
"Brengsek!"
Hanif memukul stir kemudi mobilnya, ketika ia telah bergerak dari kediaman Nadya. Bahkan istri tuanya itu tak mengangkat ketika di telpon oleh Hanif.
Maki-makian yang Hanif lontarkan melalui WhatsApp seakan tak mampu membuat Nadya bergeming sedikitpun. Wanita itu benar-benar hanya diam dan tidak membaca maupun membalas sama sekali.
"Dasar brengsek!"
Lagi-lagi Hanif mengumpat. Sebenarnya ini hanya karena Hanif menganggap Nadya itu perempuan yang lemah dan bodoh selama ini.
Menilik dari ajaran keluarganya yang selalu harus patuh ada suami, menanamkan jika menjadi janda itu adalah aib. Hanif tak percaya istrinya akan seberani itu dalam bertindak.
"Pasti ada yang jadi setan nih." ucap Hanif lagi.
"Gue nggak percaya perempuan kolot kayak dia bakalan menggugat cerai. Udah pasti ada orang yang mempengaruhi." tukasnya lagi.
"Awas aja kalau sampai ketahuan, imbuhnya."
Hanif menekan pedal gas mobilnya dalam-dalam hingga kendaraan yang ia kemudikan tersebut melaju dengan kencang.
Sementara di rumah Nadya bisa bernafas cukup lega, sebab sang suami telah berlalu. Sejatinya tadi ia cukup cemas, takut kalau-kalau Hanif membuat keributan yang jauh lebih besar.
"Bu, pokoknya ibu tenang aja."
Putri mencoba menenangkan majikannya tersebut.
"Langkah yang ibu ambil udah tepat dan dia nggak akan berani datang lagi." lanjutnya kemudian.
"Semoga aja, Put." ucap Nadya.
"Tapi sekarang saya jadi khawatir sama Arkana. Takut diam-diam dia ngambil Arkana dari saya." lanjut wanita itu lagi.
"Arkana sudah saya bilangin, kalau diajak papanya kemana-mana jangan mau." ucap Putri.
"Terus jawaban Arka apa?" tanya Nadya.
"Dia bilang, dia juga nggak mau ketemu pak Hanif. Jangankan diajak pergi kemana-mana." jawab Putri.
Nadya tampak menghela nafas agak dalam.
"Ya sudah." ujarnya kemudian.
***
Hari itu Daniel mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnis. Salah satu diantara mereka ada Hanif.
__ADS_1
Hanif yang biasanya selalu excited dan jelalatan apabila datang ke kantor Daniel, kini terlihat lebih pendiam.
Biasanya pria itu suka sekali tebar pesona kepada para karyawati Daniel yang masih muda dan cantik. Meski para karyawati Daniel tersebut agak geli melihatnya.
"Lo kenapa bro?"
Daniel bertanya pada Hanif ketika rapat telah berjalan setengah, dan mereka tengah break untuk makan siang.
Hanif menghela nafas agak panjang. Kebetulan di ruangan itu cukup sepi. Sebab yang lain tengah makan di bawah.
"Bini gue minta cerai." ucap Hanif.
"Bini lo yang mana?" tanya Daniel lagi.
"Si Nadya sama si Yayah." jawabnya kemudian.
"Lah, koq bisa?"
Lagi-lagi Daniel bertanya, sebab ia sangat heran sekali mendengar semua itu. Mungkin agak sedikit biasa untuk Yayah, tapi untuk Nadya sepertinya itu mustahil.
"Koq bisa Nadya gugat cerai lo?"
"Itu dia masalahnya. Perempuan pendiam dan penakut kayak dia, koq bisa-bisanya gugat cerai gue. Kayak ada yang mempengaruhi tau nggak." ucap Hanif.
Daniel diam, sebab di jaman serba digital seperti ini pengaruh tidak saja bisa didapat dari orang sekitar. Tapi juga sosial media dan berbagai platform.
"Awas aja kalau sampe gue tau siapa orangnya." ujar Hanif lagi.
Tak lama masuk beberapa orang ke dalam ruang rapat tersebut. Sehingga topik obrolan pun jadi berganti.
***
"Arkana mau om jemput nanti siang?"
Richard berkata pada Arkana melalui pesan singkat di WhatsApp. Agak lama Arkana membaca pesan itu, sebab dirinya tengah belajar di kelas. Namun tak lama kemudian ia pun jadi begitu senang dan menjawab dengan antusias.
"Mau banget, om." tulis Arkana.
"Ya udah, nanti om kesana." ujar Richard lagi.
"Beneran ya, om. Jangan bohong loh!"
"Iya, nggak. Pasti om jemput nanti."
"Asik."
__ADS_1
Arkana senyum-senyum sendiri, begitupula dengan Richard. Tak lama anak itu melanjutkan belajar dan Richard kembali bekerja.
Siang harinya, berhubung Arkana hari ini jadwalnya hanya sampai jam dua. Richard pergi untuk menjemput anak itu. Ia beralasan pada orang kantor ada urusan sedikit di luar sana.
Tentu reaksi pertama yang dikeluarkan Arkana adalah senang. Terlihat jelas dari wajahnya yang sumringah dan penuh semangat.
"Ayo masuk!" ujar Richard pada anak itu dan Arkana pun segera masuk ke dalam, usai berpamitan pada teman-temannya.
Mobil Richard berlalu, tak lama Hanif tiba disana. Entah mengapa secara tiba-tiba pria itu ingin menjemput sang anak. Ia pamit pada Daniel dan meninggalkan rapat.
Ia mengirim pesan pada Arkana, namun tak dibalas. Kemudian ia menelpon dan Arkana yang tengah berada di mobil Richard tersebut mengaktifkan mode silent pada perangkat miliknya.
Hanif keluar dari mobil dan mengamati sekitar. Ia tak begitu hafal dengan wajah-wajah teman dari sang anak. Kemudian ia bertanya secara random saja kepada mereka yang masih menunggu jemputan.
"Dek, tau Arkana nggak?" tanya nya kemudian.
Kebetulan ia bertanya tepat pada salah satu teman sekelas Arkana, yang tadi melihat Arkana di jemput Richard.
"Udah di jemput sama om nya, om." jawab siswa itu.
Hanif agak sedikit terkejut. Sebab saudara Hanif pun rata-rata perempuan dan Nadya tidak memiliki kakak ataupun adik laki-laki.
"Om nya siapa ya?. Apa kalian kenal?" tanya Hanif lagi.
"Kata Arkana itu calon papanya dia om." jawab salah seorang anak itu.
Tentu saja Hanif lagi-lagi terkejut dibuatnya. Jika hal itu benar, berarti Nadya telah berselingkuh selama ini.
"Kalian tau orangnya gimana?" tanya Hanif.
Anak-anak itu bingung dan saling menatap satu sama lain.
"Mm, maksud om orangnya gimana?" lanjutnya lagi.
Sebab ia bertanya pada anak SD yang belum bisa mendeskripsikan segala sesuatu dengan jelas.
"Pokoknya orangnya ganteng, om. Terus pake mobil bagus." ujar mereka.
Hanif makin saja terbakar hatinya. Namun ia tak bisa menunjukkan amarah di depan anak kecil. Karen bisa jadi mereka akan ketakutan, lalu memanggil guru-guru mereka yang masih ada di dalam sekolah.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya." ujar Hanif.
"Sama-sama, om."
Hanif lalu kembali ke mobil dan berpikir. Siapa sesungguhnya yang sudah menjemput Arkana. Ia benar-benar marah kali ini. Sebab bisa-bisanya Nadya menyembunyikan laki-laki lain di belakang dirinya.
__ADS_1
****
Kita diskusi di kolom komentar ya.