Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Siapa Dia


__ADS_3

Mereka semua tertidur lelap, setelah sama-sama membereskan bekas makan, mencuci piring, membersihkan lantai dan lain-lain.


Lea dan teman-temannya tidur di kamar, sementara Iqbal, Rama dan Dani tertidur di depan televisi. Daniel, Richard dan Ellio mengobrol di lantai atas.


"Hmmh."


Lea terbangun, tak lama diikuti Vita dan yang lainnya.


"Gue mau balik, Le." ujar Vita.


"Gue juga." timpal Nina.


Keduanya beranjak.


"Mau kemana lo berdua?" Adisty yang baru bangun bertanya pada Vita dan Nina.


"Mau balik Dis, udah sore." jawab Vita.


"Ntar aja sih, pada." ujar Lea.


"Nggak enak Le, laki lo aja udah dirumah." tukas Nina.


"Yuk ah." ujar Vita lagi.


"Ar bangun Ar, balik Ar."


Adisty membangunkan Ariana.


"Hmmh." Ariana terbangun.


"Yah masih ngantuk, dibangunin." ujar Lea seraya tertawa.


"Ntar aja Dis." lanjutnya lagi.


"Mau balik Le, ntar emak gue ngoceh." ujar Adisty.


Ariana kini tampak bersiap.


Para gadis ini merapikan rambut mereka, ada pula yang mencuci muka terlebih dahulu.


"Bal, udah bangun?" tanya Vita pada Iqbal yang tengah bermain handphone.


"Udah, mau balik gue." ujar Iqbal.


"Gue juga." balas Vita.


"Lo baliknya kemana Vit?"


"Ke Jalan Kamboja 5, gue."


"Searah dong sama gue, bareng aja yuk...!" ajak Iqbal.


"Dani sama Rama?"


"Mereka bawa motor." ujar Iqbal lagi.


"Ram, Dan, bangun. Balik...!"


"Hmmm." Keduanya menggeliat.


"Hoaahm." Rama menguap.


Tak lama Adisty keluar.


"Balik sekarang?" tanya Rama.


"Iya jawab Adisty sambil bersiap.


Tak lama Ariana dan Lea pun ikut keluar, disusul oleh Nina.


"Nin bareng gue sama Iqbal aja." ujar Vita.


"Nggak apa-apa ya Bal, Nina nggak jauh rumahnya dari gue." lanjutnya kemudian.


"Ya udah, ayok." jawab Iqbal.


"Le kita balik ya." ujar Vita.


"Balik ya Le."

__ADS_1


"Balik ya." ujar yang lainnya secara bergantian.


"Laki lo mana?" tanya Iqbal.


"Di atas, tidur kali." jawab Lea.


"Ya udah bilangin thank you ya, udah ngebolehin kita ke sini.


"Iya ntar gue sampein." jawab Lea lagi.


"Bye."


"Bye."


Mereka semua berpamitan dan menghilang di balik pintu lift. Tak lama Richard dan Ellio pun turun dari lantai atas.


"Lea."


"Yah, ayah mau pulang?" tanya Lea. Ia melihat Richard telah bersiap.


"Iya, ayah mau main gokart sama klien ayah." jawab Richard.


"Oh, om Ellio mau pulang juga?"


"Iya, om ada janji sama seseorang." jawab Ellio.


"Pacarnya." celetuk Richard.


"Kagak, bukan." Ellio membela diri.


Richard tertawa lalu menghampiri Lea dan memeluknya.


"Ayah pulang ya, makasih makannya."


"Iya yah, kapan-kapan kesini lagi."


"Iya, kamu tuh yang sering-sering ke tempat ayah." ujar Richard seraya melangkah ke arah lift.


"Iya." jawab Lea sambil tertawa kecil.


"Dah Lele, dan anak Lele yang ada di dalam." ujar Ellio seraya melambaikan tangan.


Lea pun melambaikan tangan pada keduanya. Sesaat kemudian, Richard dan Ellio juga menghilang ditelan pintu lift.


***


Terdengar suara Daniel dari pengeras suara. Belakangan dipasang semacam speaker dari lantai atas. Agar yang sedang ada di atas bisa berkomunikasi langsung, tanpa bantuan telpon.


"Iya mas, bentar."


"Masih ada nastar nggak, Le?" tanya Daniel.


"Ntar aku liat dulu."


Lea pergi ke dapur dan membuka rak kitchen set, masih ada toples berisi nastar disana.


"Ini nastar kagak abis-abis perasaan. Kue kacang juga ada nih mas, mau sekalian nggak?"


"Boleh."


"Sama minum nggak?"


"Nggak usah, ini masih ada air putih."


"Ok."


Lea lalu membawa dua toples tersebut ke atas. Sesampainya disana, tampak robot penyapu sedang berkeliaran. Tadi Daniel, Richard dan Ellio sehabis bermain game online di laptop sambil merokok. Praktis banyak abu yang bertebaran.


"Nih mas, mau tarok mana."


"Di balkon aja, pengen duduk disana."


"Ok."


Lea menuju balkon, tak lama Daniel pun mengikuti.


***


"Dis, Nin. Lo berdua buru-buru banget nggak."

__ADS_1


Iqbal bertanya pada Adisty dan Nina, ketika mereka telah jauh berjalan.


"Mmm nggak juga sih, kenapa emangnya Bal?"


"Ini nyokap gue minta dibeliin brownies di My Brownie." Iqbal menyebut nama salah satu toko kue langganan ibunya.


"Oh ya udah, nggak apa-apa." ujar Vita.


"Nggak apa-apa kan Nin?" tanya Vita pada Nina.


"Santai." ujar Nina.


"Tadi itu sih, balik karena nggak enak sama lakinya Lea." lanjutnya kemudian.


"Iya, lagian kita tadi udah berjam-jam juga di sana." timpal Vita.


"Tapi enak banget lo suasana rumah itu. Cahayanya, penataan. Gue kalau punya rumah ntar, pengen yang desain interiornya kayak gitu." ujar Iqbal.


"Iya sih, asik." timpal Vita.


"Lega banget ya dalemnya." celetuk Nina.


"Mudah-mudahan kita punya cuan berlimpah nantinya." ujar Vita.


"Aamiin." ucap ketiganya serentak.


Iqbal pun menekan pedal gas mobilnya lebih dalam. Hingga tak lama kemudian mereka sampai ke toko kue yang di maksud.


Iqbal membeli pesanan ibunya, tak lupa ia juga membelikan untuk Vita dan Nina.


"Ini buat kita, Bal?" tanya Nina.


"Iya, suka nggak tapi yang itu?. Kalau nggak suka boleh tukar koq, terserah mau ambil yang mana."


"Udah ah, udah dibayar juga kan. Kita mah apa aja hayo." celetuk Vita.


"Rejeki masa di tolak." timpal Nina.


Iqbal pun tertawa.


"Eh, minum dulu yuk. Disini ada banyak minuman tuh, ada Boba dan lain-lain." ujar Iqbal.


Vita dan Nina berfikir.


"Ok deh." ujar mereka kemudian.


Ketiganya lalu memesan minuman, mereka duduk di sebuah meja dan kursi yang berada di outdoor. Mereka terlibat perbincangan yang cukup hangat, sampai kemudian Nina tertegun. Tatkala matanya menangkap sosok yang tiada lain adalah suaminya.


"Kenapa Nin?" tanya Vita seraya mengikuti arah pandangan Nina. Iqbal pun melakukan hal yang sama.


Tanpa Nina menjelaskan lebih lanjut, Vita akhirnya mengerti dan ia terkejut.


"Itu laki lo sama siapa?" tanya nya kemudian.


Nina menggeleng, matanya terus tertuju pada sang suami yang tengah bersama dengan seorang wanita. Parahnya lagi mereka bergandengan tangan dan masuk ke sebuah mobil.


"Lo mau ikutin?" tanya Iqbal.


Nina menoleh pada Iqbal, dengan keadaan masih belum bisa bicara.


"Ayo...!" ujar Iqbal seraya beranjak.


Dalam sekejap mereka pun bergegas, mereka menyambangi mobil Iqbal dan langsung masuk ke sana. Dengan segera Iqbal menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam.


Beruntung Iqbal bisa mengikuti mobil yang membawa suami Nina beserta wanita itu, dengan cepat. Sebab mereka berjalan santai, sedang Iqbal sedikit ngebut.


Mereka terus mengikuti dan menyusuri jalan demi jalan. Hati Nina diliputi kekhawatiran dan juga kecurigaan. Sementara Vita dan Iqbal merasa kasihan pada Nina. Masalahnya jika tak ada hubungan apa-apa, kenapa suami Nina menggandeng tangan wanita itu dengan mesra.


"Bal, mereka belok." ujar Vita, di beberapa saat berikutnya.


Iqbal pun lalu menurunkan kecepatan. Mereka melihat mobil tersebut masuk ke halaman parkir sebuah apartemen mewah.


Vita mengambil gambar sebagai bukti, ia juga memfoto saat suami Nina dan perempuan itu sudah keluar dari mobil dan masuk ke lobi.


"Lo nggak mau samperin, Nin?" tanya Vita.


"Nggak." ujar Nina kemudian.


"Gue butuh lebih banyak bukti, dan kalau terbukti. Gue mau langsung cerai aja, gue nggak akan mempermalukan diri gue dengan nyamperin mereka. Gue masih punya harga diri. Kalau gue samperin, kesannya gue butuh banget sama dia." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Ok, berarti sekarang kita pulang aja nih?" tanya Iqbal.


Nina mengangguk, lalu Iqbal pun kembali menekan pedal gas mobilnya. Vita mengirim foto suami Nina pada Lea. Saat itu Lea yang masih berada di balkon bersama Daniel, benar-benar menjadi terkejut.


__ADS_2