
Daniel janjian dengan Lea makan malam di all you can eat Korean. Ia juga mengajak Marsha dan Ellio serta Richard. Namun Richard bilang ia akan datang sedikit terlambat. Karena harus menemui ibunya terlebih dahulu, untuk sebuah urusan.
Alhasil kini Daniel dan yang lain makan tanpa pria yang satu itu. Darriel sendiri tak diajak karena asap. Ia dititipkan di rumah ibu Lea, sebab ibu Lea mengatakan rindu pada cucunya tersebut.
"Si Hanif bininya selingkuh, bro."
Daniel membuat Lea, Ellio, dan Marsha tersedak di waktu yang nyaris bersamaan.
"Uhuk."
"Uhuk."
"Uhuk."
Pasalnya ketiga orang ini tau siapa istri Hanif yang dimaksud. Dan mereka juga tau jika istri Hanif tersebut tengah dekat dengan Richard saat ini.
"Koq pada template gitu lo pada reaksinya." ucap Daniel.
"Namanya juga kena asap pembakaran."
Ellio beralasan. Padahal ia tau persis penyebabnya apa.
"Koq bisa istrinya si ikan patin, eh pak Hanif selingkuh?"
Marsha berbasa-basi, agar dianggap jika ia tidak tahu-menahu mengenai hal tersebut.
"Nggak tau, apa Hanif-nya yang halu kali. Masa iya perempuan kayak Nadya bisa selingkuh. Nggak percaya gue." ujar Daniel.
Lea, Ellio, dan Marsha saling bersitatap satu sama lain.
"Iya sih, kayaknya nggak mungkin banget. Iya kan Le?"
Ellio meminta persetujuan Lea, dan Lea pun jadi gelagapan seraya mencoba sok asik dan cengar-cengir.
"Hehe, iyalah nggak mungkin. Kalau si Susi tuh yakin misalkan dia selingkuh." jawab Lea.
"Bener banget." Marsha menimpali.
"Bisa jadi si Susi yang memfitnah si Nadya. Iya nggak?" lanjutnya kemudian.
Daniel agak berpikir.
"Mmm, iya juga sih." ujarnya.
"Masih lebih masuk akal itu mah." lanjutnya lagi.
"Udah ah mas, ngapain kita ngomongin rumah tangga orang. Mending mas makan aja nih, mau yang barbeque, bulgogi atau saos samyang?" tanya Lea seraya memperlihatkan daging-daging sapi slice yang belum di bakar.
"Aku mau yang bulgogi aja." jawab Daniel.
Maka Lea pun lalu membakar daging slice dengan bumbu Korean tersebut. Mereka lanjut makan dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Tak lama Richard pun tiba dan bergabung bersama mereka.
__ADS_1
***
Malam itu Hanif benar-benar gelisah. Pasalnya Nadya sedikitpun tak menjawab panggilan ataupun membalas pesan makian yang dikirim olehnya.
Sebab Nadya telah menggunakan handphone serta nomor lain dan sengaja tak memberitahukan Hanif mengenai hal tersebut.
Saat ini Nadya berada dalam kontrol Putri, sang asisten rumah tangga. Putri mengatakan jika Nadya ingin serius bercerai dari Hanif, maka jangan ada kontak langsung terlebih dahulu.
Sebab bisa jadi Hanif akan merayu majikannya itu kembali. Atau bisa jadi malah memaki dan mencelakai Nadya. Nadya diajak janjian kemudian di aniaya misalnya.
"Liat nggak bu, berita di TV, di YouTube. Banyak yang membakar istri, membunuh dan lain-lain. Hanya karena sakit hati istrinya minta cerai."
Begitulah bunyi omongan Putri. Dan Nadya pun sejatinya juga membuka media, serta melihat banyaknya tayangan miris akhir-akhir ini.
Ia juga takut hal itu akan kejadian padanya. Mengingat Hanif selama ini cukup tempramental, meskipun terbilang jarang mereka bertengkar.
"Ibu sebaiknya ganti handphone dan nomor. Handphone yang satu itu simpan aja di lemari." ujar Putri lagi.
Maka Nadya pun menuruti hal tersebut. Arkana juga sekarang harus terus diawasi oleh supir. Nadya berpesan agar anaknya itu tak ikut Hanif, apabila Hanif mengajaknya pergi.
Bukan perkara ingin memutus tali silaturahmi antara ayah dan anak. Tapi demi keselamatan dan kenyamanan bersama, sebelum sidang putusan cerai di buat oleh pengadilan.
***
"Mas, enak kali ya kalau kita punya jet pribadi."
Susi yang masih menderita sindrom OKB alias orang kaya baru, kini berkata pada sang suami. Ia sama sekali tak peka pada raut wajah Hanif yang seperti membawa beban ratusan kilo. Akibat memikirkan sikap Nadya yang spontan meminta cerai.
"Mas."
"Eh, iya ada apa?"
Hanif tersadar dan berusaha bersikap manis pada cinta matinya itu.
"Orang ngomong, malah diem aja." ucap Susi.
"Mikirin siapa sih?" ambeknya kemudian.
"Nggak mikirin siapa-siapa koq sayang. Cuma mikirin masa depan kita nanti." dusta Hanif.
"Ngapain dipikirin banget, orang kita kan kaya." ucap Susi.
Hanif tersenyum meski agak kecut. Sebab ini bukan mengenai gal tersebut, melainkan karena perkara yang lain.
"Aku pengen naik jet pribadi mas." ucap Susi lagi.
"Buat apa?. Kan kamu lagi hamil juga sekarang." tukas Hanif.
"Ya buat nanti, kalau udah lahiran."
Hanif menghela nafas, sejatinya percakapan ini agak mengganggu. Namun Hanif tak mungkin menceritakan masalahnya pada Susi. Bisa-bisa nanti Hanif dianggap hanya memikirkan Nadya. Punya istri banyak ternyata belum tentu bisa dijadikan tempat curhat.
__ADS_1
"Jet Pribadi itu mahal loh." ujar Hanif.
"Belum harga jet nya, biaya kepengurusan, biaya hanggar dan lain-lain." lanjutnya kemudian.
"Kan mas kaya, ngapain mesti takut?"
"Bukan masalah takut atau nggak. Kepemilikan jet pribadi itu rumit, sayang. Kalau memang kamu mau naik, nanti sewa aja."
"Beneran mas?" tanya Susi antusias.
"Iya, bener. Nanti kita sewa, setelah kamu melahirkan." ujar Hanif.
"Wah asik."
Susi tampak senang bukan kepalang, kemudian secara serta merta ia memeluk Hanif. Sementara yang di peluk kini menarik nafas, tanda ia sebenarnya enggan membicarakan hal tersebut.
***
"Delil, ayo pulang!"
Lea dan Daniel menjemput Darriel ke rumah ibu Lea. Tepat setelah acara makan all you can eat selesai.
"Uwawa."
"Heheee."
Darriel berceloteh sambil tertawa.
"Tadi tidur lama, Le." ucap sang ibu seraya meletakkan minuman diatas meja.
"Repot banget bu." ujar Daniel.
"Nggak apa-apa, ayo diminum!"
Tak lama ayah tiri Lea keluar dari dalam kamar dan menghampiri mereka semua. Lalu mereka pun berbincang-bincang sambil minum teh. Selang beberapa saat Lea dan Daniel pamit sambil membawa Darriel.
Di sepanjang perjalanan Darriel terus berceloteh. Seakan dirinya tak rela diajak pulang ke rumah.
"Dia kalau habis diajak kemana gitu, pasti nggak mau pulang ya mas." ucap Lea seraya menoleh sejenak pada Darriel yang duduk di car seat tengah.
"Namanya juga Darriel." ucap Daniel sambil tersenyum.
"Maunya jalan melulu kayak kamu." lanjutnya lagi.
"Hokhoaaa."
"Heheee."
Darriel terus berceloteh dan tertawa-tawa. Namun kemudian ia kembali kepada mode seakan dirinya menggerutu kesal. Kening bayi itu berkerut, lalu ia mengeluarkan suara-suara aneh yang besar.
"Uwawawa."
__ADS_1
"Brzrzrzrzr."
"Heheee."