
"Le, kamu tidur aja ya. Kan ASI kamu udah di pompa juga. Nanti malam biar aku, Richard, sama Ellio yang jagain dia."
Daniel berujar pada Lea ketika malam telah larut. Saat ini Lea sudah kembali ke rumah dan bayi Darriel sudah menempati kamarnya yang nyaman dan steril.
"Nggak apa-apa mas?" tanya Lea khawatir.
Dalam pikirannya ia melihat Daniel, Richard, dan Ellio akan menggendong Darriel dengan satu tangan. Atau mode terbang dan lain sebagainya.
Ia sering melihat bagaimana bapak-bapak di sosmed dalam mengasuh anak. Ia takut hal ektrem akan terjadi pada bayinya yang masih rapuh tersebut.
"Kamu tenang aja, nggak usah khawatir. Pokoknya dua Minggu pertama ini banyakin istirahat dan jangan mikir berlebihan. Sebab dua Minggu pertama habis melahirkan itu, ada potensi baby blues untuk hampir semua ibu." ujar Daniel.
Lea mengangguk, ia pernah mendapatkan pelajaran itu pada kursus melahirkan yang ia ikuti. Bahwasannya seorang ibu banyak yang mengalami gejala baby blues sindrom, pada dua Minggu pertama melahirkan. Salah satu faktor penyebab adalah, kurangnya bantuan serta dukungan bagi ibu dalam mengurus anak.
Dan kebiasaan orang tua atau mertua di negri ini yang lebih mengedepankan kritik dan cenderung menyalahkan ibu dari si bayi, jika mereka berbuat kesalahan.
Harusnya sebagai orang yang juga dulunya pernah mengalami saat pertama kali melahirkan, mereka semestinya mendukung dan membenarkan saja apa yang salah tanpa harus mendikte dan memarahi ataupun memojokkan.
"Tapi mas yakin, bisa handle Darriel?" tanya Lea ragu-ragu.
"Yakin." jawab Daniel.
"Nanti manasin ASI nya harus diliat temperaturnya mas, jangan main kasih. Nanti tau-tau gosong aja lidahnya."
"Iya."
"Kalau nangis nggak cuma pertanda laper aja, siapa tau popoknya penuh."
"Iya Lele, aku tau itu. Udah kamu tenang aja, tidur yang nyenyak, makan yang banyak, kalau ada apa-apa bilang."
"Aku nggak ada pantangan makan kan mas?"
"Dokter kan udah bilang nggak ada, ya udah nggak ada berarti." jawab Daniel.
Lea tersenyum. Dari ibunya dan ibu Richard pun, ia tak mendengar adanya pantangan dalam makan. Maka dari itu Lea tenang untuk hal tersebut.
Beruntung dia dikelilingi oleh orang-orang yang teredukasi. Meski ia masih khawatir mempercayakan Darriel pada Daniel, Richard, maupun Ellio. Sebab tak satupun dari ketiga pria itu yang pernah mengurus anak sebelumnya.
Namun ia sendiri pun juga tak punya pengalaman mengenai hal tersebut. Ia percaya satu hal, bahwa ketiga pria tersebut tak mungkin akan membahayakan Darriel.
"Ya udah mas, aku pamit tidur dulu ya. Nanti kalau emang mas susah menghandle dia, bangunin aja aku. Nggak apa-apa koq." ujarnya kemudian.
"Iya, nanti kalau kita bertiga chaos, aku bangunin kamu." tukas Daniel.
Lea tersenyum lalu berbaring.
"Good night mama Lele."
"Good night papa Dan."
__ADS_1
Daniel mencium kening Lea, sesaat kemudian perempuan itu terpejam matanya. Daniel kembali pada Richard dan juga Ellio di ruang makan.
"Bro, salah satu dari kita mesti tidur. Biar nanti kalau yang lainnya ngantuk, bisa gantian."
Daniel memberi saran pada kedua temannya itu.
"Gue udah tidur." ujar Richard.
"Lo lah, El. Sono tidur!" Perintahnya kemudian.
"Ya udah deh, ntar bangunin gue aja kalau butuh bantuan." ujar Ellio lalu beranjak.
"Jangan main hp lo di kamar. Ntar nonton live biggo lagi." seloroh Daniel.
"Kagak, udah nggak selera gue liat cewek joget-joget. Gitu-gitu doang tiap hari, bosen." tukasnya seraya berjalan menuju salah satu kamar yang kosong.
"Yakin lo, dia bosen sama cewek joget?" tanya Richard pada Daniel seraya tersenyum.
"Palingan juga takut historinya ketahuan sama Marsha." Daniel berspekulasi.
Kedua sahabat itu tertawa cekikikan.
"Lo mau kopi nggak?" tanya Daniel pada Richard.
"Boleh." jawab pria itu kemudian.
Daniel lalu pergi ke kitchen set dan membuat dua gelas kopi panas. Tak lama mereka pun terlihat meminum kopi tersebut sambil bermain kartu.
"Pipis?" tanya Richard seraya mendekat.
"Iya." jawab Daniel.
Tak lama kedua pria itu pun sibuk membersihkan serta mengganti popok Darriel. Daniel sendiri sudah diajarkan oleh beberapa perawat di rumah sakit, ketika Lea dan anaknya masih disana. Namun tetap saja ia masih salah dan itu mengundang tawa bagi ia dan Richard.
"Bener nggak sih ini?" tanya Daniel pada Richard, sedang Richard melihat tutorial yang ada di YouTube.
"Iya-iya bener koq." jawabnya kemudian.
Darriel diam, begitupula dengan Daniel dan juga Richard. Mereka memperhatikan popok hasil karya Daniel tersebut.
"Koq agak miring ya, Dan?" tanya Richard seraya mengerutkan kening.
"Mana gue tau, kata lo bener."
"Ntar dulu gue liat lagi."
Richard kembali membuka laman YouTube dan membandingkan hasil disana, dengan hasil yang diperoleh Daniel.
"Udah, bener koq itu." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Abis ini, terus apa?" tanya Daniel pada Richard.
"Apa ya?" Richard juga bingung seraya memperhatikan Darriel.
"Oeeeeek."
Tangis bayi itu kembali pecah. Daniel dan Richard gelagapan.
"Oh iya, susu." ujar keduanya sambil mondar-mandir.
"Di kulkas Dan, ASI nya."
"Oh iya."
"Gubrak, gubrak."
Daniel berlarian ke dapur, membuka kulkas lalu mengambil ASI dan memanaskannya. Sementara Richard menggendong Darriel dan mencoba menenangkan cucunya itu.
"Diem ya, susunya lagi diambil. Kalau kamu diam, nanti papa Rich belikan Lamborghini. Oke?"
"Dan buruan!" teriaknya dari kamar.
"Iya tunggu, nggak usah teriak-teriak. Ntar si Darriel budek."
Richard diam sambil mengerutkan kening. Sebab Daniel yang melarangnya berteriak, justru malah mengeluarkan suara yang lebih kencang.
Beberapa saat berlalu, Daniel buru-buru kembali ke kamar. Namun kemudian ia menghentikan langkah di muka pintu. Ketika melihat ada Lea sudah ada disana dan menyusui Darriel.
Lea tersenyum padanya, mendadak hati Daniel seperti meleleh. Sebuah pemandangan yang sangat indah melihat sang istri menyusui bayi mereka dengan penuh kasih sayang. Richard meninggalkan keduanya, untuk mengambil air minum.
"Koq kamu bangun, emang suara tangisnya kedengaran sampai atas?" tanya Daniel.
"Nggak sih mas, cuma aku feeling aja dia bangun. Makanya aku ke bawah."
"Maaf ya, aku agak lama nyiapin ASI nya tadi. Masih agak bingung." ujar Daniel lalu duduk di sisi Lea.
"Iya mas."
"Tapi janji abis ini kamu tidur lagi, biar aku yang jaga dia sampai pagi. Sebenarnya kamu nggak perlu bangun, kan ASI nya udah ada."
"Iya mas, abis ini aku bakalan tidur koq sampai pagi. Sisanya tolong mas yang urus."
Daniel tersenyum, lalu menatap Darriel yang sibuk mengenyot dengan kencang.
"Heh, itu punya papa tau. Main rebut aja."
Ia bercanda sambil tertawa. Darriel melirik ke arah sang ayah, dan semakin kuat menghisap.
"Awas kamu ya." ujar Daniel sekali lagi.
__ADS_1
Lalu ia dan Lea pun sama-sama tertawa.