Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Me Time (Bonus Part)


__ADS_3

Weekend kembali tiba, Lea menyerahkan Darriel pada Daniel. Sebab hari ini ia dan teman-teman kampusnya tengah hangout bersama, dan rencananya akan berlangsung hingga sore.


Mereka pergi makan, dan berbincang banyak hal di sebuah restoran. Sementara dirumah Daniel tak keberatan mengurus Darriel. Sebab Lea pun sudah mengurus anak itu di setiap hari.


Daniel tak ingin menjadi egois, dengan menahan istrinya dirumah. Dengan alasan harus mengurus anak. Sebab sampai Darriel besar nanti pun, Lea lah orang yang akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus anak itu.


"Hokhoaaa."


Darriel begitu bersemangat, ketika Daniel tiba dan membawakan sebotol ASI yang sudah dihangatkan terlebih dahulu.


Daniel lalu bermain-main sejenak. Ia mendekatkan ujung botol susu itu ke mulut mungil sang anak, kemudian menjauhkannya.


Bukannya menangis, Darriel malah tertawa geli. Hal tersebut membuat Daniel juga tertawa.


"Wawawa."


Darriel menggerakkan tangan dan kakinya, lantaran ia mulai kesal Daniel tak memberikan botol susu tersebut. Daniel menunggu bayi itu menangis, tetapi Darriel malah mengeluarkan suara besar seperti marah atau protes.


"Hokhoaaa."


"Hoaaaaaa." ujarnya gusar.


Daniel kembali tertawa lalu memberikan botol susu itu. Darriel menghisapnya dengan sangat cepat.


"Ngebut banget, Tuhan. Pelan-pelan dong nak, nanti keselek kamu." ujar Daniel kemudian.


Darriel melepaskan ujung botol susu dari dalam mulutnya, lalu ia tertawa.


"Heheee."


"Pelan-pelan ya."


Daniel kembali memasukkan benda tersebut ke mulut sang anak. Dan seperti mengerti, kali ini Darren minum secara perlahan.


***


"Udah lama banget kita nggak kumpul gini ya." ucap Iqbal pada Lea dan yang lainnya.


"Elu, sok sibuk melulu." seloroh Adisty.


"Bukan sok sibuk, emang beneran sibuk gue anjay." jawab Iqbal.


"Kerja dia." Rama menimpali.


"Kerja beneran lo sekarang?" tanya Ariana.


"Ya kerja mana ada yang main-main kali, Ar." Lea berkata sambil tertawa.


"Tau lu, emang ada kerja bercanda." Dani ikut-ikutan berseloroh.


"Ada, stand up komedi." jawab Ariana.


Lalu mereka semua pun tertawa. Tak lama Vita dan Nina datang. Mereka semua cipika-cipiki, dan saling menanyakan kabar masing-masing.


"Eh, Le. Sepupu lo si Arsen bikin aplikasi dan diajak kerjasama tuh sama Google."


Nina mengabarkan soal Arsen. Lea sendiri sudah lama sekali tak melihat sepupunya tersebut, lantaran ia sendiri pun jarang pulang. Ia hanya sering bertemu Reynald, ketika saudara Richard itu tengah berkunjung.


"Oh ya, koq gue nggak tau?" tanya Lea.


"Lo gimana sih, saudara sendiri kagak tau." seloroh Vita.


Kemudian Lea tertawa dan bercerita jika memang Arsen itu jarang pulang. Tetapi ia juga tidak tau, jika sekarang Arsen telah banyak menghabiskan waktu di rumah demi sang ayah.

__ADS_1


Mereka terus berbincang, hingga tercetuslah ide untuk menonton film terbaru. Mereka lalu mencari tiket nonton dan pergi mengunjungi bioskop terdekat.


***


"Dan, Darriel mana?. Koq weekend ini nggak kesini?"


Richard menelpon Daniel dan mempertanyakan keberadaan sang cucu. Sebab seharusnya ini adalah jadwal Darriel main kerumahnya.


"Tidur dia, mager gue mau jalan. Lea nggak ada juga soalnya." ujar Daniel.


"Ah mageran lu. Sebelum nikah dan punya anak juga lo saban hari ke rumah gue, sama si Ellio. Sampe kadang pengen gue usir." ujar Richard.


Daniel tertawa.


"Kan lo tau gue perlahan menua, bro. Pokoknya pinggang gue kalau udah dirumah, bawaannya pengen rebahan aja." jawab pria itu.


"Darriel tidur?" tanya Richard lagi.


Daniel lalu mengirim foto Darriel yang tengah menonton televisi sambil mengenyot botol susu.


"Astaga, santai ya prince." seloroh Richard.


"Emang gitu kelakuannya." ujar Daniel.


"Nggak nangis emaknya pergi?" Lagi-lagi Richard bertanya.


"Mana ada nangis. Dia mah yang penting ASI aman. Emaknya mau jungkir balik pergi planet lain juga dia kagak peduli."


Richard tertawa. Mereka lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.


***


"Anjir."


"Ga mau liat gue."


Adisty yang ada sisi kiri Iqbal juga turut meremas tangan pemuda itu dengan keras. Ariana bersungut di bahu Rama, sambil mencengkram bagian itu tapa sadar. Sedang Vita dan Nina ada disisi Dani, kemudian melakukan hal serupa.


Ketika film usai ketiga pemuda itu bernafas lega, namun dengan keadaan tangan yang memerah semua.


"Ini ciwik-ciwik kalau nonton ya. Bukannya nonton tapi KDRT anjay."


Rama berseloroh, sementara Lea dan teman-teman perempuannya hanya bisa nyengir bajing.


"Nih lihat gue nih." ujar Iqbal.


"Merah semua gue. Si Lea apalagi, tangannya udah kayak tangan kuntilanak." lanjutnya kemudian.


Kembali Lea dan teman-teman perempuannya tertawa.


"Ya maaf." ujar mereka serentak.


"Yi miif." ujar Iqbal sewot.


"Sakit tau nggak." selorohnya sambil menahan tawa.


Tak lama mereka pun terlihat ngopi di sebuah kafe, sambil membicarakan film yang mereka tonton tadi. Setelah itu mereka memutuskan untuk pergi ke toko buku bersama-sama.


***


Lea pulang ketika hari sudah sedemikian sore. Tampak Darriel sudah dimandikan oleh Daniel.


"Hallo anak mama, nangis nggak kamu tadi?" Lea bertanya pada anak itu, dan anak itu hanya tertawa.

__ADS_1


"Nangis nggak mas dia tadi?" tanya Lea pada Daniel.


"Nggak sama sekali." jawab Daniel.


"Cuma tadi pas dimandiin aja dia agak merengek dikit. Kayak nggak suka dimandiin." Lanjutnya kemudian.


"Heheee."


Darriel tertawa.


"Ini aku bawain roti mas."


Lea memberikan apa yang ia bawa kepada sang suami dan Daniel pun menerimanya.


"Mandi gih, Le. Pengen pelukan." seloroh Daniel.


"Kangen ya sama Lele?" tanya Lea kemudian berbalik.


Daniel menepuk bagian sintal padat milik Lea yang ada di belakang. Lea tertawa lalu ia pun pergi mandi.


Usai mandi dan berpakaian mereka terlihat berada di ruang tengah sambil berbincang. Sesekali terdengar tawa Darriel, padahal ayah dan ibunya sedang tidak menceritakan hal lucu.


"Dia kenapa sih mas?. Kita nggak ngomongin hal lucu juga." tanya Lea pada sang suami.


"Mungkin di kepala Darriel ada pelawaknya." seloroh Daniel.


"Heheee."


Darriel lagi-lagi tertawa. Lea lalu menggendong anak itu barang sejenak dan mengajaknya mengobrol.


"Tadi seharian sama papa, iya?"


"Heheee."


"Nggak nakal Darriel?"


"Hokhoaaa."


"Duh baiknya anak mama. Darriel jadi anak baik, iya?"


"Heheee."


"Tadi ngapain aja sama papa?"


"Hokhoaaa."


"Hokhoa?" tanya Lea.


"Hokhoaaa." jawab Darriel.


Daniel tersenyum melihat semua itu.


"Tadi Darriel pup banyak banget ya." ujar Daniel.


"Heheee." Darriel lagi-lagi tertawa.


"Emang iya mas?" tanya Lea.


"Iya, mana bau asem ya Darriel." seloroh Daniel lagi.


"Hokhoaaa."


"Heheee."

__ADS_1


Malam kemudian menyapa, Lea mengorder makan malam untuk mereka semua. Ia dan Daniel makan berdua, sementara Darriel kini perlahan tertidur.


__ADS_2