Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Meneguhkan Hati


__ADS_3

Daniel mengurus beberapa persyaratan, termasuk mengajukan perkara ke pengadilan agama. Dikarenakan Lea tidak memiliki wali, ayah kandungnya tidak diketahui ada dimana.


Telah diupayakan untuk dicari selama bertahun-tahun oleh ibunya, namun tak jua menemukan hasil. Karena minimnya informasi yang dimiliki, malam kejadian itu terjadi begitu saja di pesta. Dalam keadaan ibu dan ayah kandung Lea dibawah pengaruh alkohol.


Keluarga ayah kandung Lea pun akhirnya ikut tak terdeteksi, mau tidak mau perwalian pernikahan gadis itu diajukan kepada perwalian hakim. Meski agak sulit, namun akhirnya pengajuan perkara tersebut disetujui.


Daniel akan menikahi Lea, namun kedua orang tua Lea tak diizinkan hadir. Mereka hanya akan mendapat video berupa dokumentasi. Sebab Lea telah terlanjur sakit hati pada mereka, ia tidak ingin orang tuanya itu datang.


Daniel sendiri tak bisa memaksa, apalagi mendadak sok bijak dan menasehati Lea. Perihal seorang anak yang harus tetap baik pada orang tuanya, meski orang tuanya sudah berbuat jahat.


Daniel tak mau memaksa Lea soal itu, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana kelakuan orang tua Lea terhadap gadis itu, sejatinya Daniel juga masih geram pada mereka.


Bukan perkara jumlah uang yang ia berikan, namun Daniel miris melihat adanya orang tua yang bersikap demikian. Sementara orang tua lain rela berkorban apa saja demi anak.


Hari pun berlalu, tibalah saatnya Daniel menikahi Lea. Semalaman ia termenung didalam kamar, ia bahkan tidur tak tidur demi memikirkan perkara ini.


Pernikahan bukan hanya perihal mampu atau tidak mampu, tapi juga kepada kesiapan mental yang dimiliki. Tak ubahnya dengan Daniel, Lea pun demikian. Ia sama ragunya dengan hal ini.


Saat berusia 16 tahun ia berfikir, bagaimana caranya mendapatkan uang atau menggaet pria kaya raya. Namun belakangan ia mulai berfikir, bagaimana caranya mandiri dan mengubah masa depan dengan usahanya sendiri. Lea dan Daniel benar-benar kalut malam itu.


Esok harinya, Daniel ditemani Richard dan juga Ellio. Sedang Lea ditemani Vita dan juga Nina. Lea tampil cantik dalam balutan kebaya sederhana dan makeup minimalis.


Tak ada kemewahan dalam pernikahan tersebut, karena keduanya masih belum rela jika ini semua terjadi begitu cepat.


Meski tak dapat dipungkiri Daniel cukup terpesona menatap kecantikan Lea hari itu. Dan Lea pun tak dapat berbohong jika ia terpesona oleh ketampanan Daniel, bahkan hampir setiap hari. Namun perkara pernikahan, bukan sesuatu yang gampang untuk mereka berdua.


"Dan, gue sama Ellio akan selalu ada buat lo."


Richard berkata setelah prosesi pernikahan selesai, mereka kini berada di sebuah ruangan. pernikahan itu dilaksanakan di kantor urusan agama.


"Lo nggak usah khawatir, bro." timpal Ellio.


"Semua akan baik aja." lanjutnya kemudian.


Daniel mengangguk dan kembali mencoba meneguhkan hatinya, sama seperti saat sebelum prosesi dimulai.


Tak jauh berbeda dengan Daniel, Lea pun kini tengah di nasehati Vita dan juga Nina.


"Semua akan baik-baik aja, Le. Lo akan tetap bisa mengejar mimpi lo." ujar Vita seraya menatap Lea.


"Iya, Le. Om Dan itu orang baik." timpal Nina.


Lea mengangguk, ketiganya lalu saling berpelukan.


***

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, keduanya kembali ke kediaman Daniel. Pasangan itu lebih banyak diam, karena tak menyangka dalam waktu singkat mereka telah menjadi pasangan suami istri yang sah. Padahal Daniel belum mau melakukannya, Lea sendiri masih ingin mengejar mimpinya terlebih dahulu.


"Kamu istirahat Lea." ujar Daniel lalu masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai atas. Lea pun kemudian masuk ke dalam kamarnya, sementara di atas Daniel pergi mandi.


Ia begitu lelah menghadapi hari ini, bukan tubuhnya tapi hatinya. Ia membiarkan air shower menerpa dan membasahi tubuhnya. Setidaknya air sedikit banyak bisa mengurangi beban yang berkecamuk di dalam benak.


Usai mandi dan berpakaian, Daniel pergi ke bawah. Mendadak ia merasa lapar dan kini hendak bertanya pada Lea. Ingin makan apa perempuan itu.


"Lea, mau makan apa?" tanya Daniel di muka pintu kamar Lea. Tak ada jawaban, karena saat ini Lea baru selesai mengeringkan rambut di kamar mandi.


"Lea."


Tetap tak ada jawaban. Daniel takut Lea kenapa-kenapa, maka ia pun membuka pintu kamar perempuan itu.


"Kreeek."


Mendadak waktu seakan terhenti, Daniel memergoki Lea yang baru keluar dari kamar mandi. Ia tertegun, sekaligus menegang. Pasalnya Lea tengah mengenakan gaun tipis transparan, yang benar-benar membangkitkan gairah kejantanannya.


Lea pun sama terpaku, ia tak menyangka Daniel akan masuk ke dalam kamar. Ia mengenakan pakaian tidur tipis ini agar dirinya merasa nyaman. Namun kini dihadapannya, Daniel nyaris tak berkedip. Pria itu mendekat perlahan dan pergerakan Lea seakan terkunci.


Daniel memperhatikan sekujur tubuh Lea, lalu kembali menatap mata gadis itu. Tanpa aba-aba ia pun lalu mencium bibir Lea.


"Hmmh, om."


"Hmmh, om"


Desah suara Lea makin besar, Daniel melepas kaosnya sendiri dan mendorong Lea ketempat tidur. Ditindihnya tubuh gadis itu dengan tetap mencium bibirnya.


Tanpa sadar tangan Lea mengusap tubuh sang suami yang sixpack dan sexy tersebut. Daniel meremas gundukan sang istri, lalu mencium salah satu bagian dan menghisapnya dengan sangat. Sambil matanya tak henti menatap Lea.


Lea pun meracau tak karuan, Daniel menarik penutup bagian dalam istrinya itu dan melucutinya. Sejenak ia melepaskan penutup terakhir di dirinya sendiri, dan terlihatlah sesuatu yang mencuat dibawah sana. Daniel mengarahkan tangan Lea untuk menyentuh hal tersebut, lalu ia kembali mencium bibir istrinya itu.


"Lea, hhhh."


Daniel tampaknya sudah tidak bisa lagi membendung hasrat, maka ditekuknya kedua kaki sang istri dan dibukanya lebar-lebar. Diarahkan miliknya kepada Lea dan ia coba masukkan secara perlahan.


"Sssh, om. Sakit."


Lea memberontak, meski tak terlalu. Daniel menatap perempuan itu sambil terus melakukan.


"Om, sakiiit."


Kali ini Lea mendorong abdomen suaminya agar berhenti dan menjauh. Daniel lalu menahan kedua tangan sang istri dan diciumnya kembali perempuan itu.


Ketika ciuman mulai memanas, Daniel memberikan dorongan yang lebih kuat. Lea kembali kesakitan, namun Daniel memberikan sentuhan yang menetralisir. Hingga suatu titik, Daniel mendorong dengan sebuah hentakan yang kuat.

__ADS_1


"Aaaakh, ooom, sakiiit."


Lea memberontak, namun Daniel lagi-lagi mencium dan membelainya. Sementara ia telah melesak masuk seutuhnya, terbenam sempurna dalam kehangatan dan kenikmatan.


"Ini bukti cinta aku ke kamu, Lea. Kamu milik aku sekarang."


Daniel berkata di telinga Lea, membuat perempuan itu seketika melayang. Perlahan rasa sakit menjadi sebuah kenikmatan, Daniel pun bergerak maju dan mundur secara perlahan. Dalam sekejap ruangan dipenuhi erangan dan racauan, makin lama gerakan itu makin cepat.


"Ah, om, ah, sssh."


"Lea sayang, hmmh."


Daniel tampak seperti orang kehausan yang berhari-hari tak bertemu air. Keperkasaannya yang tenggelam akibat masalah psikologis selama ini, kini seolah menunjukkan eksistensi.


Lea bisa merasakan betapa nikmatnya milik sang suami. Keringat mereka mengucur deras, Daniel melakukannya cukup lama. Karena memang sudah lama sekali gairahnya tertahan.


"Om, aku mau pip......." ujar Lea di suatu ketika.


"Sama-sama sayang, hhhh." Daniel mencoba mengatur nafas di sela gerakannya yang kian cepat.


"Tapi om, aku mau ke toilet, mau pip....."


Daniel mencium bibir Lea, agar istrinya itu tak bersuara lagi. Ia paham jika Lea tak mengerti. Perempuan itu mengira dirinya akan buang air kecil, namun bukan itu yang akan terjadi.


Daniel terus menghentak-hentak sampai kemudian,


"Aaaakh oooom."


"Leaaaaa, aaakh."


Tubuh keduanya bergetar, sesuatu yang hangat menyembur begitu kuat di rahim Lea. Mata keduanya terbelalak, sedang otot-otot bagian bawah berkedut sungguh nikmat.


"Hhhh."


Daniel ambruk di pelukan Lea, refleks Lea memeluk sang suami dan mencium keningnya beberapa kali. Entah mengapa mendadak ia jadi begitu mencintai Daniel. Ia merasa dirinya adalah milik Daniel dan Daniel adalah miliknya.


"I love you, mas."


Daniel mendengar ucapan itu di sela-sela nafasnya yang masih belum teratur. Pria itu kemudian menatap Lea dan tersenyum sangat tipis.


"Aku mau dengar sekali lagi." ujarnya kemudian.


"I love you, mas Daniel." ujar Lea memperjelas.


Kali ini Daniel benar-benar tersenyum, ia lalu mencium kening Lea beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2