa menit berlalu, Lea pun selesai berendam. Namun agaknya terlalu kolokan jika ia memanggil Daniel. Maka ia menyelesaikan proses mandi itu sendirian. Tak lama ia pun keluar dari kamar usai berpakaian.
"Mas, masak apa?" tanya Lea pada Daniel yang masih berkutat di dapur.
"Nih."
Daniel memperlihatkan hasil masakannya yang sudah di letakkan di atas meja makan. Sisanya masih mendidih di atas kompor.
"Wah enak nih." ujar Lea.
"Iya dong, kan aku yang masak." jawab Daniel.
"Dert."
"Dert."
Ada sebuah panggilan di handphone Daniel, ternyata Ellio.
"Dan."
"Kenapa?"
"Lo sama Richard nggak ada niat buat jenguk gue apa?"
"Ntar gue bilang Richard dulu. Lo udah makan sama minum obat belum?"
"Udah minum obat tapi belum makan."
"Lah, harusnya makan dulu lah."
__ADS_1
"Orang gue bingung mau makan apa. Mau ngapa-ngapain juga mager."
"Ya udah, gue pesenin makan ya. Ntar biar dianter ojek online."
"Ya udah deh, mau." ujar Ellio.
"Kayak ngurus bayi ya mas." ujar Lea seraya tertawa.
"Emang." jawab Daniel.
"Biasanya lebih parah dari ini. Minta temenin lah, apa lah." lanjutnya kemudian.
Lea makin tertawa, sementara kini Daniel memesan makanan untuk sahabatnya tersebut. Usai mengurus bayi tua Ellio, Daniel pun menyelesaikan urusan dapurnya dibantu oleh Lea.
"Kamu duduk aja sayang, hari ini biar aku." ujar Daniel seraya membereskan semuanya.
"Udah nggak apa-apa mas, biar cepet kelar."
"Orang ini dikit doang koq."
"Ih nggak apa-apa kali." ujar Lea lagi.
Daniel pun membiarkan Lea membantunya. Sebab jika tidak, perdebatan itu akan panjang.
"Mau makan sekarang nggak?" tanya Daniel ketika semuanya telah beres.
"Ntar aja mas, nonton aja yuk...!" ajak Lea.
"Mau nonton?" tanya Daniel.
"Iya."
"Ya udah ayok."
Daniel dan Lea pun pindah ke atas, untuk menonton.
***
Di hari yang sama.
Sharon mendapat telpon dari pihak rumah sakit, bahwa kondisi ibunya mengalami drop. Sharon yang di temani Maya dan Tasya pun langsung datang kesana dan menemui dokter yang bertanggung jawab atas sang ibu.
Dokter mengatakan jika ibunya memerlukan tindakan yang lebih serius. Dan itu tentu saja harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
Kini Sharon pun termenung di kursi ruang tunggu pasien. Ia benar-benar bingung memikirkan biayanya.
"Apa tanah yang di bogor gue jual aja ya?"
Sharon bertanya pada Maya dan juga Tasya.
"Biar gue tinggal di kontrakan aja." lanjutnya kemudian.
"Tapi Sha, sayang kalau sampai itu terjual juga." ujar Maya.
"Iya bener, Sha. Seenggaknya itu bisa jadi tabungan buat nanti-nanti." timpal Tasya.
"Terus gue harus cari uang gimana Mau, Tas. Gue aja masih kuliah, kerja pun mau kerja apa."
"Ya apa kek, lo coba bikin YouTube channel, jadi selebgram gitu."
"Tapi kan buat mencapai puncak dan menghasilkan uang, kita butuh waktu." ujar Sharon.
"Iya sih." Maya menatap Tasya dan begitupun sebaliknya.
"Terus gimana dong?" tanya Maya lagi.
"Lo udah cari kerja?"
"Udah juga, tapi gaji paling gede 3 juta. Itupun gajian baru bulan depan. Sedangkan nyokap gue butuh berkali-kali lipat dari itu."
Sharon melempar pandangannya ke suatu sudut. Kini perempuan itu benar-benar merasa bingung. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba ada notifikasi pesan yang masuk ke handphone nya.
"Sharon, ini om Herman. Kalau kamu butuh bantuan om, hubungi om di nomor ini ya."
__ADS_1
Sharon terdiam, dari mana teman ayahnya itu mendapatkan nomor handphonenya. Namun, tawaran yang dikatakan Herman tersebut sedikit mengusik pikirannya kini.