
"Kenapa lagi sih?"
Richard bertanya pada Lea, ketika lagi-lagi Lea mengajak ayahnya itu untuk bertemu hari ini secara mendadak.
"Mas Daniel, padahal udah janji nggak bakal marah-marah. Eh, ngambek sama aku gara-gara aku minta dia menemui ibunya. Kan aku cuma mau supaya dia nggak jadi anak durhaka, yah."
Richard menghela nafas, sambil tetap berkonsentrasi dalam menyetir mobil.
"Kamu kayak nggak tau Daniel aja. Orangnya emang keras begitu, ntar juga sadar sendiri. Diemin aja kalau dia lagi marah." ujar Richard.
Lea yang menghela nafas kali ini.
"Pada baper-baper banget orang tua. Faktor umur kali ya yah?"
Richard terbahak kali ini.
"Ayah lebih tua loh dari Daniel." ujarnya kemudian.
"Oh iya lupa yah, maaf."
Lea takut di pukul ayahnya dengan balok kayu, karena sudah mengatakan Daniel tua. Itu artinya termasuk Richard sendiri yang seumuran dengan Daniel, bahkan lebih tua sedikit.
***
"Le."
Daniel mengetuk pintu kamar Lea pada jam 9 malam. Saat itu Lea tengah mengerjakan tugas kampus. Daniel sejatinya sudah pulang ke rumah sejak sore tadi, namun baru malam itu ia memanggil Lea.
"Apaan mas?"
Lea membuka pintu sambil berujar pada Daniel.
"Koq kamu nggak keliatan sih dari tadi?. Nanyain aku udah makan apa belum, juga nggak. Nyamperin aku ke atas, nggak juga."
"Mas kan cuekin aku tadi pagi. Terus kata ayah, Daniel tuh diemin aja kalau lagi gitu. Ya udah, aku tinggalin ngerjain tugas, nonton drakor, order makanan."
"Order makanan apa kamu?"
Daniel menilik ke dalam kamar Lea. Ada banyak makanan disana, bahkan beberapa diantaranya baru sampai.
"Terus kamu nggak ngajak aku makan gitu?" Daniel sewot sekaligus keki.
"Ya aku kan nurutin kata ayah. Ayah bilang diemin, ya aku diemin. Ternyata berhasil."
__ADS_1
Lea nyengir tanpa dosa dihadapan suaminya itu. sementara kepala Daniel sudah berasap. Daniel menghela nafas, mencoba memasang wajah kesal pada Lea. Namun detik berikutnya ia bergerak secara tiba-tiba dan cepat. Pria itu mengambil beberapa bungkus makanan milik Lea dan berlarian keluar.
"Eh mas, itu kan punya aku." ujar Lea sewot.
Daniel berlari ke arah lift lalu masuk, sesaat kemudian ia menjulurkan lidahnya pada Lea.
"Weeeek."
Daniel pergi ke atas sambil membuka makanan yang ia curi. Lea hanya menghela nafas lalu tertawa.
"Dasar bocil tua." ujarnya lalu kembali ke kamar.
***
Esok hari sepulang kerja.
"Sana...!"
Richard dan Ellio mendesak Daniel yang kini tengah menatap ke arah sebuah meja di restoran. Ia dipaksa Richard dan Ellio untuk menemui ibunya di sana.
"Dan." Ellio menyerukan nama sahabatnya itu sekali lagi.
Daniel pun akhirnya mengambil nafas panjang dan menemui wanita itu. Ia muncul dan langsung duduk dihadapan sang ibu, dengan wajah yang cukup tegak namun dingin.
"A, apa kabar?"
Ibunya berujar meski dengan suara yang sedikit terbata-bata.
"Kelihatannya?" Daniel balik bertanya dengan nada yang tak begitu enak didengar. Sang ibu menundukkan sedikit wajahnya, lalu mencoba kembali menatap Daniel.
"Mama rindu kamu, Dan." ujarnya kemudian.
Daniel diam. Sang ibu berkata dengan mudah, seolah tak tahu betapa terlukanya Daniel selama ini.
"Saya sudah terbiasa sendirian, saya terbiasa mengurus diri sendiri saat saya sakit. Saya terbiasa mengatasi ketakutan saya sendiri, ketika saya bermimpi buruk. Saya terbiasa untuk tidak bergantung pada dua orang yang menyebut diri mereka sebagai orang tua, tapi mengabaikan tanggung jawab. Saya tumbuh sendiri, apa ada pernah sekalipun anda memikirkan saya. Atau minimal berusaha mencari tau kabar saya?"
Suara Daniel terdengar meninggi, hingga beberapa orang yang duduk di meja sekitarnya mendengar hal tersebut.
Richard sendiri rasanya ingin mendekat dan menjadi penengah diantara mereka. Namun Ellio menahannya untuk tetap di tempat.
"Sekarang anda sudah lihat saya kan?. Saya harap anda puas."
Daniel berlalu meninggalkan ibunya tersebut, tanpa memberikan kesempatan pada wanita itu untuk membela diri.
__ADS_1
Daniel keluar dari dalam restoran dan langsung masuk ke mobil. Richard menyusul Daniel, sementara Ellio menghampiri ibu Daniel dan mencoba menenangkannya.
Daniel mengemudi dengan kecepatan tinggi, diikuti Richard dari belakang. Pria itu kemudian berhenti di suatu tempat dan menangis sejadi-jadinya. Ia menangis seperti saat pertama kali ibunya pergi meninggalkan rumah.
Richard sendiri berhenti jauh di belakang mobil Daniel, dan mengamati serta mengawasi kalau-kalau Daniel berbuat hal yang tidak-tidak.
Setelah tangis Daniel sedikit mereda, pria itu mendapat telpon dari Richard. Namun ia tak mengetahui jika mobil Richard ada jauh di belakang mobilnya.
"Iya, bro."
Daniel menjawab dengan nada yang seolah tak terjadi apa-apa. Ia berusaha keras menyembunyikan kesedihan yang tengah ia rasakan.
"Ikut gue, ke tempat biasa." ujar Richard kemudian.
Tak lama Daniel segera menghidupkan kembali mesin mobil, lalu tancap gas meninggalkan tempat itu.
***
Hari beranjak malam, musik yang mengalun perlahan gegap gempita. Daniel duduk diam dihadapan Richard, lalu menenggak segelas alkohol yang ada di hadapannya.
"Tak."
Ia meletakkan gelas tersebut ke meja, lalu Richard kembali menuang dari dalam botol. Daniel minum lagi dan lagi. Sementara Richard berada dalam posisi sadar, karena ia harus menjaga Daniel.
Sementara di kediaman ibu Daniel. Ellio mengantar wanita itu, dan ia di sambut oleh dua orang muda. Bahkan lebih muda dari Ellio.
Dua orang muda tersebut berbicara dalam bahasa Turki kepada ibu Daniel. Tampaknya itu adalah saudara Daniel namun berbeda ayah. Ellio tak mengerti apa yang mereka katakan, namun salah satu dari mereka seolah bertanya dari mana ibu mereka tadi. Mereka juga kini menatap Ellio.
"Ellio, ini Hatice sama Kuzey, adiknya Daniel. Mereka bertanya apa kamu adalah kakak mereka, Daniel."
Ellio menatap kedua orang tersebut lalu berusaha untuk tersenyum. Mereka balas tersenyum pada Ellio.
"Terus, mama bilang apa ke mereka?"
"Mama bilang Daniel lagi nggak bisa datang, karena mengurus istrinya yang lagi hamil."
Hati Ellio pun tersentak, antara tak tega sekaligus sedih yang ia rasakan. Namun ia juga tak bisa menyalahkan sikap Daniel pada ibunya tadi.
Sebab Daniel juga menanggung kesakitannya selama ini. Ia tumbuh tanpa ibu, dan sang ayah Edmund seperti mati untuknya. Wajar bila Daniel memendam kemarahan yang begitu besar.
Sebab ia telah kehilangan semuanya di usia yang bahkan masih remaja. Akibat keegoisan orang tua, ia memiliki banyak memori buruk tentang masa lalunya.
Kini Daniel hanya ingin menenangkan diri, dan berharap jika semua yang ia hadapi hari ini tak pernah terjadi.
__ADS_1