
"Pak, pak, pak."
Marsha menghentikan langkah Ellio di suatu titik. Maka Ellio pun berhenti dan menoleh pada istrinya itu.
"Kenapa?" tanya nya kemudian.
"Itu, pak Richard." ujar Marsha menunjuk ke dalam sebuah kafe.
Ellio memperhatikan secara seksama dan benar itu adalah Richard. Namun yang membuat keduanya terhenyak adalah, mereka melihat wanita yang kini ada di depan pria itu.
"Loh, itu kan Nadya." ujar Ellio seraya mengerutkan dahi tanda heran.
"Apa ada Hanif juga?" lanjutnya lagi.
Ia dan Marsha terus memperhatikan. Richard dan Nadya tampak begitu akrab sambil tertawa-tawa.
"Kayaknya nggak ada deh, pak." Marsha membuat kesimpulan.
"Ah masa sih?. Di toilet kali si Hanif." ujar Ellio.
Tiba-tiba Lita dan Putri melintas di dekat keduanya, tanpa menyadari kehadiran Ellio dan juga Marsha.
"Selanjutnya lo harus bujuk majikan lo untuk cerai dari si Hanif ikan patin itu." ujar Lita pada Putri.
"Oh, pasti dong. Gue juga pengen kali liat bu Nadya sama Arkana bahagia. Dan pak Richard adalah orang yang tepat untuk mereka berdua."
Keduanya berlalu dan masuk ke dalam kafe tersebut. Sebab Lita disuruh Richard datang dan menukar kartu kredit, lantaran ada masalah ketika tadi Lita mencoba menggunakan kartu tersebut.
Sementara Arkana masih bermain ditemani dua asisten rumah tangga Richard yang lainnya. Mereka berjalan begitu saja, tanpa tau jika Ellio dan Marsha kini berdiri mematung karena terkejut.
"Pak Richard jadi pebinor?" tanya Marsha masih tak percaya.
Sementara Ellio tampak syok mendengar semua itu. Ia kini terpikir akan Daniel yang memiliki hubungan baik dengan Hanif. Sedangkan mertua Daniel kini berusaha menikung istri dari partner kerjanya itu.
"Tapi seru juga kalau sampe beneran. Biar mampus tuh si bulu babi." ujar Marsha sambil tertawa-tawa.
Namun kemudian ia menutup mulut, karena sadar sedang hamil. Tetapi ia masih tetap bergembira atas semua itu.
"Koq kamu malah seneng sih?" tanya Ellio pada Marsha dengan nada heran.
"Ya seneng dong, pak. Ada perempuan yang mau berpikiran terbuka, maju, nggak mau ditindas gitu aja sama pasangannya. Hal itu harus di rayakan dan semestinya jadi berita yang membahagiakan." jawabnya kemudian.
Ellio menghela nafas panjang. Ia kini melirik ke arah Richard dan juga Nadya, lalu kembali menoleh pada sang istri.
"Masalahnya, Sha. Hanif itu temanya Daniel. Kalau mereka nggak kenal satu sama lain mah, nggak masalah. Nggak enak sama Daniel, kalau sampai Hanif tau. Masa istrinya ditikung sama mertua temannya sendiri." ujar Ellio.
"Ya kan pak Dan nggak tau soal itu, jadi nggak bisa nyalahin juga." ucap Marsha.
Ellio terdiam dan otaknya kini berpikir keras.
__ADS_1
"Bukannya waktu itu bapak ada bilang sama pak Dan ya, kalau Nadya lebih cocok sama pak Richard ketimbang sama hanif." ujar Marsha lagi.
Ellio ingat tatkala ia membicarakan hal tersebut pada Daniel. Itu terjadi saat ia melihat ketika Richard ada mengobrol dengan Nadya di pesta pernikahan Hanif dengan Susi.
"Ya, itu kan konsepnya bercanda sayang." ucap Ellio.
"Emang kalau dilihat mereka serasi. Tapi kan satunya istri orang, bukan cewek single." lanjutnya kemudian.
"Terus sekarang gimana?. Bapak mau bicara sama pak Richard?"
Ellio menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
"Nggak tau, Sha. Aku tuh bingung kalau udah kayak gini." jawab pria itu.
"Kalau bapak kasih tau pak Daniel, takutnya mereka ribut nantinya."
"Maka dari itu, aku bingung harus gimana." ujar Ellio lagi.
"Jadinya serba salah ini." tambahnya.
Mereka lalu diam sejenak dan kembali memerhatikan ke dalam kafe. Tampak Richard telah selesai berbicara pada Lita dan juga Putri. Dua asisten rumah tangga itu bergerak kembali keluar. Sontak Ellio dan Marsha berpaling ke arah lain, agar keberadaan mereka tetap tak diketahui.
"Gimana kalau kita pura-pura nggak tau aja?" tanya Marsha ketika Lita dan Putri telah menjauh.
Ellio masih diam dan masih memikirkan Daniel.
"Kita kan nggak tau seberapa suka pak Richard sama Nadya dan begitu juga sebaliknya. Istilahnya kita jangan menghancurkan kebahagiaan orang, pak." Lagi-lagi Marsha berujar.
"Udahlah, kalau pun nanti ketahuan biar pak Richard sendiri yang menyelesaikan hal itu sama pak Daniel dan juga Hanif. Kita nggak usah ikut campur." ujar Marsha.
Ellio kembali menghela nafas panjang.
"Ya udah deh, terserah kamu aja." tukasnya kemudian.
"Nah, gitu dong." jawab Marsha lalu tersenyum.
"Udah ah, kita makan yuk!" ajaknya
Ellio kemudian mengangguk. Sesaat setelahnya mereka berlalu meninggalkan tempat itu.
***
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Hanif yang kini terletak di meja ruang tamu rumah Susi itu, bergetar. Panggilan yang masuk tersebut adalah panggilan dari Yayah, istri keduanya.
__ADS_1
Tentu saja Hanif tak bisa menjawab, sebab saat ini ia tengah berada di kamar Susi dan tampak sedang membujuk istri ketiganya itu.
"Jangan marah lagi ya." ucap Hanif dengan suara pelan. Sementara Susi kini menyilangkan tangannya di dada.
"Nggak mau." ujar perempuan itu seraya membuang muka ke arah lain..
"Loh, tadi kan di mobil udah baikan. Koq sekarang malah ngambek lagi?" tanya Hanif heran.
"Ya, kamu inget dong mas tadi pas masuk kesini ngomong apa?"
"Emangnya aku ada salah ngomong sama kamu?" tanya Hanif lagi.
"Itu tadi apa, yang mas bilang aku jangan lagi datang ke rumah istri tua mas?"
"Ya, itu kan supaya kamu nggak capek. Kamu tuh lagi hamil sekarang, sedangkan.rumah Nadya itu jauh dari sini."
"Alah alasan." tukas Susi tak mau kalah.
"Bilang aja mas mau bebas kesana tanpa aku awasi, iya kan?" lanjutnya kemudian.
"Bukan gitu."
"Terus apa?"
Susi makin berani membentak dan melotot pada Hanif. Andai Nadya dan semua orang tau Hanif mendapat perlakuan demikian dari perempuan yang sangat ia bangga-banggakan. Pastilah Hanif menjadi bahan olok-olokan dari mereka semua.
Ternyata berlian yang ia lihat berkilauan hanyalah imitasi. Sementara ia sendiri telah mengkhianati sebongkah emas murni.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Yayah mencoba memanggil Hanif sekali lagi, namun tetap tak ada yang menjawab.
"Brengsek." ujar Yayah seraya menyudahi usahanya.
"Dia pikir gue nggak bisa cari laki-laki lain kali ya." lanjut perempuan itu.
Maka ia pun lalu menscroll kontak yang ada di handphonenya, sampai muncul nama seorang laki-laki tetapi bukan Hanif.
"Hallo, sayang." ucapnya setelah ia menghubungi kontak tersebut dan telpon tersambung.
"Iya sayang, kenapa?" suara di seberang pun menjawab.
"Ketemu yuk!" ajak Yayah.
"Ayo!" ujar pria itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
Selang beberapa saat Yayah sudah terlihat meninggalkan kediamannya. Sementara Hanif masih terpaku pada Susi.