Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bersalah


__ADS_3

Lea terpaku di kursi tunggu, instalasi gawat darurat. Bukan karena ia tengah menunggu seseorang yang sedang mendapat perawatan. Daniel masih berada di kamarnya dan dalam keadaan yang stabil.


Lea hanya duduk disitu, karena bingung harus lari kemana. Sementara di dalam ruang rawat, Daniel termenung dan membuang tatapan ke suatu sudut, sama seperti apa yang dilakukan Lea kini.


Betapa tidak, kejadian saat ia terjatuh dan tanpa sengaja mencium Daniel tadi. Telah membuat seluruh dunianya berubah.


Daniel sendiri teringat, ketika ia terbangun dan mendapati bibir Lea persis menempel di bibirnya. Lea menatap Daniel dan begitupun sebaliknya. Entah setan apa yang merasuki, hingga tangan Daniel merangkul pinggang gadis itu, lalu mencium bibirnya cukup lama.


Lea sedikit memberontak, namun tangan Daniel yang lain tiba-tiba meremas salah satu dari bongkahan kenyal miliknya yang paling berharga. Seketika Daniel pun teringat berapa usia Lea saat ini, pria itu langsung menyudahi semuanya dan suasana pun menjadi canggung.


Lea terlihat ketakutan sekaligus bingung dan aneh. Sementara Daniel kini dilanda rasa bersalah, betapa ia telah mulai terlihat seperti seorang pedofil. Lea masih dibawah umur, apabila ia ingin melakukan semua itu. Setidaknya Lea bisa melakukannya dengan anak laki-laki yang seumuran.


Momen itu juga mestinya menjadi momen paling memorable bagi Lea. Karena harusnya dilakukan atas dasar suka sama suka, dengan orang yang dia inginkan. Bukan dengan om-om arogan berusia dewasa seperti Daniel.


"Hhhh." Daniel membenamkan kepalanya pada kedua tangan, hatinya kini begitu resah.


"Dan, udah. Gue tau lo ngerasa bersalah, cobalah untuk bicara sama dia dan minta maaf."


Ellio berujar pada Daniel, ketika akhirnya Daniel menceritakan kejadian tersebut. Kini mereka juga tengah berbicara dengan Richard, dalam sambungan video call. Sementara Lea masih terpaku jauh didepan sana.


"Gue kenapa sih?" tanya Daniel pada Ellio.


"Dia itu seumur Hans, masih anak-anak." lanjutnya lagi.


Daniel agaknya sangat menyesali perbuatannya kali ini. Ia ingat betapa kagetnya Lea mendapat perlakuan seperti itu darinya.


Meskipun Daniel menemukan Lea pada sebuah agency, yang memang menjual boneka peliharaan. Namun Daniel sejatinya tak sebejat om-om lain, yang mungkin bisa saja meniduri gadis seusia Lea dengan mudah.


"Dan, anak seusia dia udah banyak yang ditiduri pacarnya."


"Kalau mereka melakukan dengan consent, itu urusan mereka Ellio. Tapi ini Lea dan gue nggak ada hubungan apa-apa, it's ok kalau dia juga mau melakukan itu. Tapi masalahnya tadi, gue ngeliat ketakutan dimata dia. Kalau psikisnya terganggu gimana?. Bisa-bisanya gue ngelakuin hal itu."


"Tapi lo nggak sampe nidurin dia kan?"

__ADS_1


"Iya, tapi tetep aja. Gue ngerasa bersalah, andai dia udah berusia di atas 17 tahun aja. Gue nggak akan gini banget rasanya."


"Ya udah, kayak kata Ellio tadi. Aja bicara aja, bro. Lo minta maaf." ujar Richard pada Daniel.


Sejak tadi Richard menyimak, dan membiarkan Daniel mengungkapkan semua perasaan yang ia risaukan.


"Gue besok mau pulang." ujar Daniel, membuat Richard dan Ellio tersentak.


"Tapi, Dan."


"Please...!"


Daniel menatap Richard dan Ellio penuh harap.


"Biar gue dirawat dirumah aja, gue nggak bisa berpikir jernih disini."


"Ok."


Richard memutuskan, sementara Ellio akan menuruti. Hal apapun yang terjadi pada Daniel, Richard lah yang lebih banyak memberi saran. Sementara Ellio hanya mengekor.


Lea kembali ke kamar Daniel, tepat setelah satu setengah jam ia menghilang entah kemana. Ellio berpura-pura tidak mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sementara Daniel lebih banyak diam dan menatap gadis itu. Ia merasa begitu bersalah, seperti ingin meminta maaf. Namun terhalang sikap Lea yang mendadak dingin.


Gadis itu mengurus segala keperluan Daniel, tanpa berani menatap matanya. Ia masih ketakutan dan refleks menjauhkan tubuhnya, apabila Daniel tanpa sengaja menyentuh gadis itu.


Ia belum pernah di jamah di bagian tersebut, bahkan oleh Rangga yang pernah menjadi kekasihnya sekalipun. Ya, ia dan Rangga bahkan belum sempat berciuman. Hubungan mereka keburu kandas, karena ulah orang tua Rangga dan juga Sharon.


Ketika akhirnya Daniel pulang ke rumah, atas dasar permintaan Daniel sendiri. Suasana dirumah pun tak begitu jauh. Lea mengurus segala keperluan Daniel, tanpa berani berbicara banyak atau menatap mata pria berusia 35 tahun tersebut.


Daniel mencari-cari celah dan waktu untuk berbicara serta meminta maaf, karena Lea seakan tak memberikan ruang sama sekali.


"Lea."


Lea terkejut sekaligus terpaku, menatap Daniel yang kini turun ke lantai tempat dimana ia berada. Daniel sudah tidak tahan lagi menanggung beban dan rasa bersalah. Lea hendak berlalu, karena takut terjadi hal yang lebih buruk.

__ADS_1


Namun kemudian Daniel mencengkram lengan gadis itu. Lea memberontak, Daniel mempererat cengkraman tangannya. Mata pria dewasa itu terus tertuju pada Lea.


"Maafin saya."


Daniel berujar pada gadis itu, sementara Lea makin terkejut dan terdiam. Ia sudah mengira jika Daniel akan mengunakan otoritasnya, untuk melanjutkan aksi bejat.


"Maafin saya Lea, saya nggak ada maksud melakukan itu. Itu terjadi begitu saja."


Lea menunduk, betapa ia mengingat saat nafas Daniel memburu penuh gairah. Ia seperti orang yang begitu haus akan kenikmatan. Arogansinya saat mencium bibir serta meremas dada Lea, masih terbayang di benak gadis itu.


"Kamu pegang ini."


Daniel menyerahkan sebilah pisau tajam berukuran sedang kepada Lea. Gadis itu tersentak, kali ini ia menatap mata Daniel. Sementara yang ditatap tak bergeming. Ia masih menyodorkan pisau tersebut dan berharap Lea mengambilnya.


"Saya nggak mau kamu hidup dalam ketakutan disini, ambil ini. Kalau saya berbuat hal seperti itu lagi, kamu bisa gunakan ini untuk melawan."


Lea terpaku menatap pisau tersebut, perasaannya kini campur aduk.


"Atau kamu mau pulang ke keluarga kamu?. Saya akan kasih kamu uang, berapapun yang kamu minta. Asal kamu berjanji untuk tidak menerima ayah saya, apabila dia mencoba mendekati kamu lagi."


Lea makin diam, tak tau harus berbuat apa. Yang jelas pulang ke rumah, tak menjadi hal yang ia inginkan. Mengingat sang ibu yang belakangan seolah memanfaatkan dirinya. Belum lagi hubungannya dengan sang ayah tiri yang tak begitu baik.


Lagipula jika ia menerima uang dari Daniel, uang tersebut bisa saja habis dan ia kehilangan sumber penghasilan. Karena setelah itu, Daniel tak mungkin akan memberinya lagi. Sedang ia belum begitu mampu mengatur keuangan.


Ia masih satu tahun lagi di SMA dan akan melanjutkan kuliah. Ia mungkin bisa saja melanjutkan kuliah sambil bekerja, tapi itu akan terasa sangat berat. Terutama dalam hal pembagian waktu.


"Ok, kalau kamu nggak mau terima ini."


Daniel mencabut pisau tersebut dari sarung yang menutupi dan langsung mengarahkan ke tubuhnya sendiri. Refleks Lea menahan tangan Daniel dan menghalau aksi nekat pria itu.


Daniel terdiam, Lea merebut paksa pisau tersebut dan melemparnya ke lantai. Itu bukan gertakan semata, Lea dapat melihat ada kekacauan emosi didalam diri Daniel. Ya, seperti seseorang yang sedikit terganggu mentalnya. Daniel terlihat benar-benar menyalahkan diri sendiri.


"Sebaiknya om istirahat."

__ADS_1


Lea membawa pria itu kembali ke atas dan membaringkannya di tempat tidur. Daniel masih diam terpaku, ketika Lea menyerahkan tablet obat dan air minum padanya.


Ia lalu meminum obat tersebut, tak lama setelah itu Lea mengurangi bantal yang digunakan oleh Daniel. Kini pria itu dalam posisi terbaring, beberapa saat berlalu pengaruh obat mulai menguasai tubuhnya. Daniel perlahan terlelap di hadapan Lea.


__ADS_2