
"Dari mana lo?"
Daniel bertanya pada Ellio di kantor. Diikuti tatapan ingin tahu dari Richard.
"Nggak dari mana-mana, dari rumah." jawab Ellio.
"Rumah siapa?" tanya Daniel lagi. Matanya kini menatap dalam ke mata Ellio
"Ru, rumah Marsha." ujar Ellio ragu-ragu.
Daniel dan Richard saling melirik lalu sama-sama menahan senyum.
"Ntar buncit aja anak orang, makin di libas lo sama keluarganya."
"Ya kali mereka tega ngelakuin itu, misalkan si Marsha lagi hamil anak gue. Masa iya tega mau mencelakai calon cucu mereka sendiri." jawab Ellio.
Daniel dan Richard kembali bersitatap.
"Harus di buru-buru nih, kayaknya udah bucin akut." ujar Richard.
"Kalau nggak buru-buru di nikahin, bakal melendung itu sekretaris lo." lanjutnya lagi seraya melirik kepada Daniel.
"Pokoknya minggu ini nggak boleh meleset, gimana pun caranya kita harus bisa meyakinkan orang tua Marsha. Supaya lo cepet nikah." ujar Daniel.
"Iya, semua tergantung lo berdua. Kan gue ke sananya sama lo berdua dulu. Kalau fix di terima, gue baru nakal datang sama orang tua gue." ujar Ellio lagi.
"Kenapa nggak langsung?" tanya Richard.
"Ya kalau kita sekali datang langsung di terima, nggak apa-apa. Lah kalau di tolak dan di maki-maki, kan kasihan orang tua gue. Kalau kita bertiga mah udah biasa dengerin bacot yang nggak enak." jawab Ellio.
"Iya juga sih, ya udah pokoknya dalam seminggu ini lo jangan kemana-mana dulu. Jangan mabok, jangan sakit. Biar pas hari H, lo fit dan ngomongnya nggak ngaco." ujar Daniel.
"Iya." jawab Ellio kemudian.
"Buuuk."
Tiba-tiba terdengar suara jatuh di depan. Para karyawan langsung sibuk. Daniel, Richard, dan Ellio keluar. Ternyata Marsha jatuh pingsan dan tergeletak di lantai.
"Marsha."
Ellio kaget lalu bergegas menghampiri dan mengangkat tubuh perempuan itu. Dalam sekejap ia dan juga Daniel beserta Richard sudah membawa Marsha ke klinik yang ada di seberang, meski harus memutar arah menggunakan mobil. Marsha kemudian di baringkan di sebuah ruangan untuk diperiksa.
"Jangan-jangan bunting nih gara-gara Ellio." ucap Daniel pada Richard. Sementara kini Richard masih menunggu Ellio keluar.
Saat Ellio keluar dari ruangan dokter klinik, mereka pun menghampiri.
"Gimana El?" tanya Richard pada Ellio.
"Kata dokter, dia kecapean aja." jawab Ellio.
"Nggak bunting kan?" Daniel menimpali pertanyaan Richard.
"Kagak."
"Kagak, apa emang nggak di periksa di bagian itu?" tanya Daniel masih berusaha mengorek informasi.
"Dan, serius dia nggak hamil."
__ADS_1
"Oke, awas lo." ucap Daniel lagi.
"Gue ke Marsha dulu ya." ujar Ellio.
"Oke, ntar kabarin kalau ada apa-apa." ujar Richard.
"Iya." jawab Ellio lalu masuk ke tempat di mana kini Marsha berada. Sedang Daniel dan Richard kembali ke kantor, sebab sudah banyak pekerjaan yang menunggu.
***
Dirumah.
"Darriel, jangan bobok terus. Main apa sama mama."
Lea yang tak ada kegiatan kuliah online di hari itu pun, mengganggu anaknya yang masih mengantuk berat. Hidung Darriel ia pencet-pencet meski tidak keras, serta pipi bayi itu ia towel-towel.
"Mama nggak ada temen tau. Bosen main game online sama scroll marketplace mulu dari tadi. Mana kuliah tatap muka nggak bisa, harus jagain kamu. Ayo bangun!"
Darriel masih saja tidur. Lea melebarkan bibir, lalu mengambil handphone dan mengambil foto anaknya tersebut.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Darriel ayo bangun!. Mama beliin mainan ya."
Darriel hanya berbalik sedikit dan masih tertidur pulas.
"Darriel."
Lea lalu merebahkan diri ke atas tempat tidur, menarik nafas dan menatap langit-langit kamar. Tak lama ia pun memiliki ide cemerlang untuk mengusir kebosanan.
Dan meski masih mengeluarkan darah nifas serta masih harus memakai pembalut. Tak masalah, sebab itu bukan kolam renang umum. Dan lagi besok jadwalnya dibersihkan serta diganti airnya. Ia pergi ke kolam renang dan menceburkan diri.
"Byuuur."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Terdengar tangisan Darriel dari lantai dua.
"Darriel, dari tadi kamu diem aja ya. Kenapa sekarang mesti nangis, elah."
Lea memukul air di kolam hingga menyiprat ke wajahnya sendiri. Beberapa saat berlalu, ia masih berada di pinggir kolam namun sudah tak bisa berenang lagi. Pasalnya kini ia harus menyusui Darriel. Tadi ia minta tolong asisten rumah tangga untuk membawa Darriel kepadanya.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Terdengar notifikasi panggilan di handphone perempuan itu. Ternyata Daniel yang video call.
"Iya mas."
Lea mengangkat panggilan tersebut dan meletakkan handphone di meja dekat tempat dimana ia kini duduk.
__ADS_1
"Astaga Lea, itu dada kemana-mana. Kamu posisi di luar lagi." ujar Daniel.
"Ini aku lagi di kolam renang mas."
"Oh di kolam renang."
"Ya kali di tempat umum, berani banget buka dada begini." selorohnya kemudian.
Daniel tertawa.
"Koq kamu bawa Darriel?" tanya Daniel kemudian.
"Bukannya aku bawa. Tapi tadi dia tuh tidur mulu, digangguin pun tetep tidur. Aku kan bosen, mana nggak ada jadwal kuliah hari ini. Ya udah aku berenang, eh baru nyemplung dia nangis. Kesel banget aku."
Daniel makin tertawa.
"Namanya juga bayi, Le. Nggak bisa di prediksi." ujar pria itu kemudian.
"Kayak kamu dulu mas. Minta bikin anak nggak bisa di prediksi. Tau-tau baju aku udah dilepas, udah keluar-masuk aja pokoknya. Makanya ini anak ikut sifat bapaknya, nggak bisa di prediksi."
Lea sewot sementara Daniel makin terpingkal-pingkal.
"Hei Darriel, kamu gangguin mama ya?" tanya Daniel pada anaknya.
"Tuh di tanyain papa kamu, kamu gangguin mama ya kan?"
Darriel cuek saja dan terus meminum susu. Lea dan Daniel sama-sama tertawa.
"Mas lagi istirahat apa gimana?" tanya Lea pada Daniel.
"Nggak, cuma lagi ada waktu dikit aja. Terus ingat kalian di rumah. Semua baik-baik aja kan disana?" Daniel balik bertanya.
"Baik mas, aman koq." jawab Lea.
"Udah pada makan?"
"Aku sih udah tadi, tapi kayaknya nanti mau makan lagi. Ini aja udah kesedot semua energi."
Lagi dan lagi Daniel tertawa.
"Tapi kamu udah agak kurusan, Le."
"Oh ya?" Lea gembira mendengar semua itu.
"Emang iya mas, perasaan masih Dugong."
"Nggak koq, udah keliatan itu. Liat tuh tulang di bawah leher kamu udah keliatan."
"Iya ya, haduh semoga makin turun deh."
"Darriel kan makannya kuat, sedikit banyak itu membantu menurunkan berat badan." ujar Daniel.
Lea menatap Darriel sambil tersenyum, lalu kembali menatap sang suami di layar handphone.
"Eh, Le. Kamu bukannya masih berdarah?. Itu kolam renang Richard merah dong."
"Iya masih, tapi ga sampe jadi merah juga. Orang kolam renangnya gede begitu. Lagian besok airnya mau diganti." ujar Lea.
__ADS_1
"Oh, ya udah."
Mereka pun lanjut mengobrol sejenak, sampai kemudian Daniel pamit untuk lanjut bekerja. Darriel kembali tidur, dan kembali di bawa ke kamar, akhirnya Lea bisa berenang juga walau mood nya untuk menceburkan diri ke air sudah berantakan sejak tadi.