Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Remember


__ADS_3

"Oeeek."


"Oeeek."


"Oeeek."


Bayi itu menangis dalam gendongan seorang wanita.


"Ini anak kamu, anak kita. Gara-gara pesta malam itu, aku hamil. Tapi kamu nggak pernah ada kabar, kamu menghilang gitu aja tanpa tanggung jawab. Ambil ini, ini anak kamu."


"Hah."


Seorang pria tampan berusia 40 an tahun terbangun dari tidurnya yang diliputi mimpi buruk. Ia terdiam sejenak dengan keringat dingin yang membanjiri sekujur tubuh. Ini adalah mimpi yang sekian ratus kalinya, semenjak kejadian malam itu.


Selama ini ia juga berusaha mencari perempuan tersebut, namun ia lupa siapa namanya. Malam itu mereka mabuk, pada pesta teman dari temannya yang tak begitu ia kenal.


Ia khawatir perempuan itu telah hamil dan melahirkan anak mereka. Namun tak ada seorangpun yang dapat ia jadikan tempat cerita. Teman yang mengajaknya malam itupun telah lama tak kontak dengannya, dan telah tinggal di luar negri untuk sekian tahun.


"Hhhh."


Ia menghela nafas usai menetralkan kembali perasaannya. Dan lagi ada banyak notifikasi telpon dari beberapa rekan bisnisnya.


Pria itu beranjak ke kamar mandi, mencuci muka di wastafel dan diam sejenak didepan kaca. Dengan pandangan mata yang tertunduk, entah bagaimana caranya agar ia bisa menghilangkan semua ini dari pikirannya.


***


"Kamu masih konsumsi obat yang saya rekomendasikan?"


Seorang psikiater bertanya pada si pria, pria itupun mengangguk.


"Kadang hilang, kadang muncul lagi. Dan setiap kali muncul, saya benar-benar merasa tersiksa." jawab pria itu.


Obrolan mereka pun berlanjut, sang pria benar-benar mengharapkan solusi lebih dari apa yang sudah ia jalani selama ini. Bayangan tentang masa lalu itu benar-benar menyiksa batinnya.


Sementara di kediamannya, ibu Lea masih terus terpikir akan pertemuannya dengan Herdi tempo hari. Andai saja ayah biologis Lea ditemukan, ia ingin meminta pertanggungjawaban.


***


"Mas, ini bagus nggak?"


Lea bertanya pada Daniel, ketika ia memakai baju yang ia beli di Bandung tempo hari. Ia membeli banyak dan baru sempat mencoba hari ini.


"Bagus koq." ujar Daniel seraya memperhatikan dari tempat duduknya. Pria itu tengah mengurus pekerjaan di laptop.


"Bagus merah atau item?" tanya Lea seraya menunjukkan baju yang sama, namun berwarna hitam. Sedang ia tengah mengenakan yang merah.


"Dua-duanya bagus, tapi aku lebih suka yang merah." ujar Daniel, Lea pun tersenyum. Ia mematut diri di depan kaca kamar Daniel, sambil mengingat perjalanan mereka tempo hari.


Saat itu ketika Marsha pulang, malam harinya Lea mengajak Daniel kulineran. Makanan pertama yang mereka makan adalah roti bakar Bandung. Karena Daniel berkata ia tidak pernah memakan roti bakar tersebut.


"Masa sih om, nggak pernah makan beginian?" tanya Lea.


"Koq om?" Daniel mengerutkan kening.


"Eh, mas maksudnya. Hehehe." Lea nyengir, ia kerapkali lupa pada panggilannya terhadap sang suami.


"Ya emang belum pernah." jawab Daniel.

__ADS_1


"Aku sering liat aja, tapi nggak pernah beli." lanjutnya kemudian.


"Dulu jaman sekolah, emangnya nggak ada di sekolah mas?"


"Mana ada." jawab Daniel.


"Di depan sekolah gitu nggak ada?. Sama abang-abang cilok?" tanya Lea lagi.


"Ya mungkin ada, tapi aku nggak pernah jajan di luar sekolah. Orang di sekolah aja dapat makan koq. Pulang sekolah dijemput ke lobi dalam, langsung naik mobil."


Lea diam, jangan-jangan Daniel adalah model siswa sekolah semi internasional seperti halnya Sharon.Yang selalu makan di kantin khusus.


"Mas dulu semi internasional apa internasional sekolahnya?" tanya Lea lagi.


"Soalnya sekolah aku semi internasional, tapi di depan sekolah masih ada yang jualan."


"Aku internasional sekolahnya." jawab Daniel.


"Oh pantes, makanannya yang disediakan pasti mahal." ujar Lea.


Daniel tertawa.


"Ya gitu deh " ujarnya kemudian.


"Terus setelah selesai sekolah, mas nggak ada niatan mau beli apa yang nggak pernah mas makan gitu?" tanya Lea lagi.


"Ya nggak ada keinginan, orang aku belum pernah nyoba. Mana tau rasanya, jadi kepengen pun nggak."


"Mas, mas. Kamu itu nggak punya inisiatif." ujar Lea, dan lagi-lagi suaminya itu tertawa.


"Nih mas harus cobain, roti bakar Bandung. Abis ini kita makan biang micin." ujar Lea.


"Iya, abis ini aku mau ngajak mas makan yang bermicin. Biar hidup mas berwarna." ujar Lea lagi.


Tak lama kemudian, roti bakar Bandung yang mereka pesan pun selesai dibuat. Mereka duduk pada dua buah kursi di dekat si penjual, lalu menikmati roti tersebut.


"Gimana mas, enak?" tanya Lea ketika telah beberapa saat berlalu.


Daniel mengangguk.


"Ya iyalah, orang mas udah abis banyak dari tadi."


Lagi dan lagi Daniel tersenyum bahkan kini tertawa.


"Abis ini kita lanjut makan apa lagi?" tanya Daniel kemudian.


"Kita beli cireng, cilok, sama cimol."


"Cimol apaan?" tanya Daniel.


"Kalau cilok tau?" Lea balik bertanya.


"Tau, dulu sorry. Grace suka beli, tapi aku nggak pernah makan."


"Nah sekarang mas harus makan."


"Tadi cimol apaan?" tanya Daniel lagi.

__ADS_1


"Kembarannya cilok, tapi digoreng. Kalau cireng tau mas?"


"Tau, pernah makan. Ellio yang bikin." ujarnya.


"Enak?" tanya Lea.


"Hambar." jawab Daniel sambil tertawa.


"Bikinan abang-abang lebih enak." ujar Lea lagi.


Sesaat kemudian mereka pun membeli makanan tersebut, dan memakannya baik ditempat maupun sambil berjalan.


Mereka banyak membeli kuliner yang hits di kota itu. Sampai kemudian ketika semuanya sudah di beli dan beberapa dibungkus, Daniel terpaku di kuliner terakhir yang mereka datangi. Pasalnya ia ingat pada makanan yang kini disuguhkan depan matanya.


"Ini, yang pernah kamu lempar ke mobil aku kan?" tanya Daniel pada Lea, perempuan itu pun hanya nyengir.


"Iya mas, hehe." Ia tertawa, Daniel masih memperhatikan makanan tersebut.


"Ini gimana makannya Lea?" tanya Daniel dengan ekspresi bingung. Ia menunjuk ke arah ceker ayam jumbo yang terpampang nyata.


"Kalau mas nggak suka sama itu ceker, taro di mangkok aku aja."


"Tapi pengen coba satu." ujar Daniel dengan nada seperti orang yang benar-benar polos. Lea tertawa demi melihat suaminya itu.


"Ya udah, itu kan ada tiga. Dua nya buat aku, satunya mas cobain."


Daniel lalu memindahkan ceker tersebut, ke dalam mangkuk seblak milik Lea.


"Terus yang satu ini makannya gimana?" Lagi-lagi Daniel bertanya saking bingungnya.


"Ya dimakan pake sendok atau pake tangan mas, masa pake kaki." ujar Lea sambil tertawa.


"Makan kayak mas makan ayam bakar aja." ujarnya lagi.


"Bukan masalah itu, Le. Bagian mananya yang dimakan?. Aku bingung loh, orang nggak pernah."


Kali ini Lea terbahak-bahak, sesaat kemudian ia pun memakan ceker yang ada di dalam mangkuknya, hingga Daniel pun bisa mencontoh.


Waktu berjalan, Daniel yang semula baik-baik saja kini mulai kepedasan.


"Kamu nggak bilang kalau ini pedes." gerutu Daniel pada Lea.


"Itu level dua mas." ujar Lea, pedesan punya aku.


"Iya level dua, level dua kahyangan ini mah. Level Mimi Peri."


"Hahaha." Lea tertawa bahkan nyaris tersedak, kini ia mengambil air putih lalu mereguknya hingga setengah.


"Mas koq tau-tau an Mimi Peri?" tanya Lea.


"Muncul mulu di beranda Instagram." ujar Daniel sambil terus makan.


"Mending Mimi Peri, di beranda aku yang muncul lambe-lambe an. Aku ngeliat gosip kagak, muncul mulu."


"Emang kamu suka gosip kali." Daniel menggoda istrinya, meski masih kepedasan.


"Ih mas, nggak gitu."

__ADS_1


"Hahaha."


Gantian Daniel yang terbahak, demi melihat Lea yang seketika sewot.


__ADS_2