
Hari demi hari berlalu, sidang perceraian antara Hanif dan Nadya pun akhirnya di gelar. Richard tak tau persis detail yang terjadi.
Sebab ia tak ingin ikut campur terlalu dalam mengenai hal tersebut. Ia hanya berharap semuanya dapat terselesaikan dengan baik dan sesegera mungkin.
Bukan perkara ia ingin terburu-buru menikahi Nadya. Tapi hanya ingin wanita itu segera bebas dari penderitaan dan siksa batin yang ia alami selama ini. Richard ingin Nadya dan anaknya Arkana bisa menjalani kehidupan yang bahagia tanpa tekanan.
"Bro."
Richard tersadar dari lamunannya, dan ternyata Daniel telah ada di depan mata pria itu. Saat ini mereka tengah berada di kantor.
"Sejak kapan lo disitu?" tanya Richard kaget.
"Sejak jaman batu."
Daniel menjawab seraya menyerahkan sebungkus plastik yang entah berisi apa.
"Apaan nih?" tanya Richard heran.
"Kata lo tadi pengen kepiting saos Padang, ini gue beliin."
Daniel menyerahkan bungkusan tersebut dan Richard pun menerimanya.
"Emang gue minta kepiting tadi?"
Richard masih lupa akan semua itu.
"Lah iya." jawab Daniel.
"Lo kenapa sih?. Banyak pikiran?" tanya nya kemudian.
Richard menarik nafas agak dalam.
"Nggak sih." jawab pria itu berusaha menyembunyikan.
Padahal saat ini ia tengah terpikir akan proses persidangan cerai antara Nadya dan juga Hanif.
"Perusahaan lo nggak ada masalah kan?"
Daniel agak curiga pada sang mertua.
"Nggak sih, baik-baik aja." jawab Richard.
"Lo yakin?" Daniel memastikan.
"Yakin." jawab Richard.
"Ya udah, lo makan gih!" ujar Daniel.
Meski masih merasa curiga, namun pria itu memilih untuk beranjak. Sebab ia ada janji makan siang bersama Lea di luar.
__ADS_1
"Lo nggak mau makan disini bareng gue?" tanya Richard.
"Gue ada janji sama Lea." jawab Daniel.
"Oh gitu. Ellio mana?"
"Sama bininya di kantin."
Richard mengangguk-anggukkan kepala.
"Ya udah, makasih." ujar pria itu.
Daniel balas mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Ia keluar dari kantor dengan menggunakan mobil dan bertemu dengan Lea di sebuah tempat makan. Tempat itu berada tak begitu jauh.
Sesampainya disana, Daniel langsung bercengkrama dengan Darriel yang berada di dalam stroller.
"Mas mau pesan apa?" tanya Lea seraya menyodorkan buku menu pada sang suami. Maka Daniel pun lalu memilih.
"Hehe."
Darriel tertawa seraya menatap sang ayah. Daniel pun lalu menoleh.
"Kenapa kamu ngetawain papa?. Hmm?"
"Hehe."
Darriel kembali tertawa. Sementara Daniel tersenyum, begitupula dengan Lea.
Maka Darriel pun hanya menggerak-gerakkan kaki dan tangan, sambil sesekali mengenyot botol susu yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Oh ya mas, berat badan Darriel naik tau." ujar Lea.
"Oh ya?" Daniel menatap sang istri lalu menatap sang anak secara bergantian.
"Iya, naik satu kilo setengah dia dari sebelumnya." jawab Lea.
Daniel kembali menatap Darriel dan begitupula sebaliknya.
"Gendut kamu." ujar Daniel pada sang anak. Dan semua itu langsung disambut tawa Darriel.
"Hehe."
"Pantesan papa gendong makin berat." ujar Daniel lagi dan lagi-lagi Darriel pun tertawa.
Lea dan Daniel kemudian mengobrol dan tak lama setelah itu makanan yang mereka pesan pun tiba. Mereka makan bersama sambil masih terus berinteraksi.
Setelah itu Daniel kembali ke kantor dan Lea serta Darriel diantar supir menuju ke sebuah mall. Mereka jalan-jalan dan berbelanja disana.
Lea juga tanpa sengaja bertemu dengan ibunya serta Leo. Lalu mereka pun bergabung dan pergi kesana-kemari hingga sore menjelang.
__ADS_1
***
Malam hari.
"Pak, gimana kabarnya sidang perceraian Bu Nadya."
Lita yang kebetulan diminta Richard untuk membuatkan kopi, kini datang menghampiri dan membawa apa yang majikannya itu pinta.
Richard lalu menoleh dan menatap asisten rumah tangganya tersebut. Lita merasa tak enak, sebab telah lancang menanyakan hal yang sensitif seperti itu.
"Maaf pak, saya nggak ada maksud apa-apa. Cuma tadi keceplosan aja karena penasaran." ujar Lita.
Richard menghela nafas dalam-dalam dan mengambil, lalu menyeruput kopi yang dibawa sang asisten rumah tangga.
"Belum ada kabar. Dia belum menghubungi saya." ujar Richard.
"Doakan saja semuanya berjalan sesuai rencana." lanjutnya lagi.
Lita mengangguk-anggukkan kepala.
"Iya pak." ujarnya kemudian.
Richard kembali minum, lalu Lita pun berpamitan.
"Saya permisi."
Richard mengangguk, lalu Lita masuk ke dalam dan tinggallah Richard kini sendirian. Ia sengaja tak menghubungi Nadya duluan, sebab takut wanita itu saat ini masih sibuk dengan urusannya. Tetapi jujur ia rindu dan ingin mengetahui kabarnya dengan segera.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Richard bergetar, segera pria itu mengambil perangkat tersebut. Namun ternyata itu adalah pesan dari Dian.
"Apa kabar?"
Begitulah bunyi pesan tersebut. Richard menarik nafas dan memperhatikan layar handphone. Ia tak habis pikir kenapa kelakuan mantan selalu seperti itu adanya.
Ketika kita mulai move on, mereka tiba-tiba saja datang dan mengusik ketenangan. Sementara Richard adalah laki-laki dewasa yang tak mungkin asal memblokir kontak orang, seperti layaknya anak remaja. Ia tak bisa bersikap seperti itu tanpa adanya alasan yang jelas.
"Baik." jawab pria itu.
Dan obrolan mereka pun akhirnya berlanjut. Dian banyak menanyakan tentang keadaan Richard dan akhirnya Richard pun terpancing untuk mengetahui kabar wanita itu.
Usut punya usut ternyata Dian sedang bermasalah dengan keluarga kekasihnya. Salah satu dari anggota keluarga kekasihnya itu tak suka pada Dian. Padahal saat ini Dian sudah hamil dan harusnya segera dinikahi.
Richard cukup prihatin dengan nasib mantan kekasihnya tersebut. Tetapi saat ini ia terikat hati dengan Nadya. Ia terlanjur mencintai istri dari Hanif tersebut dan Dian terlanjur meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Padahal jika ditilik lebih dalam, Richard masih menyimpan rasa terhadap perempuan itu di relung hati kecilnya.