Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Daniel Kepikiran


__ADS_3

"Coba, mulai hari ini kamu panggil saya mas El."


Marsha melepaskan pelukan sambil tersenyum dengan wajah yang memerah.


"Ayo, coba. Mas El."


"Ih, nggak mau. Nggak enak dengernya." ujar Marsha dengan nada merengek manja.


"Dih kenapa?" Ellio bertanya seraya tertawa.


"Aneh aja manggilnya mas, nggak terbiasa."


"Ya udah, coba panggil oppa. Oppa Ellio kyopta."


"Ih bapak apaan sih, nggak pantes tau nggak." Marsha makin sewot dan kesal namun terlihat menggemaskan bagi Ellio yang melihatnya.


"Koq nggak pantes, kan saya ganteng?" Ellio makin menjadi-jadi.


"Iya tapi kan bapak nggak Korea mukanya."


"Ya nggak apa-apa. Coba, oppa. Oppa El ganteng saraghae."


"Ih." Marsha memukul tangan Ellio.


"Sakit loh." ujar Ellio kemudian.


"Abisnya bapak ngeselin, saya geli masa manggilnya oppa."


"Masa kita pasangan, tapi kamu manggilnya bapak." ujar Ellio lagi.


"Ya nggak apa-apa dong, kan bapaknya anak-anak saya." ujar Marsha dengan pipi yang kian memerah.


"Apa kamu bilang?. Coba sekali lagi, saya pengen denger." pinta Ellio


Maka wajah Marsha makin seperti udang rebus.


"Coba bilang sekali lagi!"


"Kan bapak, bapaknya anak-anak saya nanti."


Marsha berujar sambil tersenyum dan menunduk. Ellio sendiri tertawa mendengar semua itu.


"Berarti nanti anak kita nggak cuma satu ini doang dong?" tanya Ellio seraya mengusap perut Marsha.


"Iya pak, saya mau punya anak banyak sama bapak."


"Emang kamu sanggup melahirkan banyak?"


"Kalau anaknya anak bapak mah, saya sanggupi pak."


Lagi-lagi Marsha berujar sambil malu-malu. Membuat Ellio menatap wanita itu dengan penuh harus sekaligus bahagia.


"Kenapa kamu pengen punya banyak anak dari saya?" tanya Ellio.


"Soalnya bapak ganteng, sayang kalau anaknya sedikit. Karena pasti hasilnya bagus-bagus."

__ADS_1


Ellio kembali tertawa mendengar jawaban jujur dari kekasihnya itu.


"Jadi karena saya ganteng, harus punya anak banyak gitu?"


"Iya dong. Biar kalau ada pelakor yang coba godain bapak, mereka bakal mikir panjang. Soalnya tanggungan bapak banyak. Walau misalkan kita cerai dan bapak memilih hidup sama si pelakor itu. Pelakor itu harus berbagi yang dengan anak-anak bapak yang ada di saya. Biar mampus dia nggak bisa di utamakan. Sebab banyak anak yang mesti bapak biayai."


"Hahaha."


Untuk yang kesekian kalinya Ellio tertawa.


"Bagus juga sih strategi kamu. Biar duitnya ke anak semua dan kamu ikut menikmati ya?" ujarnya kemudian.


"Iya dong pak, bapak jangan meremehkan perempuan dari seberang seperti saya. Saya punya banyak trik untuk membuat bapak terjerat."


Ellio terus tertawa lalu memeluk Marsha.


"Tapi kalau saya kayak laki-laki lain gimana?" tanya Ellio kemudian.


"Laki-laki lain yang bagaimana pak?"


"Ya, yang kalau cerai suka ghosting gitu. Pura-pura buta dan tuli terhadap kebutuhan anak. Lebih milih sama pelakor ketimbang nafkahin anak-anak."


"Ya kalau bapak kayak gitu. Anak-anak saya suruh tinggal sama bapak dan ibu tirinya."


"Emang kamu rela gitu, anak kamu tinggal sama saya dan ibu pelakornya?"


"Demi mengacaukan hidup pelakor, saya rela pak. Minimal pelakor hidupnya pusing tiap hari, saya senang."


Ellio tersenyum lalu mencium kening Marsha.


"Hmm, maybe empat atau enam." jawab Marsha.


Ellio menatap kekasihnya itu.


"Kalau sebelas gimana?. Kayak keluarganya Atta gledek. Ntar kita jadikan konten semua, sampai anak kita lagi pub jadikan konten." ujarnya kemudian.


Kali ini Marsha yang tertawa-tawa.


"Nah boleh juga tuh." jawab perempuan itu.


"Nggak masalah sebelas, asal kita punya YouTube channel." lanjutnya lagi.


Ia dan Ellio makin terbahak-bahak.


"Ya udah, berarti agendanya setelah bayi ini lahir. Kamu akan kena semprot lagi, biar hamil terus."


Marsha diam sambil menahan senyum.


"Loh kenapa, jadi ragu kamu?" tanya Ellio.


Marsha lalu tertawa dan memeluk Ellio, begitupun sebaliknya.


***


"Mas, Marsha di lamar om Ellio."

__ADS_1


Lea menunjukkan pesan singkat dari Marsha yang menunjukkan cincin di jari manisnya. Ia juga berkata jika tadi Ellio sudah melamarnya secara personal.


"Romantis banget ya mas." ujar Lea lagi.


"Iya romantis, tapi kan yang akan dihadapi Ellio nanti bapaknya Marsha. Perjuangan dia masih panjang, Le."


"Iya sih, tapi menurut aku romantis aja gitu. Nggak kayak kita dulu.nikah karena keterpaksaan, terus seadanya lagi. Di KUA doang."


Lea membuang pandangannya ke suatu sudut.


"Nikah kita emang biasa, tapi cinta aku ke kamu luar biasa kan?" ujar Daniel.


Lea tersenyum kali ini. Daniel mendekat lalu mencium bibir istrinya itu.


"Kamu tau, untuk menikah dengan seorang Daniel itu merupakan sesuatu yang berat dan nggak semua perempuan bisa. Karena dulu aku cinta mati sama Grace. Tapi sekarang kamu yang mendapatkan aku."


Lea lagi-lagi tersenyum.


"Pede banget ya si bapak." ujarnya kemudian.


"Loh iya dong, aku itu istimewa." tukas Daniel lagi.


Sejatinya ia bercanda, bukan sedang menyombongkan diri dan Lea paham akan hal tersebut.


"Iya pak Bambang, hanya bapak yang paling istimewa di dunia ini." ujar Lea sambil tertawa.


Daniel lalu mencium bibir Lea sekali lagi dan meninggalkan kamar, untuk mengambil air minum di bawah.


***


"Lo kenapa bro?"


Richard bertanya pada Daniel, ketika malam telah larut. Sebab Daniel tampak berdiri sendiri di balkon sambil merokok. Sedang Lea dan Darriel sudah tidur sejak tadi.


"Lea, bro." ucap Daniel pada Richard.


"Kenapa Lea?" tanya Richard lagi.


"Gue dulu nikahin dia sederhana banget. Dia ngeliat Marsha di lamar Ellio pake cincin mewah dan mahal. Mungkin juga nanti mereka akan menjalani pernikahan impian." ujar Daniel.


"Kualitas pernikahan itu kan nggak tergantung sama mahal atau nggak nya sebuah pernikahan. Lo tau itu kan?" ujar Richard.


"Iya gue paham, tapi masalahnya disini gue kasihan sama Lea. Orang seumur dia, apalagi perempuan. Pasti mengkhayalkan sebuah pernikahan yang megah dan besar, sedang dulu gue nggak ngasih itu ke dia."


Richard menghela nafas panjang.


"Emang Lea mengungkit dan menuntut sama lo sekarang?" tanya pria itu.


"Menuntut sih nggak, cuma dia agak membandingkan. Dan itu bikin hati gue jadi nggak enak." ujar Daniel lagi.


Richard diam sejenak dan kembali berujar.


"Ya, lo bisa mengganti semuanya koq kalau mau. Tinggal lo ajak aja dia ke sebuah tempat romantis, beliin dia sesuatu yang berkilauan. Kan perempuan suka tuh sama yang begituan. Atau adakan pesta ulang yang romantis dan private di sebuah tempat. Gue yakin dia bakalan bahagia. Apalagi kalau ada foto-fotonya. Karena yang dibutuhkan hampir semua perempuan itu ya, foto. Buat bakal mereka kasih liat ke orang." ujar Richard sambil tertawa kecil.


Daniel menghisap batang rokoknya sambil tersenyum. Dalam hati ia berpikir, ternyata ide dari Richard juga cukup bagus untuk ia berikan pada Lea.

__ADS_1


__ADS_2