
"Dan, masa gue makan dedaunan dong."
Ellio mengirim chat pada Daniel, diikuti sebuah foto berupa salad sayuran. Tak lama Daniel pun menelpon sambil menertawai temannya itu.
"Hahaha."
"Hahaha."
"Ketawa lagi si Sugiono." gerutu Ellio.
"Hahaha."
"Hahaha."
"Nasib kita sama." ujar Daniel kemudian.
"Maksud lo?" tanya Ellio heran.
"Gue disuruh si Lea makan poke bowl." jawab Daniel.
"Apaan tuh?" Lagi-lagi Ellio bertanya.
Daniel pun menjelaskan tentang hal tersebut, dan gantian kini Ellio yang tertawa-tawa.
"Hahaha."
"Hahaha."
"Sukurin." ujarnya.
"Seneng lo?" tanya Daniel.
"Sangat." jawab Ellio.
"Tuhan tuh maha adil. Gue pikir cuma gue doang yang mendadak menderita karena ulah Richard, ternyata lo juga." lanjutnya lagi.
"Emang babi lo dasar." ucap Daniel.
"Jadi gimana?. Apa kita makan nasi goreng kambing aja nih di luar?"
Ellio memberikan sebuah ide yang sangat bangsat.
"Gue lagi mikir begitu sih. Nasi goreng kambing di jalan haji Mu'in tuh enak." ujar Daniel.
"Ehem."
Tiba-tiba Lea sudah muncul di belakang pria itu. Membuat Daniel kaget dan langsung menoleh.
"Bini lo ya, bro?" tanya Ellio sambil tertawa.
"Siapa lagi, baru mau rencana buruk gue." jawab Daniel.
"Ya udah kalau lo nggak bisa. Gue aja deh, gue pengen sate kambing juga soalnya." ujar Ellio.
Lalu pria itu berbalik arah, namun di depan matanya sudah ada Marsha yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.
"Bro?. Lo kena abu vulkanik? Sampe diem membatu gitu." ujar Daniel.
Sebab Ellio tiba-tiba membeku tanpa suara.
"Iya nih, abu vulkaniknya bunting lagi." seloroh Elio.
"Apa?" tanya Marsha kemudian.
"Mau sate kambing?. Mau sakit kayak pak Richard?. Anak belum lahir nanti bapaknya udah sakit-sakitan." lanjut wanita itu.
Daniel tertawa mendengar ocehan Marsha. Namun Lea masih berdiri di hadapan mukanya.
"Bro, gue udahin dulu ya. Diliatin mak lampir soalnya." ucap Daniel pelan.
__ADS_1
"Gue juga sama, lagi
dipelototin sama nyi pelet." timpal Ellio.
Maka kedua sahabat itu pun saling berpamitan dan menyudahi telpon tersebut.
"Awas aja ya mas, kalau kamu bohong di belakang aku!" ujar Lea.
"Aku ajak Darriel pulang ke rumah ayah." ancam perempuan itu kemudian.
"Ya aku nyusul lah. Orang Richard temen aku." jawab Daniel sambil tertawa. Lea lalu menekuk bibirnya dan berlalu, sementara Daniel kembali tertawa-tawa.
***
Esok harinya nasib Daniel serta Ellio masih sama saja. Malah lebih parah, sebab mereka dibawakan makanan full sayuran oleh istri-istri mereka.
Protein yang mereka dapat hanya dari protein shake, dan itu pun mereka sendiri yang membuat.
Lea membawakan Daniel nasi dengan beberapa jenis sayur rebus dan sayur mentah, yang kemudian di beri dressing olive oil dan juga perasan lemon.
Sepertinya ia berkomunikasi dengan Marsha via WhatsApp. Sebab bekal Daniel dan Ellio sama persis.
"Nih, kerjaan bini gue. Mau dijadiin biksu Shaolin gue."
Ellio berseloroh seraya memperlihatkan isi bekalnya pada Daniel.
"Oh, jangan sedih." ucap Daniel.
"Gue dibawain semak belukar nih!"
Ia adu mekanik dengan Ellio. Tampak bekal makanya juga sama bernuansa kehijauan.
"Kayaknya tuh si nyi pelet berdua janjian." tukas Ellio.
"Pasti." jawab Daniel.
"Ya ini, lo pikir apa?"
Daniel memperlihatkan protein shake yang ia bawa.
Ellio menghela nafas, antara ingin tertawa tapi miris.
"Untungnya sih, gue tadi nyuruh OB gue beli ini."
Ellio memperlihatkan sebuah bungkus dari brand ayam goreng terkenal.
"Gue beliin juga buat lo." ujar Ellio lagi.
Baru saja Daniel hendak berbahagia, tetapi kemudian Marsha masuk sambil mengendus-endus. Meski Ellio telah buru-buru menyembunyikan bungkusan ayam goreng tersebut.
"Bau ayam goreng pak. Bapak bohongin aku ya?" tanya Marsha pada Ellio.
"Nggak ada bau apa-apa. Mana ada ayam goreng." jawab Ellio.
"Bohong, aku jadi pengen banget ini." ujar Marsha.
"Bapak ya pak?"
Ia bertanya pada Daniel.
Baru saja Daniel hendak menjawab tidak ada. Tetapi mata Marsha keburu melihat bungkusan tersebut. Bungkusan itu terselip dibalik beberapa file yang bertumpuk di atas meja.
"Tuh kan, ada." ujarnya.
"Itu sengaja mau aku kasih ke kamu, Sha. Itu dari karyawan tadi, dan aku nggak makan ayam soalnya. Lagi diet juga, sama kayak Ellio."
Daniel ngeles, dan Marsha percaya akan hal tersebut.
"Jadi ini buat saya pak?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Iya." jawab Daniel.
"Asik."
Marsha lalu keluar dengan membawa ayam goreng tersebut. Tinggallah kini Daniel dan Ellio, yang berada dalam posisi ingin berteriak kesal tapi takut ketahuan.
"Makanya lo kalau bawa makanan dengan aroma yang lumayan kuat, jangan ke dekat cewek hamil. Cewek hamil itu, bau harta Firaun yang udah terkubur ribuan tahun aja masih bisa mereka cium." tukas Daniel.
"Terus kita gimana dong?" tanya Ellio.
"Ya udah apalagi, makan aja nih kebun raya Bogor." seloroh Daniel.
Mereka berdua pun akhirnya makan, meski dengan sangat-sangat terpaksa.
***
Sore hari Daniel dan Ellio mengunjungi Richard. Mereka mengungkapkan kekesalan pada sahabat mereka tersebut.
"Gara-gara elu ya, Supono. Gue sama Daniel jadi disuruh makan daun-daunan."
Ellio menggerutu. Richard kini tertawa lalu meminum segelas air putih, yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Kenapa jadi nyalahin gue?" ujarnya.
"Ya elu yang hidup kagak sehat, terus penyakitan. Gue sama Daniel yang jadi korban. disuruh sama bini kita jadi vegetarian mendadak." ujar Ellio lagi dan lagi-lagi Richard tertawa.
"Aaaakh."
Tiba-tiba Richard mengeluh sakit di dadanya. Seketika Daniel dan Ellio pun menjadi panik.
"Bro, lo kenapa?" tanya Daniel cemas, diikuti tatapan mata Ellio yang tak kalah khawatirnya.
"Aaaakh, sakit banget."
Richard mengeluh.
"Gue panggil dokter." ujar Ellio.
Richard mencekal lengan dan menahan laju sahabatnya itu.
"Kenapa?" tanya Ellio heran.
"Nggak usah!" ujar Richard.
Tak lama Lea pun datang dan masuk. Ia kaget melihat ayahnya yang seperti mengeluh kesakitan.
"Ayah, ayah kenapa?" tanya Lea seraya mendekat.
"Le, dada ayah sakit banget ini. Tapi udah mulai reda." ujar Richard.
"Gue panggil dokter dulu." tukas Ellio.
"Nggak usah!" ujar Richard lagi.
"Lo berdua lihat kan gue kayak gini. Jangan sampai lo berdua kayak gue juga." imbuhnya.
"Kamu harus janji sama ayah, Le. Kamu harus jaga dan perketat makan mereka berdua."
Daniel dan Ellio seketika sadar jika ini adalah trik Richard untuk mengerjai mereka. Mereka berdua pun kompak melebarkan bibir hingga kuping.
"Mertua lo emang babi."
Ellio berkata dengan nada super pelan. Namun dengan sikap dan pandangan yang tertuju pada Richard. Sementara Richard menahan tawa.
"Dia tuh emang gitu. Senang melihat teman susah, susah melihat teman hidup nyaman." timpal Daniel.
"Awas aja kalau Lea udah pulang nanti, gue rasengan." lanjutnya lagi.
Richard terus saja mendramatisir keadaan, sehingga Lea menjadi sangat yakin jika ia harus menjaga suaminya dengan baik.
__ADS_1