Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cerita (Bonus Part)


__ADS_3

"Gimana Le?. Mau langsung jemput, apa mau yang aku bilang tadi." tanya Daniel.


"Kamu mah nggak bisa ada kesempatan dikit ya mas, bener-bener deh."


Lea berkata sambil tertawa, sementara Daniel pun sama demikian.


"Aku mendadak pengen, nggak tau kenapa." ujar Daniel.


"Ya udah kalau emang udah pengen banget." jawab Lea.


"Tapi kamu-nya mau nggak?. Aku nggak mau kalau ada yang terpaksa." ujar Daniel lagi.


"Nggak juga sih, aku juga pengen sebenarnya." jawab Lea jujur.


"Ya udah, ayo!"


Daniel senang akhirnya mereka sepakat untuk melakukan hal tersebut.


"Mau dirumah apa di hotel?. Sekalian dinner." tanya pria itu.


"Terserah mas sih, aku mah oke-oke aja. Di rumah ayo, di hotel pun ayo. Yang penting jangan di semak belukar, nanti yang masuk malah ular beneran." ujar Lea.


Maka pasangan suami istri itu pun kini tertawa-tawa. Lalu Daniel membooking hotel dan mereka melakukannya ditempat tersebut.


Usai menyalurkan hasrat mereka lalu makan malam bersama. Daniel tadinya ingin mengajak istrinya itu untuk dinner romantis.


Tetapi kata Lea ia lelah dan hanya ingin makan di kamar saja. Lalu mereka pun memesan makanan dan makan di dalam kamar hotel.


"Darriel nangis nggak ya?"


Lea bertanya pada sang suami.


"Kamu nggak nanya sama ibu?" tanya Daniel kemudian.


"Udah tadi, kata ibu nggak. Terus barusan ada aku chat lagi, tapi centang satu doang." jawab Lea.


"Ya mudah-mudahan nggak nangis." ujar Daniel.


Mereka lanjut makan.


"Mas, seandainya nih ya. Kalau misalkan ayah pacaran sama istri orang, tanggapan mas gimana?"


Lea mengajukan pertanyaan yang membuat Daniel agak sedikit terdiam. Tetapi ia tak menghubungkan semua itu kepada Hanif. Sebab ia tak ada kecurigaan sedikitpun mengenai hal tersebut.


"Ya, biarin aja kalau sama-sama mau mah. Paling Richard diviralkan sama suami si cewek itu sebagai pebinor." jawab Daniel.


"Kalau suaminya orang yang kita kenal gimana?" tanya Lea lagi.

__ADS_1


Perempuan itu sengaja memancing. Tletapi Daniel yang biasanya selalu peka dan pintar tersebut, kini benar-benar tak bisa menebak clue yang diberikan sang istri. Ia hanya menganggap hal tersebut sebagai pertanyaan yang biasa saja.


"Ya tergantung, kita kenalnya banget atau nggak. Kalau sekedar kenal-kenal doang mah, kita pura-pura nggak tau aja." jawab Daniel.


"Kalau kenal banget gimana?" lagi-lagi Lea bertanya.


"Ya tergantung siapa dulu orangnya. Kalau Richard macarin istrinya Ellio ya, aku marah lah pasti." Daniel kembali menjawab.


Lea tak jadi melanjutkan semua itu, lantaran takut kalau sang suami segera sadar akan maksud dari pertanyaan yang ia lontarkan.


"Kamu kenapa sih nanya gini?. Emang si Richard lagi dekat sama siapa?" Daniel balik bertanya.


"Mmm, nggak koq mas. Aku iseng aja sih nanya. Nggak tau terlintas aja dibenak aku." jawab Lea.


Maka Daniel hanya tertawa kecil, kemudian menghabiskan sisa makanan. Usai makan mereka beristirahat sejenak, kemudian menjemput Darriel. Drama terjadi karena Darriel menempel terus pada Leo dan tidak mau diambil.


"Ayo kita pulang!." ujar Daniel pada sang anak.


Darriel tetap saja tak mau melepaskan tubuhnya. Ia menegang dan tetap tak mau disambut oleh sang ayah.


"Ya udah sini, Delil sama mama."


Lea mencoba mengambil anaknya itu, tetapi ia tetap tidak mau.


"Eh, om Leo, oma, opa mau istirahat semua. Ayo kita pulang."


Darriel tetap bersikeras, membuat semua yang ada disitu tertawa-tawa. Akhirnya ditunggu hingga bayi itu tidur dulu, barulah dibawa pulang oleh Daniel dan Lea.


***


"Jadi pak Richard tau, kalau bapak tau soal hubungan dia sama Nadya?" tanya Marsha.


"Nggak tau juga sih, tau apa nggak nya." jawab Ellio.


"Tapi yang jelas Richard kayak ngerasa tersindir dan kayaknya dia mau jujur tadi. Cuma nggak tau kenapa jadi ragu. Mungkin dia cuma menganggap sindiran aku sebagai hal biasa aja." lanjut pria itu kemudian.


"Bapak kenapa sih ganggu urusan pribadi pak Richard?. Dia kan teman baik bapak."


"Justru karena dia adalah teman baik aku, sahabat, saudara. Makanya aku mau menyadarkan dia, karena aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk nantinya."


Ellio berkata panjang-lebar, sedang Marsha tak bisa membantah lagi. Richard adalah sahabat baik Ellio dan Daniel selama bertahun-tahun. Mereka berdua lebih tau cara menghadapi pria itu ketimbang siapapun.


"Ya sudah, terserah bapak aja. Tapi jangan sampai kelewatan juga, kasihan pak Richard. Mungkin dia emang cinta banget sama si Nadya."


Marsha berusaha menjadi penengah, dan kini Ellio tampak menghela nafas dalam-dalam.


"Iya." jawabnya kemudian.

__ADS_1


Lalu Marsha pun mengalihkan topik obrolan ke arah lain.


***


Lea dan Daniel tiba dirumah, pada saat yang bersamaan Darriel pun bangun. Tetapi bayi itu tampak mengerutkan dahi dan wajahnya cemberut. Dengan mata yang silau karena cahaya lampu, ia berusaha menatap Lea.


"Mas, mas, lihat mas. Darriel julid banget mukanya kayak lambe turah."


Lea menunjukkan wajah sang anak kepada Daniel. Lalu Daniel pun menilik dan tertawa.


"Loh, kenapa anak papa sinis banget begini?" tanya Daniel.


Sementara Darriel masih tetap seperti itu.


"Kayaknya marah diambil dari rumah neneknya." ujar Lea sambil ikut tertawa.


"Darriel marah, nggak suka diajak pulang papa sama mama?" tanya Daniel.


Darriel makin berkerut keningnya.


"Idih, idih, makin tua jidatnya." seloroh Lea.


Tak lama kemudian Darriel pun terdengar berceloteh.


"Hokhoa."


"Woaaah."


Seperti hendak mengatakan sesuatu, namun yang keluar dari mulutnya hanya itu. Lea dan Daniel kembali tertawa-tawa.


"Nanti kita main lagi ke tempat oma ya. Nggak boleh juga setiap hari juga kesana, kasihan oma ngasuh kamu. Capek tau oma nya." ujar Lea.


"Gendong papa yuk, sini!"


Daniel lalu mengambil anak itu dan menggendongnya. Sementara Lea kini pergi mandi.


***


"Sebentar lagi kan sidang bu, ibu gimana perasaannya?"


Putri bertanya pada Nadya malam itu.


"Deh, degan sih. Takut nggak dikabulkan." jawab Nadya.


"Saya benar-benar sudah nggak mau sama mas Hanif, Put. Saya mau memulai lembaran yang baru." lanjutnya kemudian.


"Saya selalu doakan yang terbaik, bu. Mudah-mudahan semuanya lancar." ujar Putri.

__ADS_1


Lalu hening pun menyeruak, mereka menikmati teh hangat yang dibuat sejak beberapa menit lalu. Arkana sudah tertidur, dan tadi sempat Hanif ada menghubungi.


mencoba merayu Nadya lagi, namun Nadya beralasan ia harus membantu Arkana dalam belajar serta mengerjakan PR. Hingga Hanif pun tak bisa berlama-lama menghubungi dirinya.


__ADS_2