Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sebuah Karma


__ADS_3

"Apa kamu bilang?. Perempuan itu hamil?"


Sang ayah bertanya pada Marvin dengan penuh keterkejutan. Ketika akhirnya pria itu sembuh total dan Marvin memberanikan dirinya, untuk mengatakan soal Clarissa.


"Iya, pa." jawab Marvin seraya menunduk.


Nafas sang ayah terdengar begitu memburu, sementara sang ibu tampak begitu marah.


"Kamu itu sudah di jodohkan dengan Helen, sekarang kamu menghamili perempuan lain?" ujar ayahnya dengan kekesalan yang berusaha keras di tahan.


"Papa itu sudah memiliki perjanjian dengan ayahnya Helen. Mau di tarok dimana muka papa, kalau papa membatalkannya." lanjut pria itu lagi.


Marvin masih saja menunduk, ia tau posisinya salah. Namun ia tetap harus memperjuangkan anak yang tengah di kandung Clarissa. Sebab calon bayi itu kini melemahkan sebagian hatinya yang jahat.


"Maafin, Marvin pa, ma." Marvin mulai memberanikan diri untuk berkata.


"Marvin cuma memikirkan nasib anak itu. Dan lagipula dia hamil sebelum papa dan mama memiliki rencana menjodohkan Marvin sama Helen." lanjutnya lagi.


Ayah Marvin memejamkan mata sambil menarik nafas panjang. Ia kini menatap puteranya itu lekat-lekat. Di satu sisi ia marah dan kecewa.


Tapi disisi lain, ia mulai melihat kedewasaan dalam diri Marvin. Yang mana selama ini dirinya selalu egois dan jarang memikirkan orang lain. Tapi kini ia memikirkan nasib darah dagingnya sendiri.


"Oke, kamu bawa perempuan itu ke hadapan papa dan mama." ujar ayahnya itu pada Marvin.


Sementara sang ibu sudah hendak meledak, namun sang ayah melihat kepada istrinya itu. Hingga sang istri pun memilih mengesampingkan ego.


"Oke, mama setuju." ujar ibu Marvin kemudian. Marvin pun tersenyum lega. Setidaknya satu langkah telah terlewati.


***


"Lo udah pastikan?"


Daniel bertanya pada Richard. Ketika mertuanya itu menelpon, dan mereka konferensi call bersama Ellio.


"Orang gue ngeliat di depan mata kepala gue sendiri koq." jawab Richard kemudian.


Daniel dan Ellio sama-sama menghela nafas panjang. Mereka terdiam untuk sejenak, sebab bingung harus berkata apa. Sedang Richard berada dalam sebuah kekecewaan yang besar saat ini.


"Ya udah, sekarang lo mau gimana?" tanya Daniel.


"Lo harus ketemu dan bicara, bro." lanjutnya lagi.


"Bener, perjelas aja kalau misalkan lo mau udahan atau gimana." timpal Ellio.


Kali ini Richard yang menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Iya, nanti. Gue butuh healing dulu hari ini." ucap pria itu.


Kemudian Daniel dan Ellio berusaha menghibur Richard, selama beberapa saat ke depan.


***


Clarissa memeluk Marvin, sebab kini ia merasa jika pria itu serius padanya. Tak salah ia menggebu ingin hamil, sebab jalan menuju kekayaan kini telah terbuka lebar.


Bayi dalam kandungannya tak pernah salah, tapi otak Clarissa lah yang tetap salah. Ia memanfaatkan calon bayinya demi kepentingan pribadi. Padahal anak itu suci dan tak tau apa-apa.


"Jadi kita akan ketemu orang tua kamu?" tanya Clarissa pada laki-laki itu.


"Iya, mereka kayaknya nggak keberatan." jawab Marvin.


Clarissa tampak senang dan kembali memeluk Marvin. Hari itu Marvin membelikannya sebuah gaun yang indah, serta membawanya pergi ke salon yang mahal.


Clarissa di dandani secantik mungkin. Sedang di kediamannya, kedua orang tua Marvin bersiap. Sejatinya mereka masih sakit hati dengan kelakuan Marvin. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Mau diapakan lagi, semua masih akan tetap sama. Perempuan itu mengandung calon cucu mereka. Maka mau tidak mau mereka harus menerima.


***


Malam harinya mereka semua bersiap. Termasuk ada om dan tante Marvin juga yang hadir. Sebab tadinya ini akan menjadi makan malam keluarga Marvin dan keluarga Helen. Meski kini jadinya malah meleset.


"Aku cantik kan?"


Clarissa bertanya pada Marvin di dalam mobil, ketika mereka telah berjalan menuju kediaman orang tua pria itu. Marvin tersenyum, lalu menggenggam tangan Clarissa.


Dalam tempo beberapa menit saja, akhirnya mereka tiba. Marvin membukakan pintu mobil dan membantu Clarissa melangkah keluar. Untuk pertama kalinya Clarissa melihat rumah orang tua Marvin yang begitu megah.


Rasanya ia ingin meloncat-loncat saking senangnya. Marvin memberikan tangannya pada wanita itu, dengan kepala tegak bak nyonya besar Clarissa menggandeng Marvin. Kemudian mereka melangkah kedalam.


Tak ada hal yang terjadi, sampai kemudian mereka tiba di dekat meja makan. Keluarga Marvin menatap ke arah Clarissa dan begitupun demikian.


Saat itulah petir seolah menyambar, sebab ayah dan om Marvin tiba-tiba berdiri dengan mata melotot dan kemarahan yang memuncak di kepala. Marvin kaget da tak mengerti..


Clarissa sendiri begitu gemetar jadinya. Sebab wajah ayah dan om Marvin terasa begitu familiar.


"Perempuan ini yang mau kamu nikahi?"


Ayah Marvin berkata dengan nada berteriak. Membuat Marvin menjadi kian terkejut.


"Papa kenapa sih?. Kita baru sampai loh, pa. Dan papa udah janji mau bersikap baik sama siapapun yang Marvin bawa ke hadapan papa?"


"Dia ini pelacur simpanan teman papa."


Marvin seperti dihujani batu besar. Ia terperangah dan kini genggaman tangannya pada tangan Clarissa menjadi lemah.

__ADS_1


"Marvin, itu nggak bener." Clarissa berusaha membela diri.


"Jangan-jangan dia bukan mengandung anak kamu." Om Marvin menimpali.


Marvin makin tercabik-cabik hatinya dan benar-benar menjadi beku terhadap Clarissa.


"Marvin itu nggak bener, ini anak kamu. Ini anak kamu, aku bersumpah."


"Nggak usah bermain sumpah kamu." Ayah Marvin kembali berteriak.


"Kamu itu masih berhubungan dengan teman saya, baru kemarin teman saya cerita habis transfer ke rekening kamu. Jangan membodohi anak saya."


"Itu nggak bener, om. Saya mencintai Marvin."


Clarissa berkata dengan nada frustasi, sebab harta yang sudah di depan mata kini seperti terlepas begitu saja.


"Dan kamu juga seorang sugar baby yang mampir kesana-kemari, sebelum sama teman kakak saya. Kamu terkenal diantara banyak pengusaha yang doyan selingkuh."


Om Marvin makin menjadi kompor. Sementara Marvin kini sudah naik ke ubun-ubun kemarahannya.


"Pergi kamu dari hadapan aku!" perintahnya kemudian.


Hal tersebut amat sangat melukai hati Clarissa, yang terbiasa di puja dan di kejar-kejar.


"Kamu dengar kan perintah anak saya?" Ibu Marvin yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara.


"Pergi dari sini!" lanjutnya lagi.


"Tapi Marvin, ini anak kamu. Aku bisa buktikan nanti degan tes DNA."


"Aku nggak percaya sama kamu."


"Sayang, kamu harus percaya sama aku."


Clarissa masih berusaha, bahkan kini ia memegang tangan Marvin. Namun Marvin menepis tangan perempuan itu dengan kasar. Clarissa menangis, namun tak ada satupun yang mengasihaninya.


Bahkan Marvin memalingkan wajah, saking marahnya ia. Padahal ia adalah salah satu pria yang cukup gampang tersentuh hatinya.


"Pergi!" ujar Marvin sekali lagi.


"Nggak, kamu harus nikahi aku. Aku hamil anak kamu."


Ayah Marvin memberi kode pada orang-orangnya untuk membawa Clarissa keluar. Maka Clarissa pun dibawa paksa.


"Kamu harus nikahi aku, Marvin. Aku hamil anak kamuuuu. Marviiiiin."

__ADS_1


Lalu hening.


__ADS_2