Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pelukan Hangat


__ADS_3

Sehari setelah membuat keributan di sekolah Lea, Daniel lanjut memperkarakan hal tersebut melalui pengacaranya. Ia benar-benar serius untuk membawa masalah ini ke ranah hukum.


Tidak semua sekolah seperti itu, banyak juga sekolah yang diisi oleh siswa-siswi serta guru-guru dan staf yang bermoral. Tidak hanya memikirkan uang semata, tapi juga bertanggung jawab.


Namun sekolah ini berbeda, bukan sekolahnya yang salah. Tapi orang-orang didalamnya lah yang membuat citra sekolah ini menjadi buruk.


Entah bagaimana sekolah penuh diskriminasi dan miskin empati ini awalnya terbentuk, lalu diisi oleh anak-anak orang kaya yang juga bersifat sama bobroknya.


Padahal rata-rata dari orang kaya, biasanya memilih sekolah terbaik dengan kedisiplinan dan juga peraturan terbaik. Agar anak mereka kelak tak hanya menjadi anak-anak yang pintar, tapi juga memiliki sikap yang peduli terhadap sesama.


Daniel berfikir, mungkin memang orang tua para siswa bersifat sama persis seperti anak-anak mereka. Atau lebih tepatnya, anak mereka yang menurun sifat kedua orang tuanya.


Hingga para orang tua itu tak khawatir memasukkan anak-anak mereka untuk sekolah ditempat tersebut. Ya, mungkin memang orang tua mereka sengaja memilih. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi manusia yang tidak mengenal kata "Teman", hanya mengenal kata "Saingan."


Mereka menerapkan konsep persaingan tinggi pada anak-anak mereka, agar bisa menghadapi dunia yang begitu keras. Memang sifat bersaing umumnya akan membawa seseorang berada di atas puncak, karena rata-rata yang memiliki sifat tersebut tak mau menyerah dan mengalah begitu saja pada orang lain.


Namun dampak buruknya adalah, kita akan kehilangan simpati dan empati terhadap orang lain, dimana hal tersebut juga sangat dibutuhkan dalam menjadi manusia dan hidup berdampingan. Apa jadinya jika dunia sudah krisis kepedulian.


Anak-anak disekolah itu tidak dididik untuk itu, mereka hanya dididik untuk menjadi pesaing dari siapapun disekitar mereka. Setiap orang adalah musuh, maka dari itu mereka akan cenderung menjatuhkan siapapun yang terlihat lemah. Semakin banyak yang jatuh, semakin besar pula peluang mereka untuk berada di puncak.


Usai mengurus semuanya, didampingi oleh Richard dan juga Ellio yang selalu setia. Daniel kini kembali ke rumah, Lea mengunci pintu kamarnya dan tak keluar hingga beberapa jam. Padahal ini sudah lewat jam makan siang.


Daniel paham jika gadis itu kini hancur, ia merasa begitu malu atas kejadian yang menimpanya. Meski sekembalinya dari sekolah Lea kemarin, ia sempat memeluk dan menenangkan gadis itu. Namun agaknya trauma itu tak hilang begitu saja, Daniel mesti serius menanggapi hal ini.


Lea itu baru berusia 17 tahun, ia masih sangat muda dan masih rapuh ketika menerima perundungan.

__ADS_1


"Lea buka pintunya."


Daniel berdiri di muka pintu kamar yang ditempati Lea. Ia telah khawatir sejak tadi, namun Lea masih juga enggan membuka pintu.


"Lea please, kamu harus makan. Jangan nambah masalah lagi di tubuh kamu, kamu bisa sakit kalau terus-terusan kayak gini. Marah boleh, nangis boleh, tapi waktunya makan ya kamu makan. Tubuh kamu jangan disiksa terlalu banyak."


Tetap tak ada jawaban, tak lama setelah itu Daniel mengambil kunci pembuka dan membuka pintu kamar tersebut. Lea yang tengah duduk lesu di lantai sambil membenamkan wajah pada kedua lututnya tersebut pun, terkejut.


Refleks ia menoleh ke arah Daniel ketika pintu itu berhasil di buka, ia tak tahu jika Daniel memiliki kunci pembuka. Rumah Daniel memiliki sistem smart home, begitu pula dengan kamar yang kini ditempati Lea. Kamar tersebut akan terkunci apabila ditutup dan ditekan angka 3, pada tombol-tombol yang tersedia di pintu.


Namun Lea lupa jika itu adalah rumah Daniel, meski didesain hanya bisa dibuka dari dalam oleh si pengunci, Daniel lebih tau apa yang harus dilakukan. Karena sistem itu ia sendiri yang merancang.


"Lea, kamu makan ya."


"Aku sudah balas mereka dan aku akan membawa perkara ini ke ranah hukum. Kamu nggak usah khawatir dan takut lagi."


Daniel memegang bahu Lea dan menatap gadis itu. Lea sempat mengangkat sedikit kepalanya dan menatap Daniel, sebelum akhirnya ia kembali menunduk.


"Please, demi aku. Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak makan."


Lea menatap Daniel, pria itu agaknya serius dengan ucapannya. Lalu Lea pun beranjak, ia tak ingin Daniel melakukan hal tersebut untuknya.


Daniel ikut beranjak dan mengajak Lea untuk makan bersama, meski berat Lea berusaha keras menelan makanan tersebut. Semata agar Daniel juga tak ikut menghentikan makan, apabila ia berhenti ditengah.


***

__ADS_1


"Gue harus bawa dia ke psikiater."


Daniel menghela nafas seraya melempar pandangan ke suatu sudut. Richard dan Ellio memperhatikan sahabat mereka itu secara seksama, ini sudah keesokan harinya dan mereka tengah berada di kantor.


"Kalau lo lagi nggak bisa nemenin, gue sama Ellio siap kapan aja." ujar Richard.


Daniel mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada sudut itu.


Ia mengajak Lea pergi konsultasi ke psikiater pada keesokan harinya, dengan sabar pria itu menunggu hingga proses konsultasi itu selesai. Hari pertama dilalui dengan baik, Lea tak sediam dan semurung saat mereka pergi tadi. Ekspresi wajahnya sudah sedikit lebih baik, meskipun masih banyak diam seperti sebelumnya.


Daniel tak mengapa, ia ingin Lea benar-benar mengekspresikan apa yang ia rasakan. Agar semuanya bisa hilang dengan segera. Gadis itu tak perlu menyembunyikan perasaannya.


"Kamu kalau masih mau nangis, nangis aja. Keluarin semuanya sampai kamu puas, tapi jangan lupa berhenti kalau udah capek. Jangan lupa makan juga, karena itu sangat penting."


Lea diam, ia mendengar ucapan Daniel namun memilih untuk tidak menjawab. Sementara Daniel terus fokus mengemudikan mobil.


Malam harinya Daniel yang tak sengaja terbangun ditengah malam akibat tenggorokan yang terasa kering, tanpa sengaja mendengar Lea berteriak di dalam kamarnya. Sontak saja Daniel berlarian ke sana, usai mendapatkan air minum. Tampak Lea duduk di tempat tidurnya dengan keringat dingin mengucur deras.


"Lea."


Daniel mendekat ke arah gadis itu, tampaknya ia mengalami mimpi buruk. Daniel beranjak kembali ke dapur dan mengambil air putih, lalu memberikannya pada gadis itu. Lea minum cukup banyak, Daniel kemudian menyandarkan tubuh gadis itu pada bantal.


Tanpa banyak berkata ia pindah ke sisi Lea dan memeluk gadis itu dengan penuh kasih. Lea hanya memejamkan mata sewaktu Daniel mencium keningnya, ada rasa damai yang tiba-tiba menyeruak.


Ia lalu membalas pelukan Daniel, dan Daniel mendekap gadis itu hingga ia kembali tertidur. Daniel pun kemudian ikut tertidur di sana, hingga pagi menjelang.

__ADS_1


__ADS_2