
Lea diajak Daniel pergi ke butik langganannya. Disana perempuan itu memilah-milah dress yang terlihat elegan, namun nyaman dikenakan.
Sesuai janji, ia tak memilih dress dengan harga yang mahal. Sebab yang murah saja sudah terlihat sangat bagus ketika ia kenakan.
"Ini bagus nggak mas?" tanya Lea meminta penilaian. Atas dress yang kini tengah ia coba pakai.
"Ini bagus, Le. Tapi yang tadi juga bagus. Kamu ambil aja dua-duanya." ujar Daniel.
"Sekalian ambil lagi dua tuh, jadinya empat. Biar ada empat kali ganti baju." lanjut pria itu.
"Ok deh." jawab Lea lalu kembali memilih.
Usai membeli pakaian dan membayar, mereka kini masuk ke mobil.
"Gimana mas, nggak mahal kan yang aku pilih?" tanya Lea pada Daniel.
"Baru kali ini loh ada istri Presdir belanja hemat kayak istri rakyat jelata."
Lea berseloroh sambil tertawa. Daniel pun ikut tertawa seraya memasangkan seat belt pada sang istri.
"Kamu pasti terpengaruh lagi sama novel online, yang menggambarkan betapa mewahnya hidup si perempuan miskin ketika menikah dengan lelaki kaya. Iya kan?"
"Koq mas tau?" tanya Lea heran.
Daniel tertawa dan menghidupkan mesin mobil. Tak lama mobil mereka pun merayap.
"Orang aku ngintip kamu baca, "Si Gadis Miskin Milik CEO" kan judulnya?"
"Iya, dia hidupnya mewah banget. Aku juga mewah sih setelah nikah sama kamu. Tapi akhir-akhir ini kamu agak hemat mas."
"Bilang aja kamu mau ngomongin aku pelit, tapi kamu perhalus jadi hemat." ujar Daniel sambil tersenyum, Lea lalu nyengir.
"Hehehe, iya." jawab perempuan itu.
"Lele, kita itu udah mau punya anak. Kamu juga makin tahun usianya akan bertambah dan jadi makin dewasa. Kamu udah harus belajar mengenai keuangan."
Lea memperhatikan Daniel.
"Mau kan jadi orang yang kaya terus?"
"Mau, miskin nggak enak mas soalnya."
Daniel tertawa lagi.
"Kamu boleh baca novel dengan khayalan tingkat tinggi kayak gitu. Yang menggambarkan betapa mewah dan hura-hura nya ketika seseorang menikah dengan orang kaya. Ngeluarin uang kayak ngeluarin kertas. Tapi yang mereka gambarkan itu hampir 80% salah."
"Maksud mas?" tanya Lea heran.
__ADS_1
"Kalau kamu pengen kaya, mula-mula harus bermental orang kaya dulu."
"Mental orang kaya?" Lea mengerutkan kening.
"Ya, aku kasih tau kamu dulu. Punya uang dan langsung berfoya-foya, membeli barang mewah, untuk keperluan pamer di sosmed. Itu semua adalah mental orang miskin. Mental orang-orang yang ngebet pengen terlihat kaya oleh orang lain. Padahal orang kaya nggak seperti itu." ujar Daniel.
Lea mendengarkan secara seksama.
"Kalau ada cerita yang menggambarkan orang kaya penuh hura-hura, bisa beli ini dan itu yang dia mau. Itu fix penulisnya sorry, bukan orang kaya. Dia adalah orang yang berkhayal menjadi kaya, kemudian bisa membeli apapun yang dia selama ini nggak bisa dapat. Padahal orang kaya sesungguhnya, kenapa mereka bisa kaya?. Itu karena mereka hemat dan efisien, terutama soal waktu dan uang."
Lea terus memperhatikan suaminya itu.
"Orang kaya itu menggunakan uangnya untuk mengumpulkan aset berharga, yang kira-kira punya nilai jual tinggi di kemudian hari."
"Kayak tanah, properti, logam mulia. Kayak gitu kan mas?" tanya Lea.
"Iya bisa jadi." jawab Daniel.
"Mereka juga berinvestasi dimana-mana. Mereka jarang yang namanya beli barang mewah, kecuali mereka sudah mendapat penghasilan yang harganya lebih dari apa yang pengen mereka beli." lanjut pria itu.
"Kalau di novel mah kayaknya semua gampang ya, beli ini, beli itu. Brand ternama, terkenal, semuanya di beli." ujar Lea.
"Hahaha." Daniel tertawa untuk yang kesekian kali.
"Nggak setiap hari orang kaya beneran itu beli Hermes, Balenciaga, Gucci dan lain-lain, Lea. Bangkrut kalau kayak gitu terus." tukas pria itu.
"Tapi sekali setor uang ratusan juta kan?" tanya Daniel.
"Iya."
"Ya karena mereka bermental orang kaya, mereka nggak boros."
"Iya sih, masuk akal juga." ujar Lea.
"Mereka lebih mementingkan bagaimana caranya uang itu bisa berputar, bisa menghasilkan yang lebih lagi. Setelah dapat banyak, baru mereka memberi reward kepada diri mereka, dengan membeli satu atau dua barang mahal. Kemudian lama, baru belanja lagi seperti itu." lanjut Daniel.
"Jadi sekarang ceritanya mas lagi kuliahin aku nih?" goda Lea.
"Iya dong, biar istri aku bermental orang kaya. Supaya dia bisa mempertahankan kekayaan yang dia miliki. Dan jangan lupa berbagi kepada sesama. Karena dalam kekayaan yang kita miliki, ada hak orang lain. Jangan dimakan semua, kembung ntar."
Kali ini Lea yang tertawa.
"Ok mas, mulai sekarang aku akan lebih berhemat lagi. Dan aku akan berinvestasi."
"Tapi hati-hati investasinya. Jangan sampai kena investasi bodong."
"Investasi bodong itu apaan?" tanya Lea.
__ADS_1
Daniel kemudian menjelaskan secara rinci mengenai seluk-beluk dalam berinvestasi. Di sepanjang perjalanan pulang tersebut, isi obrolan mereka semuanya bermanfaat.
***
"Mas beli martabak nggak apa-apa kan ya?"
Lea bertanya ketika melihat tukang martabak yang buka di dekat penthouse mereka.
"Aku janji nggak tiap hari juga koq." lanjutnya lagi.
Daniel tertawa.
"Ya udah sana beli!. Kan martabak buat di makan, pasti habis sama kamu. Nggak mungkin sia-sia kalau makanan mah." seloroh Daniel.
"Ya udah parkir dulu deh mas di dalam." ujar Lea.
Daniel lalu memarkir mobilnya. Tak lama mereka keluar dan berjalan ke depan, untuk membeli martabak.
"Pak kacang coklat tiga ya pak, martabak telornya satu."
Lea memesan, Daniel mengerutkan keningnya.
"Yang manis satu buat kita, duanya buat sekuriti ya mas. Kan kata mas kita harus berbagi."
Daniel tertawa kecil menatap Lea. Istrinya itu begitu menggemaskan. Seakan minta di pukul kepalanya dengan balok kayu. Namun Daniel senang jika Lea menjadi pribadi yang suka berbagi.
"Ya udah sana, nggak apa-apa beli aja."
"Makasih ya mas ganteng."
Pedagang martabak dan beberapa orang yang ada disitu kompak melihat ke arah Daniel, hingga membuat wajah pria tampan itu bersemu merah.
"Oh ya mas, fotografernya kamu udah dapat emangnya?" tanya Lea. Ketika tengah asyik menunggu martabak.
"Udah, kita photoshoot nya lusa pas weekend."
"Yeay asik." Lea bersorak kegirangan.
"Makeup nya gimana mas?" tanya Lea lagi.
"Dia bawa MUA nya ke rumah kita. Jadi kamu tinggal duduk manis aja."
"Asik, tapi MUA nya nggak jahat kan mas?" tanya Lea curiga.
"Nanti muka aku malah di dandani nggak bener lagi." lanjut perempuan itu.
"Nggak, harganya wajar koq. Nggak nawar." Seloroh Daniel.
__ADS_1
Lalu mereka berdua tertawa-tawa. Tak lama martabak yang dipesan pun jadi. Sesuai niat, dia kotak martabak Lea berikan ke pos sekuriti. Lalu kemudian mereka masuk dan beristirahat di atas, sambil makan.