
"Aku masih sibuk banget, masih banyak urusan di luar kota. Nanti aku pulang beberapa hari lagi."
Suami Nina mengirim pesan singkat pada Imelda. Karena ia tak mungkin pulang ke rumah istrinya itu dalam keadaan penuh bekas pukulan.
Sebab Daniel banyak memukulnya di area wajah. Bisa-bisa Imelda akan curiga tentang apa yang telah terjadi pada diri suaminya tersebut. Tanpa suaminya sadari jika Imelda sudah mengetahui semua perkaranya dari Nina.
"Iya mas, aku tunggu."
Imelda membalas dan mengirim itu semua dengan wajah datar dan tanpa gairah sedikitpun. Hatinya jelas telah diliputi kekecewaan yang begitu tinggi. Namun ia juga sadar apa kekurangan yang ia miliki.
Sementara di lain pihak, Lea dan Daniel telah selesai makan. Mereka kembali ke ruangan tempat dimana ibu Lea di rawat. Namun keduanya tertegun, ketika melihat Richard yang tengah berbicara dengan ibu La sambil menggenggam tangannya.
Lea dan Daniel yang sejatinya ingin masuk, kini agak menahan diri. Mereka memberikan ruang bagi keduanya untuk saling berinteraksi tanpa di ganggu. Setelah beberapa saat Richard pun keluar dari ruangan tersebut.
"Yah makan dulu." ujar Lea seraya memberikan makanan yang tadi mereka beli untuk sang ayah.
"Ya bentar, ayah mau ke ruangan dokter dulu. Kalian ke dalam gih...!"
"Iya yah."
Richard melangkah.
"Yah."
"Iya." Richard menoleh ke arah anak dan menantunya.
"Kak Dian, tadi dia nanyain ayah."
Richard mengangguk, tak lama ia pun berlalu. Sementara kini Lea dan Daniel masuk ke ruangan, menemui ibu Lea.
***
"Kelar juga Nin, akhirnya."
Vita membantu Nina membereskan sebuah apartemen. Apartemen tersebut merupakan satu dari sekian warisan yang diberikan sang ayah kepada dirinya.
Nina minta di temani Vita, karena ia merasa sudah harus memiliki tempat tinggal sendiri yang aman dari jangkauan suaminya. Ia tak ingin terus menyusahkan Vita bahkan mungkin bisa mencelakakan temannya itu, andai ia masih terus berada di rumahnya.
"Thank you ya Vit, gue kayaknya mau mulai nempatin dalam waktu dekat."
"Kalau lo nggak berani sendirian, lo panggil aja gue. Gue siap koq nemenin lo kapan aja." ujar Vita.
"Beres." jawab Nina.
Mereka pun lanjut membuang barang-barang yang kira-kira tidak perlu.
Sementara di suatu tempat, Sharon saudara Nina tampak tengah termenung sendirian. Gadis itu mengingat perkataan dokter bahwasannya sang ibu butuh perawatan rujukan. Agar hasil pengobatannya bisa maksimal.
Namun bagaimana untuk merawat di rumah sakit yang lebih besar lagi, sedang ia kini tak menghasilkan uang sepeserpun. Ia hidup dari sisa tabungan yang sudah semakin menipis. Biaya pengobatan sang ibu bergantung pada benda dan juga properti yang ia jual.
Sharon tak terbiasa menghasilkan uang, ia terbiasa meminta dan selalu dipenuhi. Sedang segala asuransi yang diikuti sang ibu, gagal di klaim dengan berbagai alasan.
"Hhhh."
Sharon membenamkan wajah diantara kedua tangan yang bertumpu di meja. Suasana kafe yang tenang dan nyaman tersebut sama sekali tak membuat penat di kepalanya hilang begitu saja.
"Sendirian."
Seseorang menghampiri dan menyapanya. Sharon yang terkejut langsung mengangkat kepala.
__ADS_1
"Om Herman?"
Sharon mengenali salah satu teman ayahnya itu.
"Boleh om duduk?"
"Boleh om, silahkan...!" ujar Sharon.
"Kamu kenapa disini sendirian?" tanya Herman pada gadis itu.
"Nggak apa-apa om, lagi pengen sendirian aja."
"Ibumu apa kabar?" Lagi-lagi Herman bertanya.
"Dia, di rumah sakit om." jawab Sharon dengan nada cukup rendah, namun syarat akan kesedihan.
"Oh ya, sakit apa?"
Sharon pun mulai menjelaskan kondisi sang ibu, Herman begitu terkejut mendengarnya.
"Pasti kamu saat ini tengah kebingungan dan kesulitan kan?"
Herman mendadak memegang tangan Sharon. Membuat Sharon yang tadinya biasa saja, kini menjadi tidak nyaman secara tiba-tiba.
"Mmm, iya om." ujar Sharon seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Herman.
"A, sorry." ujar Herman seakan menyadari gelagat Sharon.
"Om cuma ingin membantu." lanjutnya lagi.
Sharon memaksakan sebuah senyuman, tak lama setelah berbasa-basi ia pun segera pamit.
***
Suster yang merawat Rangga selama beberapa waktu belakangan ini berujar. Usai ia membantu Rangga untuk kembali berbaring di atas tempat tidur. Pasca tadi ia membantu remaja itu untuk kembali belajar berjalan.
"Thanks." ujar Rangga lalu tersenyum.
Perawat itu pun tersenyum pada dirinya. Namun tak lama kemudian, terdengar suara pintu ruangan yang di buka.
"Selamat siang pak."
Perawat itu berdiri dan menyapa ayah Rangga. Sedang wajah Rangga seketika berubah, dari yang ramah menjadi sebegitu datar.
"Rangga, saya tinggal dulu." ujar perawat tersebut lalu berlalu. Tinggallah kini Rangga hanya berdua saja dengan sang ayah.
"Berapa kali Rangga bilang, Rangga nggak mau ngeliat papi lagi."
Ia berujar dengan nada yang begitu dingin pada ayahnya tersebut.
"Rangga, papi sudah minta maaf ratusan kali sama kamu. Papi tau papi salah, dan papi saat ini sedang ingin memperbaiki semuanya."
Rangga diam, ia tak menjawab sama sekali. Kebencian di hatinya masih sama seperti tadi.
"Rangga, papi cuma mau tau perkembangan kamu di setiap harinya. Papi benar-benar merasa bersalah. Papi janji, papi nggak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Tolong kasih papi kesempatan, nak. Papi mohon sama kamu."
Rangga masih saja bungkam, seolah hatinya telah benar-benar membeku.
"Rangga."
__ADS_1
"Minta maaflah sama mami." ujarnya kemudian.
"Kalau mami bisa memaafkan papi, mungkin Rangga akan pertimbangan untuk melakukan hal yang sama. Tapi kalau nggak, Rangga juga nggak bisa jamin. Rangga udah terlanjur luka."
Tatapan mata Rangga terlempar ke suatu sudut. Sejak ia siuman belum pernah ia menatap mata ayahnya itu sekalipun. Ia benar-benar membenci laki-laki yang sudah merusak mentalnya tersebut.
"Baik, papi aku terus coba untuk meminta maaf pada mami kamu."
Ayah Rangga berujar sambil menatap sang putera. Meski tak ada respon lagi yang diberikan oleh Rangga.
***
"Mas, aku ada jadwal periksa sore ini."
Lea berujar ketika ia dan Daniel terlah berjalan meninggalkan ruang tempat dimana ibu Lea di rawat. Richard bilang, ia akan menjaga ibu dari anaknya tersebut.
"Ya udah ayok, aku temenin."
"Abis itu kita makan waffle yuk mas, terus nonton."
"Mau nonton film apa?"
"Nggak tau, liat aja nanti film apa yang lagi tayang."
"Ya udah, kita berangkat sekarang aja. Jadi ntar selesai periksa, kita nontonnya di jam yang nggak terlalu malam."
Lea mengangguk.
"Lea."
Terdengar suara Richard dari arah belakang. Maka Lea dan Daniel pun menoleh.
"Nih handphone kamu nih tinggal."
Pria itu menyerahkan handphone milik sang anak.
"Ya ampun yah, koq bisa lupa aku."
"Makanya kalau pulang itu di cek dulu."
"Iya yah, makasih yah."
Lea kembali mencium tangan Richard, padahal sebelumnya ia telah melakukannya saat di dalam ruang rawat sang ibu.
"Pulang ya yah."
"Iya."
Richard berujar sambil melirik ke arah Daniel. Daniel pun jadi sewot setengah mati. Namun kemudian ia mendekat lalu ikut mencium tangan Richard, meski hatinya sangat ingin melempar Richard ke planet mars. Richard sangat suka melihat Daniel sewot karena tingkahnya.
"Pulang yah." Lea berujar sekali lagi.
"Ya." Richard menjawab seraya kembali memberikan lirikan bangsat pada Daniel. Sambil menghela nafas kesal, Daniel pun ikut berujar.
"Pulang yah." ujar nya kemudian.
Richard mengangguk sedikit, dengan gaya sok paling berwibawa. Tentu saja Daniel semakin ingin menghantam kepala sahabat sekaligus mertuanya itu dengan batu.
Tak lama Daniel dan Lea pun sudah terlihat menuju ke pintu lobi.
__ADS_1