Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Berita baru


__ADS_3

"Le."


Daniel membangunkan Lea yang terlelap di kamar Darriel.


"Lea, bangun Le."


"Hmm."


Lea menggaruk-garuk kepalanya sambil masih terus memejamkan mata. Ia berbalik dari sisi kiri ke sisi kanan.


"Ayam goreng Korea-nya udah aku tambahin tuh, makan yuk!" ajak Daniel.


Lea terbangun, sambil mengucek mata.


"Oh, iya mas." ujarnya langsung duduk dan mengumpulkan nyawa.


"Gara-gara Darriel nih aku ketiduran." lanjutnya kemudian.


"Makanya makan yuk!" ajak Daniel lagi.


Lea mengangguk, namun ia masih agak bengong sedikit. Lantaran jiwa-jiwanya masih berterbangan di sekitar.


Usai semuanya terkumpul, ia pun pergi ke ruang makan bersama Daniel. Dan benar saja, Daniel ternyata telah menambahi makanan tersebut. Menjadi ada beberapa jenis masakan Korea lainnya.


"Yuk makan, aku laper." ujar Daniel.


Lea menarik kursi dan menghadapi makanan tersebut. Daniel mengambil air putih dan memberikannya pada sang istri. Lea minum hingga hampir habis. Tak lama semua nyawanya pun berkumpul menjadi satu. Mereka berdua kemudian mulai makan.


"Koq kamu bisa ketiduran gitu, gimana ceritanya?" tanya Daniel.


"Ya ngantuk, mas. Kadang kalau lagi gendong atau nemenin Darriel tuh, nggak berasa tau. Tau-tau udah tidur aja."


Daniel tertawa.


"Hawanya kali ya, bikin enak tidur." ujarnya kemudian.


"Bisa jadi. Tadi di kantor gimana mas?" tanya Lea.


"Baik-baik aja, seperti biasa. Karyawan aku dengan segala tingkah mereka itu. Marsha yang muntah mulu. Ellio yang kagak kerja-kerja, sibuk ngurusin bininya. Richard yang mondar-mandir, nggak tau ngapain. Padahal kantornya sendiri aja, aksesnya ada. Malah lewat kantor aku."


Lea tertawa.


"Bosan nggak sih mas, kerja terus?" perempuan itu kembali bertanya.

__ADS_1


"Ya, sangat kadang." jawab Daniel sambil tertawa.


"Cuma mau gimana lagi. Kalau dulu ingatnya beli mobil, party, sekarang ingat untuk ngasih nafkah anak-istri. Ingat masa depan Darriel, ingat biaya-biaya hidupnya yang mesti di penuhi. Akhirnya semangat kerja lagi." lanjutnya kemudian.


"Oh ya, mas. Produk yang aku pesan udah mulai jadi dan bakal dikirim sama pihak maklon dalam waktu dekat." ujar Lea.


"Oh ya?. Good." Daniel tampak berbahagia untuk sang istri.


"Itu berita yang bagus loh. Dan kamu harus semangat kedepannya. Kayak yang dulu aku pernah bilang, perempuan harus bisa cari uang. Mau nantinya penghasilan kamu jauh lebih besar dari aku juga, bodo amat. Yang penting kalau misalkan terjadi apa-apa sama aku. Amit-amit, ya. Kamu bisa terus kasih makan dan biayain hidup Darriel. Jangan jadi perempuan yang diem aja, kita nggak tau nasib."


"Koq aku jadi sedih ya mas, dengarnya." ucap Lea seraya menatap Daniel.


"Seolah mas tuh mau pergi ninggalin aku dan nggak akan balik lagi." lanjutnya kemudian.


Daniel tertawa.


"Setiap orang itu pasti mati, Le." ujarnya.


"Mau aku, kamu, Richard, Ellio atau siapapun itu. Kita semua pasti mati ujungnya. Aku ngomong kayak gini bukan karena ada firasat apa-apa. Aku cuma lagi mengedukasi kamu, kita ambil pahitnya aja dalam hidup. Nafkah tetap aku yang kasih, itu tanggung jawab aku. Tapi minimal kamu punya skill buat cari uang." lanjutnya kemudian.


"Iya mas, aku paham." ujar Lea.


"Kapan dikirim barangnya?" tanya Daniel.


"Mungkin dalam seminggu ini mas."


"Uhuk." Ia tersedak tiba-tiba.


"Kenapa mas?" tanya Lea khawatir.


"Minum dulu!"


"Anjir ini pedes banget, Le. Kamu serius makan ini?" Daniel bertanya pada Lea mengenai sayap ayam yang pertama di belinl oleh perempuan itu.


"Serius, orang ini nggak pedes banget koq." ujar Lea.


"Apaan, pedes banget begini."


Daniel meminum air putih hingga banyak. Lea mengambil sayap ayam itu dan memakannya dengan santai. Daniel melongo menatap sang istri.


"Dasar ya cewek-cewek, dimana-mana sama aja. Kalau udah kecanduan drakor, semuanya dimakan. Kalau orang Korea makan lahar gunung berapi, kalian makan juga jangan-jangan."


Lea tertawa mendengar ocehan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Mas makan yang ini aja nih. Ini level satu, terus itu mas beli apa?" tanya Lea seraya memperhatikan yang baru Daniel beli.


"Ini yang saos madu wijen sama garlic." ujar Daniel.


"Ya udah mas makan yang itu aja, jangan yang pedes." ujar Lea masih lanjut mengunyah. Daniel menatapnya dengan ngeri.


"Hati-hati sakit perut, Le." ujarnya kemudian.


"Tenang aja." jawab Lea.


***


Kehidupan baru saja tenang. Hingga kemudian jagat sosial media kembali dihebohkan dengan berita penangkapan ayah Rangga.


Rangga adalah cinta pertama Lea saat masih duduk di bangku SMA. Diketahui jika ayah Rangga mempunyai hubungan gelap dengan seorang sugar baby, yakni mami Bianca. Yang tiada lain adalah pendiri sekaligus pengasuh dari SB Agency.


Dalam kasus agency hitam tersebut, mami Bianca menjadi pihak yang paling disalahkan dan dijadikan kambing hitam oleh orang-orang yang sejatinya cuci tangan.


Publik pun mengatakan tak mungkin seperti mami Bianca bergerak sendirian. Pasti ada backing yang lebih besar daripada itu. Namun karena mami Bianca masih memiliki keluarga, ia tak menyebut nama orang lain selain dirinya.


Sebab yang bermain bersamanya adalah orang-orang berbahaya dan memiliki jabatan tinggi di beberapa instansi. Akibatnya hanya dirinya yang di rugikan. Ia takut keluarganya akan di celakai bila ia jujur pada pihak yang berwajib.


Tadinya ia ingin ikut menyeret ayah Rangga. Namun ternyata ayah Rangga pun cukup licin. Beberapa kali ia lolos dari penyidik, dan berhasil menerbitkan sebuah alibi yang membuatnya tak bisa di jerat.


Sampai kemudian beberapa dari pihak yang berwajib mengkaji ulang kasus ini dan kembali membuka penyidikan. Hasil yang didapat sangat mengejutkan.


Bahkan kini ayah Rangga telah ditetapkan sebagai tersangka. Menyusul sugar baby-nya Bianca yang telah mendekam terlebih dahulu.


"Yang sabar, Rangga. Semua pasti ada jalan keluarnya."


Lea mencoba menghibur Rangga. Ia datang dengan diantar oleh Daniel. Ditempat itu juga ada Sharon dan kedua temannya, serta Nina. Mereka semua memberikan support pada Rangga, agar ia tak terlalu terpukul.


Pasalnya menyusul penangkapan sang ayah, ibunya ditemukan pingsan di kamar mandi dan sampai saat ini masih dalam penanganan dokter.


Beruntung kini Rangga memiliki kekasih seorang perawat yang begitu menyayangi ia serta ibunya.


"Gue nggak habis pikir, Le. Kenapa dulu bokap gue kayak gitu."


Rangga berkata seraya melempar pandangannya ke lantai.


"Kenapa dia harus terlibat dalam bisnis kotor itu coba?. Sekarang yang menanggung karmanya bukan cuma dia. Nyokap gue juga kena imbasnya." ujar Rangga lagi.


"Yang bisa dilakukan disaat kayak gini tuh nggak banyak, Rangga. Kecuali kita sama-sama berserah diri dan berdoa. Mungkin akan ada jalan keluar nantinya." ucap Lea.

__ADS_1


Rangga diam, namun mengangguk tipis. Setelah itu secara bergantian Sharon yang menghibur Rangga.


Dulu mereka berada di lingkar cinta segitiga bersama Lea. Namun kini semuanya berada dan berkumpul, sebagai manusia baru yang lebih humanis. Dan mengedepankan sebuah persahabatan.


__ADS_2