
"Sekretarisnya mas Dan tuh, judes banget tau mukanya."
Lea curhat pada Vita dan Nina di telpon, ketika Daniel tengah menyelesaikan sesi terakhir pertemuannya hari ini.
"Untung lo datang kesana, kalau nggak bisa-bisa laki lo digodain." ujar Vita.
"Bener, sekuat-kuatnya iman laki-laki. Kalau udah di suguhin depan mata, bisa runtuh juga." timpal Nina.
"Tapi gue lega sih, nyusul kesini. Gue nya nggak kepikiran dan bisa tidur nyenyak." ujar Lea.
"Ya udah, Le. Intinya setiap ada celah, lo jagain laki lo. Jaman sekarang cewek gatel mah mau aja, apalagi laki lo ganteng, mapan begitu." ujar Vita.
"Yes, kadang cowok mukanya mirip ulekan ayam geprek aja, ceweknya dimana-mana." Nina menimpali, Lea dan Vita mendadak tertawa.
"Anjir, ulekan ayam geprek dong." ujar Lea.
"Sering kan ngeliat kasus pelakoran di sosmed?" tanya Nina.
"Iya-iya, hahaha." Lea dan Vita menjawab di waktu yang nyaris bersamaan.
"Udalah muka pas-pasan cowoknya, main perempuan sana-sini. Selingkuh sana-sini." lanjutnya lagi.
"Iya bener banget tuh, ada juga artis. Yang komedian, muka minim kelakuan minus." ujar Lea.
"Hahaha, yang nambah bini muda mulu itu ya?" tanya Vita.
"Bener, kesel banget gue ngeliatnya. Kalau lo ganteng sih ok lah, jadi playboy. Ini ganteng jauh, sok jadi casanova."
"Hahaha."
Mereka lanjut berbincang sambil tertawa-tawa. Sementara di sebuah pusat perbelanjaan, ibu Lea tengah memilah-milah barang. Ia tengah belanja kebutuhan sehari-hari, ia terus melihat-lihat diantara rak-rak yang menyajikan softener pakaian. Sampai kemudian,
"Braaak."
Tiba-tiba bahunya ditabrak seseorang.
"Sorry, sorry." ujar orang tersebut. Namun kemudian mereka terpaku satu sama lain.
"Herdi?"
Ibu Lea mengenali orang tersebut. Tak lama kemudian, mereka sudah terlihat duduk di sebuah tempat makan sambil berbincang dengan serius.
"Jadi, lo hamil gara-gara malam itu?"
Ibu Lea mengangguk, matanya tertunduk dalam. Pria bernama Herdi itu menatapnya dalam-dalam.
"Anak itu?"
__ADS_1
"Dia sudah 17 tahun dan sekarang sudah menikah."
"Me, menikah?" Herdi syok dengan apa yang dia dengar.
"Lo mengizinkan anak umur segitu menikah?" tanya nya kemudian.
Ibu Lea menghela nafas.
"Mau gimana, anaknya yang mau. Dia kayaknya nggak mau hidup susah sama ibunya. Gue susah membesarkan anak itu sendirian, sementara gue nggak tau dimana bapaknya."
"Tunggu...!"
Herdi kembali menatap ibu Lea.
"Di pesta gue itu, gue inget lo sama siapa."
"Dia itu temen lo?" tanya ibu Lea.
"Bukan sih, tapi gue tau dia datang sama siapa. Dia datang sama temen gue, Ferry."
"Lo tau dimana Ferry-Ferry itu sekarang?" tanya ibu Lea lagi, Herdi pun mengangguk.
"Beberapa minggu yang lalu, gue sempat ketemu dia. Tadinya dia tinggal di luar negri, tapi sekarang udah balik. Gue akan ketemukan lo sama dia, tapi lo yakin emang bener temennya dia yang ngelakuin?"
"Iya, gue yakin 1000%. Sebab gue nggak ada hubungan lain sebelum itu, gue hamil sama dia."
"Ok, gini deh. Lo catat ini kontak gue." ujar Herdi. Ibu Lea pun lalu menyimpan nomor Herdi di handphonenya.
***
"Lo liat nggak sih, gosip yang lagi viral di sosmed?. Soal agency dan sekolah modeling yang ternyata penyalur para sugar baby."
Seorang mahasiswi kampus, tempat dimana Sharon menimba ilmu tampak berbicara pada sahabatnya. Mereka tengah melintas di dekat Sharon, Maya, dan juga Tasya yang tengah duduk sambil menikmati es boba.
"Sebenernya sugar baby nya nggak bisa menuntut banyak sih." Teman si mahasiswi yang melintas itu, menjawab.
"Namanya juga lo pengen cari duit dengan cara instan, menjual diri. Ya resikonya begitu, kena tipu." lanjutnya kemudian.
"Iya sih." jawab si mahasiswi.
"Rata-rata cowok yang doyan melihara cewek lain itu kan, pasti punya bini. Biasanya mereka cari cewek, yang bisa diajak susah dan mau menemani mereka dari nol. Nggak masalah ceweknya nggak cakep, yang penting mau mengerti kesusahan mereka. Pas udah kaya, bukannya mendandani istri supaya jadi cakep. Eh malah nyari perempuan lain diluar, yang masih muda, masih legit. Ceweknya mau-mau aja lagi, sama laki orang."
"Cewek-cewek nggak punya harga diri." ujar si mahasiswi.
"Emang. Jadi perempuan itu kerja kek, bisnis kek. Malah nyari sugar daddy, kebelet pengen iPhone terbaru jadinya begitu."
Teman si mahasiswi kembali nyeletuk dan keduanya tertawa-tawa. Sesaat kemudian mereka berlalu, membuat Sharon dan kedua temannya saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Lo nggak mau manfaatin momen?" tanya Maya pada Sharon. Gadis itu tersenyum sinis, ia menarik salah satu sudut bibirnya.
"Kita cek ombak aja dulu, liat arahnya kemana. Biar enak menghantam si Lea dan teman-teman tukang jual dirinya itu."
Sharon kembali menatap kedua temannya, dan sesaat kemudian mereka tertawa-tawa.
***
"Marsha."
"Iya pak."
Marsha mendekati Daniel ketika urusan mereka telah selesai.
"Berapa nomor rekening kamu?"
"Mmm?".
Marsha bingung, kenapa tiba-tiba Daniel menanyakan nomor rekeningnya. Bahkan di depan Lea yang ia pikir adalah kekasih Daniel, padahal istri. Namun melihat Daniel yang terus menatap dirinya, Marsha pun menyerahkan nomor rekening pada pria itu.
"Ini pak, nomornya." ujar Marsha.
Daniel kemudian berkutat dengan handphonenya.
"Ini saya udah transfer bonus buat kamu, karena kamu sudah menemani saya. Saya juga kasih ekstra buat ongkos kamu pulang, karena saya masih mau disini dua hari lagi sama istri saya."
"What, istri?" Marsha berujar dalam hati saking terkejutnya ia.
"Ini cewek piyik, bininya bos?" Ia kembali berujar dalam hati, jujur ia masih tak percaya pada apa yang ia dengar. Ia menatap Lea dari atas ke bawah, Lea balas menatapnya.
"Marsha?" Daniel memanggil sekretaris barunya itu.
"Mmm, iya pak. Terima kasih, pak."
Daniel tersenyum, ia memang biasa memberikan bonus terhadap karyawan yang ia nilai bagus cara kerjanya. Dan ini adalah awal yang bagus untuk Marsha, Daniel suka dengan cara gadis itu bekerja.
Marsha pulang terlebih dahulu ke Jakarta, sementara Daniel masih berada di Bandung bersama sang istri.
"Mas."
Lea berujar ketika Marsha telah pamit dan kembali ke kamar hotel untuk berkemas.
"Hmm?"
"Kulineran yuk...!" ajak Lea.
"Mmm, mandi dulu tapi ya. Gerah banget aku soalnya."
__ADS_1
"Ya udah, aku juga mau ganti baju."
Daniel tersenyum, detik berikutnya mereka sama-sama kembali ke kamar.