
"Mending lo cerai aja, Nad. Gugat langsung ke pengadilan."
Salah seroang teman Nadya datang menyambangi perempuan itu. Tanpa Nadya bercerita jika saat ini dirinya telah jatuh hati pada lain pria.
Temannya itu memang sejak awal pernikahan kedua Hanif terjadi, sudah meminta Nadya menggugat cerai.
Temannya itu bernama Mayra. Mayra sendiri merupakan tetangga Nadya sedari kecil, dan memiliki orang tua yang sama patriarki-nya dalam mendidik anak.
Anak perempuan di doktrin hanya untuk menurut dan lahir hanya untuk dipersembahkan kepada laki-laki. Tetapi bedanya Mayra memiliki sifat pemberontak.
Orang-orang di sekitar mereka, melihat Mayra sebagai gadis nakal dan Nadya adalah kebalikannya. Semua orang mengidolakan Nadya saat itu. Banyak ibu-ibu yang berharap memiliki menantu seperti Nadya.
Namun dengan sikap pemberontak yang ia miliki. Mayra kini lulus S2 dari sebuah universitas ternama dan jadi pengusaha. Semua itu ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya sendiri.
Ia malah akan dijodohkan jauh beberapa tahun sebelum Nadya. Mayra kabur dari rumah dan menolak perjodohan tersebut, sehingga Mayra di cap sebagai anak durhaka.
Saat itu Mayra memiliki pemahaman yang berbeda. Yakni tidak ada istilah durhaka, bila menolak sebuah pemaksaan.
Sebab bila orang tua memaksakan kehendak terhadap anak dengan alasan apapun. Maka disitu posisi durhaka adalah milik orang tua.
Bagi Mayra, menjadi orang tua bukan berarti kita memiliki hak secara penuh untuk memaksa anak-anak kita melakukan apapun yang kita inginkan. Terutama soal menikah.
"Yang akan digunakan dalam pernikahan itu adalah tubuh gue. Bukan tubuh emak-bapak gue. Mereka cuma bisa maksa, tapi yang merasakan kan gue. Dan gue nggak mau tubuh gue diperalat untuk kepuasan hati orang tua. Mereka puas ngeliat gue menikah dengan pilihan mereka. Tapi yang menjalani adalah gue." ujarnya saat itu sebelum kabur dari rumah dan menemui Nadya.
Nadya sendiri tak dapat menghalangi. Sebab ia juga sama menginginkan kebebasan. Namun ia tak memiliki nyali sebesar Mayra.
Kini sahabatnya tersebut tengah berkunjung, ia telah mendengar jika Hanif menikah lagi dan hal itu amat sangat membuat dirinya merasa jijik.
"Udah, cerai!" ujarnya sekali lagi.
"Jangan terlalu lemah jadi cewek."
Nadya diam.
"Kalau mau ke surga, nggak harus berbakti sama tukang kawin gatel. Banyak jalan menuju surga. Lo ngidupin anak lo dengan baik pun bisa bawa lo ke surga koq." ucap Mayra lagi.
"Lo kerja, jadi orang kaya. Bisa membantu banyak orang dengan uang hasil kerja keras lo. Bisa juga dapat surga. Banyak jalan menuju kesana, asal lo mau memilih."
__ADS_1
Perempuan itu kembali berujar panjang lebar. Ia benar-benar kesal melihat Nadya masih juga bertahan hingga saat ini.
"Harus berani ambil tindakan, Nad. Jangan polos-polos amat jadi perempuan." Lagi-lagi ia berucap.
Nadya menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.
"Aku berat di orang tua, May." ujarnya kemudian.
"Udah berapa tahun lo mengalah demi kepuasan batin mereka ngeliat lo menikah?"
Nadya kembali diam.
"Udah berapa lama gue tanya?" tanya Mayra lagi.
"Ini saatnya lo kasih tau ke mereka kalau lo juga berhak bahagia."
Nadya menatap sang sahabat.
"Ibu, kamu tau sendiri kan?. Dia paling takut aku jadi janda. Takut jadi omongan tetangga."
"Nad, orang tua juga harus mikir dan gunakan otak. Jangan hanya mikirin omongan orang. Persetan sama omongan orang, kalau anak sendiri menderita." lanjutnya Mayra.
"Nggak usah takut kalau misalkan orang tua lo marah. Lo jelaskan aja semuanya sama mereka. Dan kalau mereka masih nggak ngerti juga, bodo amat. Yang penting lo berani meraih kebahagiaan yang lo impikan."
"Kalau mereka nggak menganggap aku sebagai anak lagi?"
"Ya udah, bodo amat. Lo pikir orang tua di negara kita punya anak itu tujuannya apa coba?"
Mayra menatap dalam ke mata Nadya.
"Untuk ngurus mereka di masa tua, itu doang tujuan mereka." tukasnya lagi.
"So, kalau mereka membuang kita sebagai anak dan nggak mau mengakui kita lagi. Ya mereka yang rugi."
"Aku takut sama sumpah orang tua, May."
"Tuhan juga tau posisi kita, Nad. Orang tua mungkin asal bisa menyumpahi. Tapi Tuhan juga tau siapa yang disumpahi. Nggak usah penakut-penakut amat jadi orang. Lagian juga apa sih yang dipertahankan emak-bapak lo dari si Hanif?. Udalah jelek, tukang kawin lagi." tukas Mayra panjang lebar.
__ADS_1
Untuk kesekian kali Nadya diam.
"Ingat hidup cuma sekali, Nad. Jangan sia-sia kan, karena lo berhak bahagia. Kalau lo nggak tau caranya, nanti gue bantu untuk proses gugat cerai itu. Mau pengacara juga ntar gue sediakan. Gue juga yang bayar nggak masalah."
Nadya terus berpikir, dan kini semua ucapan Arkana tentang Richard turut memenuhi batin dan benaknya. Ada pria yang jauh lebih baik di dalam sana, jika ia mau berani melangkah dan meninggalkan segala luka yang telah diperbuat oleh Hanif.
***
Daniel mengadukan jika ia belum juga mendapat kandidat calon istri untuk Richard. Dan Lea menanggapinya sambil menyimpan rahasia dalam hati. Rahasia mengenai Richard yang saat ini tengah dekat dengan istri Hanif.
Sejatinya Lea ingin sekali memberitahu sang suami mengenai hal tersebut. Namun ia juga ingat pesan Richard, agar Daniel di posisikan sebagai orang yang tidak tahu-menahu perihal itu.
Sebab Daniel merupakan partner bisnis Hanif dan akan terasa sangat canggung serta tidak enak. Bila Daniel tau jika mertuanya menikung istri Hanif.
Meski tak menutup kemungkinan Daniel akan mendukung Richard sepenuhnya. Namun tetap saja Richard akan merasa tidak enak.
Sebab sedikit banyak hubungan diantara sang menantu dan juga Hanif akan renggang sekaligus rusak.
"Ya sabar aja, mas." ucap Lea.
"Saat ini aku liat ayah juga masih baik-baik aja." lanjutnya lagi.
Daniel tampak menghela nafas.
"Cewek sekarang agak susah, Le. Banyak tingkah dan maunya." tukas Daniel.
Kali ini Lea tertawa.
"Ya itu hak masing-masing ceweknya, mas. Mereka mau menentukan syarat seperti apa." tukasnya kemudian.
"Iya sih." jawab Daniel.
"Mas juga kalau punya anak perempuan nanti, bakalan ngasih syarat ini itu koq buat calon suaminya. Mustahil terima-terima doang tanpa menilai."
Daniel tertawa.
"Mas sama cowok-cowok pada umumnya yang sering bilang kalau cewek banyak tingkah itu, karena kalian ada diposisi bukan ayah dari seroang anak perempuan. Coba aja kalau kalian punya anak perempuan. Kalau nggak tingkah kalian lebih dari si anak perempuan itu sendiri nantinya. Kalian bakal memproteksi anak-anak kalian dari cowok yang nggak jelas, apalagi yang cuma ngajakin susah."
__ADS_1
Daniel kembali tertawa. Dalam hati ia membenarkan ucapan dari istrinya tersebut.