Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ketahuan (Bonus Part)


__ADS_3

"Heh Delil kamu koq gitu sama mama."


"Brzrzrzr."


Darriel yang baru belajar menyemburkan ludah itu membasahi wajah ibunya.


"Nggak boleh ah, delil jorok nih." ucap Lea pada sang anak.


"Heheee."


Darriel tertawa. Lea mengambil tissue dan mengelap bibir anak itu.


"Heheee."


"Hehe, hehe. Bisanya hehe doang."


Lea menggelitik Darriel, dan bayi itu pun kian tertawa.


"Hikyaaa." Ia bersuara.


"Ikut mama ke kampus yuk, mama cuma mau ngumpulin tugas doang sambil mejeng dan ketemu temen mama."


"Heheee."


"Mau ya?" tanya Lea sekali lagi.


"Tapi kita jangan kasih tau papa Rich. Kalau dia tau bisa-bisa kamu disuruh titip ke rumahnya."


"Heheee."


"Ya udah, mama siap-siap dulu."


Lea pun bersiap, kemudian ia memakaikan Darriel baju ganti, sebab baju yang ini sudah terkena tetesan susu.


Saat Darriel sudah bersih, rapi, dan wangi. Lea menyiapkan cooler bag, ASI, pumping serta botol susu dan juga popok. Ia lalu membawa bayi itu menggunakan stroller.


Di sepanjang perjalanan Darriel cukup anteng dan tidak menangis. Setiap kali mobil melintasi polisi tidur, saat itu juga ia tertawa-tawa.


"Heheee."


"Nih mas, anak mas. Setiap mobil lewat polisi tidur, dia ketawa."


Lea mengirim video Darriel pada sang suami. Daniel jadi ingat saat ia kecil, sekitar usia tiga atau empat tahun. Kala itu setiap naik mobil dan melewati polisi tidur, ia juga tertawa-tawa. Seakan mendapat kesenangannya tersendiri.


"Mungkin dia merasakan sensasi yang menyenangkan." ucap Daniel.


"Wkwkwkwk, iya kali ya." jawab Lea.


"Kalian mau jalan?" tanya Daniel pada istrinya itu.


"Nggak mas, mau ngampus dan ngumpulin tugas." jawab Lea.


"Sekalian ketemu temen sih, hehe." lanjutnya kemudian.


"Oh ya udah, yang penting jaga diri dan jaga Darriel baik-baik."

__ADS_1


"Iya mas." jawab Lea lagi.


"Mas udah makan siang?" tanya perempuan itu.


"Belum, kan belum siang."


"Oh iya, basa-basi banget sih aku. Hahaha." balas Lea.


"Yang penting jangan hubungan kita yang basi." ketik Daniel lagi.


Lalu ia mengirimkan kata-kata tersebut.


"Eaaaa." balas Lea.


"Om-om gombal." lanjutnya lagi.


"Daripada om-om gila, mending gombal ya kan?"


"Sekarepmu lah mas. Wkwkwkwk."


"Ya udah hati-hati di jalan ya. Bilang sama supir jangan ngebut banget."


"Iya mas."


"Aku sayang kalian."


"Kamu sayang kamu."


"Bye, muach."


Percakapan tersebut pun di sudahi. Sementara mobil terus merayap menyusuri jalan demi jalan.


Ketika melintas di sebuah rumah sakit, Lea melihat Richard menyeberang jalan dan masuk ke sebuah minimarket yang ada di seberang rumah sakit tersebut.


"Ayah?" gumam Lea seraya memperhatikan.


"Non Lea, itu tadi kayak pak Richard ya?"


Sang supir juga sama menyadari.


"Iya pak, ngapain ya ayah jam segini disini. Bukannya ngantor." tanya Lea.


"Cek kesehatan kali mbak." jawab si supir.


Seketika Lea teringat perihal dugaannya dan juga Daniel serta Ellio, mengenai penyakit yang di derita Richard. Hati Lea pun mendadak kembali sedih.


"Gimana non, mau disamperin pak Richard-nya?" tanya si supir lagi.


"Iya pak, kita mampir dulu aja." ucap Lea.


Maka supir itu pun memutar balik arah dan masuk ke dalam area parkir rumah sakit.


"Saya titip Darriel ya pak, sebentar aja." ucap Lea.


"Oh iya non." ucap supir itu kemudian.

__ADS_1


Lea percaya melakukan hal tersebut, sebab supir Daniel ini memang orangnya baik serta jujur dan taat beribadah.


Lagipula Daniel dan Lea mengetahui rumah dan juga siapa keluarganya. Dan bukan sekali ini saja Lea meminta tolong menjaga Darriel, melainkan sudah berulangkali.


Semisal Lea mendesak harus membeli sesuatu. Pasti Darriel ia tinggalkan di dalam mobil bersama supir.


Kini Lea melakukan hal yang sama, demi bisa mengikuti Richard. Beruntung saat baru saja mobil mereka terparkir dan baru saja ia turun Richard melintas. Lea melihat pria itu.


Segera saja ia menyusul. Ia ingin tau apakah ayahnya tersebut sekedar memeriksakan kesehatan atau untuk hal yang lebih serius lagi. Maka Lea pun menguntit dari belakang.


Richard ada menoleh sejenak, seperti merasa terhubung dan diikuti. Namun Lea memalingkan wajah ke arah lain, sehingga Richard kembali berbalik dan melanjutkan langkah.


Lea terus mengikuti Richard. Hingga sampailah pria itu di muka sebuah kamar, di bangsal anak-anak.


Lea diam, dalam hatinya ada apakah gerangan. Anak siapa yang tengah di kunjungi oleh Richard di bangsal tersebut.


Richard melangkah ke sebuah kamar dan masuk kesana. Karena di dera rasa penasaran yang cukup tinggi, Lea pun akhirnya mengikuti. Sambil celingukan ke kanan dan ke kiri, ia mendekat.


Beruntung koridor bangsal tersebut cukup sepi, sehingga tak ada yang menyadari pergerakannya.


Lea membuka sedikit pintu kamar rawat yang tadi dimasuki oleh sang ayah. Perlahan ia pun mengintip. Tampak Richard sedang menyuapi seorang anak kecil laki-laki.


Lea bertanya-tanya dalam hati mengenai siapa anak kecil tersebut. Tak lama terdengar langkah, Lea buru-buru berjalan ke arah lain dan menyelinap di balik sebuah tembok.


Seorang perempuan mendekat ke arah kamar itu dan Lea memperhatikannya secara seksama. Seketika perempuan muda itu pun terkejut. Sebab ia mengenali siapa orang yang mendekat ke kamar itu.


"Ya, itu Nadya istri Hanif. Si ikan patin yang doyan kawin."


Nadya tampak masuk ke ruangan itu, Lea menunggu apakah Hanif ada menyusul di belakangnya. Namun setelah beberapa detik berlalu, tak ada tanda-tanda Hanif akan datang.


Lea tiba-tiba jadi curiga ke arah lain. Masih celingukan dan memperhatikan kanan kiri seperti tadi, ia pun kembali mendekati kamar tersebut. Ia kembali membuka pintu dan mengintip.


Saat itu yang terlihat di mata Lea adalah sebuah kegembiraan. Dimana si anak kecil laki-laki tampak di cium keningnya oleh Richard, dan mereka pun lalu tersenyum satu sama lain. Termasuklah Nadya, si istri Hanif. Wanita itu juga tampak tersenyum lalu turut mencium si anak kecil.


Seketika Lea kembali kaget. Sebab benaknya kini membentuk spekulasi mengenai apa yang ia saksikan tersebut.


"Apa jangan-jangan itu anaknya dia sama Hanif?" pikir Lea.


"Kalau benar iya, mengapa Richard ada disini. Apa hubungan kedua orang itu dengan sang ayah?"


"Atau jangan-jangan?"


Lea menutup mulutnya, tiba-tiba seseorang lain datang.


"Maaf mbak, mbak siapa ya?"


Lea kaget, Richard, Nadya dan anaknya menoleh ke arah pintu. Yang barusan datang itu adalah Putri, asisten rumah tangga Nadya. Richard tak kalah terkejut dengan kehadiran Lea, sementara yang lain tak mengenali.


"Lea, kamu ngapain disini?" tanya Richard pada anaknya itu.


"Dia siapa pak?" tanya Nadya pada Richard.


"Dia anak saya." jawab Richard.


Tak lama Richard pun membawa Lea untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2