Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cerita Hari Ini


__ADS_3

"Brengsek."


"Praaank."


Clarissa menjatuhkan piring dan gelas yang ada di meja makan apartemennya. Lanjut ia mengamuk dan mengacak-acak tempat itu dengan kesal.


Ia kemudian duduk diam, diantara pecahan tersebut. Sambil terus mengingat Daniel dan juga wajah Lea yang menurutnya sangat menyebalkan.


Sementara di lain pihak, Daniel kini membelai rambut sang istri dan mencium keningnya berkali-kali. Mereka berdua tengah berbaring di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang hanya ditutupi oleh selimut.


Pakaian yang melekat di tubuh mereka telah tertanggalkan, karena tadi mereka habis bercinta dalam durasi yang cukup lama.


"Mas."


"Hmm?"


"Ibu kamu sekarang dimana?"


"Kenapa kamu nanyain itu?" tanya Daniel pada Lea.


"Nggak apa-apa, pengen tau aja. Kalau nggak boleh, ya udah."


Daniel tersenyum sangat tipis, ia masih membelai rambut istrinya itu.


"Aku nggak tau dia dimana, nggak pernah ketemu lagi juga. Terakhir waktu aku SMA."


"Lama banget, mas."


"Ya, kabarnya sekarang dia tinggal di Turki. Dia kan nikah sama orang sana."


"Ibu mas punya anak lagi?"


"Katanya sih, iya. Aku nggak pernah kepoin hidupnya dia juga. Orang dia nggak pernah berusaha juga, buat tau kabar aku. Padahal dia tau nomor telpon rumah."


"Nggak pernah ketemu di sosial media gitu?" tanya Lea lagi.


"Richard yang tau sosmed nya dia. Dia pernah kasih tau, tapi aku males ngeliatnya."


"Oh."


"Kenapa, kamu aneh ya ngeliat keluarga aku begitu. Yang satu nggak jelas, satunya lagi ngabur." tanya Daniel.


"Nggak juga sih, mas. Orang keluarga aku juga sama nggak jelasnya koq." Lea berujar seraya tertawa, diikuti tawa Daniel.


"Tapi mas orangnya perhatian dan penyayang. Biasanya kan orang yang kedua orang tuanya cuek, cenderung jadi pribadi yang sama."

__ADS_1


Daniel menghela nafas.


"Waktu aku kecil, everything was perfect in my life. Mereka adalah orang tua yang cukup perhatian dan penyayang. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu, suasana rumah mulai berubah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga Richard dan juga Ellio."


"Mas sering tinggal di rumah mereka gitu?"


"Ya, karena dirumah daddy selalu bawa perempuan. Nggak pernah ada waktu buat berinteraksi sama aku. Sama kayak orang tuanya Ellio."


"Oh ya?"


"Ya, orang tuanya Ellio itu juga kurang perhatian banget sama Ellio. Tapi bedanya mereka sibuk kerja, bukan selingkuh sana-sini."


"Iya, mas kan pernah janji mau cerita. Kenapa om Ellio sampe mau bunuh diri segala."


"Ellio itu dari kecil diasuh pembantu. Orang tuanya itu super sibuk, dua-duanya gila kerja. Kadang di meja makan pun, mereka masih sibuk sama urusan pekerjaan. Ellio sampe ngerasa kalau dirinya itu dianggap nggak ada."


"Sampe segitunya mas?"


"Iya, makanya Ellio doyan banget berantem, tawuran. Ada aja masalah yang dia buat di sekolah, cuma sekedar buat cari perhatian orang tuanya. Tapi tetap aja orang tuanya kayak nggak peduli, pada akhirnya dia mulai cari perhatian dengan cara yang ekstrim. Melukai diri sendiri, mau bunuh diri dan lain-lain."


"Kalau orang tuanya om Richard?"


"Mereka cenderung stabil, aku sama Ellio nyaman banget kalau udah di rumah Richard. Orang tuanya memperlakukan kami seperti anak sendiri. Makanya kalau orang tua Richard lagi pergi ke luar negri untuk waktu yang lama, kita bertiga pasti bakalan kesepian banget."


"Apa sekarang mas masih kesepian?" tanya Lea pada Daniel. Suaminya itu tersenyum tipis.


"Gimana aku mau kesepian lagi, kalau disini ada yang bisa aku pegang-pegang."


Daniel mulai tertawa dengan ekspresi yang begitu mesum.


"Mas, jangan mas. Kan udah tadi." ujar Lea seraya berusaha menghindar, namun sambil tertawa-tawa. Daniel menyerang Lea dengan ciuman demi ciuman, yang ia hujankan ke hampir seluruh tubuh. Sambil tertawa-tawa pula tentunya.


"Mas, ampun."


"Nggak akan."


Keduanya lalu saling berpelukan satu sama lain, sambil masih terkekeh-kekeh.


***


Gelombang protes terus berdatangan ke SB Agency. Mami Sonia dan mami Bianca semakin terdesak, oleh banyaknya sugar baby yang menuntut kompensasi.


Karena rata-rata dari mereka telah meninggalkan sugar daddy mereka. Lantaran apa yang dijanjikan oleh SB Agency tidaklah sesuai dengan kenyataan.


"Siapa lagi yang mesti kita ajak gabung, supaya kita sama-sama menuntut agency ini. Semakin banyak  yang menuntut, semakin besar peluang kita untuk memenangkan kompensasi yang pernah dijanjikan sama kita. Deposit yang pernah ditanam di agency ini oleh mantan sugar daddy kita, itu adalah hak kita."

__ADS_1


Salah seorang sugar baby tampak sangat berapi-api di depan SB Agency. Ia tengah berbicara pada sugar baby lain.


"Gue ikut."


Tiba-tiba seseorang muncul, dan itu tidak lain adalah Vita. Para sugar baby yang berkumpul, ada yang mengenalnya. Namun ada pula yang tidak. Pasalnya tak semua yang protes itu satu angkatan dengan Vita.


"Vit."


Salah satu sugar baby yang kenal, menghampiri Vita.


"Sugar daddy gue selingkuh dan gue udah nggak tahan lagi. Selingkuhannya udah hamil dan dia paksa gue untuk nerima, kalau gue masih pengen sama dia dan masih pengen uangnya dia. Gue nggak mau diperlakukan kayak gitu." ujar Vita kesal.


Sesaat kemudian ia pun masuk, untuk menemui mami Sonia dan juga mami Bianca. Guna melayangkan protes pada kedua orang tersebut.


***


"Hueeek."


Lea muntah di pagi hari, dan itu cukup banyak. Sesaat setelahnya ia mengambil antasida dan meminum obat tersebut. Ia ingat beberapa hari ini, ia makan rujak mangga muda seperti orang yang kesurupan. Ia takut bila Daniel tahu, suaminya itu akan marah besar padanya.


Belakangan Lea tak dapat menghandle keinginannya untuk makan rujak buah, meski harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ia tau jika ia sering muntah akhir-akhir ini, namun apabila melihat tukang rujak yang mangkal di depan kampus. Lea selalu tak bisa menahan gejolak.


"Lea."


Daniel yang baru turun langsung menyapa Lea, pria itu hendak mengambil air minum. Kebiasaan Daniel ketika bangun tidur adalah, langsung mencari sumber air.


"Hai mas."


Lea balas menyapa sang suami dan berusaha keras untuk tersenyum di sela rasa mualnya yang masih tersisa.


Daniel tersenyum, lalu membuka kulkas dan mencari air dingin. Namun ketika minum, ia melihat sesuatu yang aneh pada diri Lea.


"Koq muka kamu pucat gitu?" tanya Daniel heran. Ia kini mendekat ke arah Lea.


"Nggak apa-apa koq mas, baru bangun tidur kadang suka gini emang. Putih-putih gimana gitu kulitnya." Lea berkilah, Daniel kemudian tertawa.


"Aku mau mandi dulu." ujar Daniel lalu beranjak.


"Mau sarapan apa mas?"


"Pancake."


"Ok."


Daniel kembali ke atas, sedang Lea kini membuat sarapan.

__ADS_1


__ADS_2