Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Karma (Extra Part)


__ADS_3

Flashback.


Kembali ke sesaat setelah Nadya bertemu dengan Richard. Wanita itu dipanggil oleh ibu mertuanya.


"Iya bu." ujar Nadya kala itu.


"Kamu itu dari mana saja, harusnya kamu mengurus dan membereskan segala keperluan suamimu. Dia itu baru menikah, kamu yang harus menghandle semuanya. Kamu kan istri tua di rumah tangga ini."


"Baik, bu." jawab Nadya.


"Sana, kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Seorang istri itu mesti multi tasking, nggak harus diperintah dulu."


"Baik, bu."


Nadya berlalu.


"Salma."


Ibu Hanif kembali memanggil kakak perempuan Hanif.


"Iya, bu."


"Panggilkan itu istri kedua adikmu. Suruh menghadap ibu!"


"Baik, bu."


Maka Salma pun bergerak mencari istri kedua Hanif dan tentu saja ia mendapat peringatan yang sama dengan Nadya.


Richard berpamitan ketika acara telah usai, namun Nadya tak pernah terlepas dari ingatannya.


Sebelum turun ke bawah, ia ada sempat melihat wanita itu sekilas. Nadya juga tanpa sengaja melirik ke arah Richard. Kemudian pintu memisahkan pandangan mereka.


Nadya lanjut mengurus ini itu. Bahkan membereskan beberapa peralatan yang mesti dibereskan. Ia menjadi yang paling disibukkan di hari tersebut.


Ketika lelah, dan wedding organizer telah berkumpul untuk membongkar set. Nadya ingin beristirahat sejenak dan kembali ke kamarnya.


Kebetulan suami dari wanita itu menyewa beberapa kamar di hotel yang terdapat pada gedung tersebut. Termasuklah kamar pengantin.


Nadya melangkah, ia lupa jika kamarnya bersebelahan dengan kamar pengantin. Maka ketika ia melintas, suara-suara yang menyakitkan hati pun terdengar di telinga.

__ADS_1


"Hmmh, mas. Aaaah, aaaah, aaaah."


"Enak kan dek, hmm?"


"Iya mas, enak."


"Mas mau bikin perut kamu makin buncit, hmmh, aaah. Terima ini sayang."


"Aaaah, aaaah, mas, mas, mas."


Nadya menutup kedua telinganya dengan hati yang tersayat. Tubuh suaminya kembali menyentuh tubuh wanita lain. Ia membayangkan adegan tersebut ada di depan matanya.


Memang mereka sudah sah sekarang. Tetapi ia sakit dan jiwanya seperti di cabik-cabik. Mudah saja orang mengatakan, ikhlaskan suami yang menikah lagi. Jadilah wanita yang berhati seluas samudera.


Namun pada kenyataannya jangankan samudera. Untuk meluaskan hati sebesar got hitam saja sangat sulit. Nadya tak jadi kembali ke kamar. Ia memilih untuk beristirahat di tempat lain.


Sementara di lain sudut istri kedua Hanif tampak menelpon temannya dan bercerita disana.


"Lo lagi kena karma say."


Temannya itu blak-blakan bicara padanya. Karena dulu temannya itu sempat mengingatkan ia untuk tidak berselingkuh dengan Hanif, apalagi ia memiliki suami yang baik meski berpenghasilan pas-pasan.


"Ya gimana ya, laki gue aja masa cuma ngasih tiga juta perbulan. Lo pikir aja, cukup kemana tiga juta perbulan. Belum makan, belum keperluan anak." ujar istri kedua Hanif kala itu.


"Ini si Hanif mampu ngasih gue dua puluh juta perbulan, gimana gue nggak mau coba dijadikan istri kedua." lanjutnya lagi.


Saat itu sang teman tak mampu berkata banyak. Dan kini istri kedua Hanif harus membayar konsekuensinya.


Bahwa ternyata ia bukanlah yang terakhir. Melainkan masih ada lagi yang dinikahi oleh Hanif.


"Sekarang mantan laki lo si Didi, dia udah sukses. Udah jadi bos franchise ayam goreng dan minuman es teh. Banyak yang kerjasama sama dia di berbagai wilayah."


Teman istri kedua Hanif menyinggung soal mantan. Istri kedua Hanif kemudian terdiam.


"Coba dulu lo lebih sabar nunggu, sampai suami lo sukses." lanjut temannya itu lagi.


"Dia mau nggak ya, gue ajak balikan?" istri kedua Hanif bertanya dengan tak tahu malu.


"Lo telat, beb. Si Didi udah mau nikah lagi. Calon istrinya masih muda, gadis, baru lulus S2. Gue sih pernah ketemu, orangnya cantik dan ramah."

__ADS_1


Istri kedua Hanif makin diam, kini ia menyesali perbuatannya yang begitu keji. Perlahan ingatannya tertuju pada saat pertama kali ia bertemu dengan Hanif.


Kala itu dirinya tengah bekerja sebagai salah satu sales promotion girl atau SPG, untuk sebuah produk parfum mahal.


Ia turut bekerja guna mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sebab sang suami hanya mampu menafkahi sebesar tiga juta perbulan. Sedang ia mempunyai mimpi memiliki uang beratus juta.


Kala itu Hanif datang ke toko parfum, tempat dimana ia bekerja. Kebetulan SPG lain tengah disibukkan oleh pelanggan. Maka ia yang turun tangan melayani Hanif.


Saat melihat dirinya, Hanif seperti terpesona. Meski wajah Hanif non good looking. Namun dari segi penampilan, pembawaan, serta beberapa gadget mahal ditangannya. Mampu mendeskripsikan kalau Hanif bukanlah seorang laki-laki susah.


Ditambah lagi pria itu masuk ke sebuah toko parfum yang harganya untuk kalangan menengah ke atas. Jadilah istri keduanya memanfaatkan momen hari itu dengan baik.


Ditambah Hanif memang tak bisa melihat wanita yang bening sedikit. Apalagi yang beberapa di bagian tubuhnya terlihat montok. Ia jadi berhasrat ingin berada di tempat tidur yang sama.


Hari berlalu.


Sejak pertemuan hari itu mereka lalu janjian untuk makan malam. Hanif ada meninggalkan kartu namanya saat setelah selesai membeli parfum.


Mereka bertemu, kemudian berakhir dengan saling menggoyang di kamar hotel. Hanif pun jadi tergila-gila, meski ia akhirnya tau sang istri kedua kala itu masih memiliki suami.


Mereka backstreet layaknya ABG yang sedang kasmaran. Hingga kemudian istri keduanya itu hamil dan perselingkuhan mereka terbongkar oleh suami dari istri keduanya itu.


Hanif pasang badan menyelamatkan sang pujaan hati. Ia membuat keduanya bercerai. Lalu mengakui jika istri keduanya itu adalah janda, di depan Nadya.


Ia bilang ingin memuliakan dan mambantu si janda. Padahal istri keduanya itu jadi janda akibat ulahnya, yang tidak bisa menahan hasrat terhadap istri orang.


Nadya tentu saja terpukul saat itu. Ia menangis dan mengadu pada sang mertua. Namun mertua perempuannya mengatakan jika Hanif ingin menikahi seorang janda, itu merupakan perbuatan mulia dan harusnya di dukung.


"Jadi istri itu cukup nurut saja apa maunya suami. Suami itu pemimpin dalam rumah tangga dan berhak menentukan apapun."


Begitulah kira-kira yang dikatakan sang mertua padanya. Hingga Nadya pun merasakan sakit yang teramat sangat bahkan sampai detik ini.


Saat itu ia juga mengadu pada orang tuanya. Namun sang ibu justru enggan Nadya bercerai, meski telah nyata di sakiti.


"Jadi janda itu tidak enak, Nad. Nanti di gunjingkan orang. Lagipula wajar laki-laki itu menikahi banyak perempuan. Ibu saja ini istri kedua ayahmu."


Nadya diam, ibunya lebih takut digunjingkan orang ketimbang khawatir anaknya menderita dan makan hati. Dan soal ibunya adalah istri kedua, mungkin saja ini adalah karma dari orang tuanya.


Sang ayah sering menduakan perempuan, kini anaknya ditigakan. Sang ibu merebut, kini suami anaknya direbut. Dan Nadya yang tak bersalah harus menanggung semuanya.

__ADS_1


__ADS_2