Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menyatakan (Bonus Extra)


__ADS_3

"Nad, saya suka sama kamu."


Richard mengeluarkan pernyataan yang benar-benar membuat Nadya kaget. Setelah sekian lama sering bertemu, akhirnya pria itu memberanikan diri.


"Pak ini tuh kenapa, saya nggak ngerti." tanya Nadya seraya menatap pria itu.


"Saya cinta sama kamu, Nad."


Richard makin memperjelas maksudnya sementara Nadya tampak makin terkejut dan tubuhnya gemetar.


"Tapi pak, saya ini...."


"Sampai kapan kamu akan terus bertahan seperti ini?. Kamu nggak kasihan sama diri kamu sendiri, sama Arkana?"


Nadya diam.


"Nad, hidup ini pilihan. Bukan cuma perkara mengikuti arus doang. Sekali-kali melawan arus itu diperlukan. Kalau arus hanya membuat kita hanyut dan terbawa ketempat yang lain. Ke tempat yang kita sendiri tidak mau berada di sana."


Nadya makin diam.


"Saya nggak bisa, pak." ujarnya kemudian. Wajah wanita itu kini diliputi ketakutan.


"Nggak bisa hari ini, bukan berarti besok juga sama kan?" ujar Richard.


"Saya nggak paksa kamu sekarang. Sebaiknya kamu berpikir dulu masak-masak. Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kamu masih bertahan dengan Hanif."


Lagi dan lagi Nadya tak bisa menjawab.


"Kamu suka sama saya kan, Nad?"


Nadya sontak menatap Richard dengan penuh kemarahan.


"Saya bisa menangkap semua itu di mata kamu."


"Jangan macam-macam pak, saya ini istri orang."


"Saya nggak peduli. Karena saya mencintai kamu dan kamu tidak bahagia dengan suami kamu." ujar Richard.


"Ingat Nad, banyak jalan lain menuju surga. Tidak hanya harus menurut pada laki-laki bejat tukang kawin."


Richard berlalu usai mengatakan hal tersebut. Tinggallah kini Nadya dalam perasaan yang bercampur aduk.

__ADS_1


***


"Bro, ini kandidat ketiga, keempat, dan kelima."


Ellio berucap pada Daniel, ketika mereka menemui tiga orang wanita lainnya yang akan dijodohkan dengan Richard. Kali ini langsung saja menghadapi mereka semua secara serentak. Tak lagi satu persatu seperti tempo lalu.


Ketiga perempuan ini saling berkenalan, kemudian mereka juga berkenalan dengan Daniel dan juga Ellio.


"Gimana, kalian semua siap saya tanya-tanya." ucap Ellio pada ketiga gadis itu.


"Siap." jawab mereka serentak.


"Maka Ellio mulai bertanya mengenai data diri mereka satu persatu."


Awalnya cukup baik, sampai kemudian salah satu dari mereka yang bernama Dewi mengeluarkan kata-kata.


"Ini buat nikah kontrak kan ya?. Dibayar di muka apa gimana?"


Daniel dan Ellio saling menatap satu sama lain.


"I, ini buat nikah serius mbak Dewi. Bukan buat nikah kontrak." jawab Ellio.


"Ah nggak seru, kiranin saya kontrak. Soalnya saya males jadi istri yang berkewajiban gitu. Kalau kontrak kan ada perjanjiannya." ucap. Dewi kemudian.


"Orang mau dinikahi resmi, dia maunya kontrak. Agak geblek nih cewek." Ellio berbisik pada Daniel.


Kemudian mereka menanyai kandidat yang berikutnya.


"Kalau nikah resmi, saya masih belum mau. Kalau mau pacaran dulu ayo. Soalnya saya masih kerja di luar negri sampai saat ini." Kandidat yang berikutnya berujar.


"Lo kerja di luar negri, masih pengen sendiri, kenapa ngotot nyari calon laki dalam negri."


Ellio lagi-lagi berbisik di telinga Daniel. Kedua kandidat tersebut ingin sekali mereka kirim ke Afrika. Saking kesalnya mereka.


"Saya nggak mau ngurus mertua." itu aja sih.


Kandidat yang ketiga berujar. Daniel dan Ellio agak kaget mendengarnya.


"Oke nanti saya sampaikan sama teman kami." ujar Daniel menutup percakapan. Setelah berbasa-basi dan membayar makanan serta minuman mereka, Daniel dan Ellio pun pamit.


"Yang ketiga serem amat." Ellio berucap pada Daniel.

__ADS_1


"Iya, to the poin banget anjir. Richard juga nggak bakal tinggal serumah sama orang tuanya. Orang tua Richard itu udah mempersiapkan masa tua mereka dengan baik, dan nggak bakal nyusahin anak. Tapi lo juga sebagai calon menantu jangan ngomong gitu juga." ucap Daniel.


"Kalau tadi dia ngomong, nggak mau tinggal sama mertua. Itu masih wajar lah. Karena nggak semua mertua itu bisa akur sama menantu." lanjutnya lagi.


"Tapi ini ngomongnya nggak mau ngurus mertua." ucap Ellio.


"Makanya." jawab Daniel.


"Kalau nggak mau ngurus mertua, berarti mencakup kalau mertuanya meninggal. Dia nggak mau ngurusin juga dong?" lanjutnya lagi.


"Disuruh ngubur diri sendiri mertuanya." ucap Ellio sambil tertawa.


"Udah ah pusing gue urusan kandidat ini." lanjutnya lagi.


"Kalau bukan demi Richard aja, males banget ini." tambahnya.


"Apalagi gue." ucap Daniel.


"Udahlah makan aja yuk." lanjutnya kemudian.


"Yoi, emang gue udah pengen makan banget dari tadi." ucap Ellio.


Maka Kedua sahabat itu pun berlalu meninggalkan tempat tersebut.


***


Nadya terus terpikir akan ucapan Richard. Meski kini pria itu sudah pergi, namun jejaknya tertinggal di dalam hati.


Perlahan Nadya mulai mengingat, saat pertama kali dirinya di jodohkan dengan Hanif. Saat itu baik atau maupun ibunya mengatakan jika Hanif adalah pria yang paham agama dan dipastikan mampu memimpin rumah tangga dengan baik.


Nadya yang bahkan tak pernah bergaul dengan laki-laki dan tak belum pernah merasakan jatuh cinta itu pun, hanya menurut saja. Ia dinikahkan tanpa melihat terlebih dahulu siapa calon suaminya.


Ketika malam pertama keperawanannya di renggut. Ia merasakan perasaan aneh, semacam rasa sayang kepada laki-laki itu. Ia mengira itu cinta. Namun seiring berjalannya waktu Hanif mulai menyakiti hatinya.


Kini setelah bertemu Richard, Nadya mulai bertanya apa itu cinta. Apakah yang ia rasakan terhadap Richard adalah cinta yang sesungguhnya. Atau mungkin hal itu merupakan sesuatu yang sejatinya tak boleh terjadi.


Entahlah, yang jelas kini dirinya memikirkan pria itu. Dan soal ucapannya mengenai Arkana. Seandainya Arkana lebih besar dari sekarang ini, Nadya ingin sekali berbicara dari hati ke hati. Ia ingin bertanya apakah anak itu tak apa jika dirinya bercerai dari Hanif.


Meski ia melihat gelagat Arkana yang tak menyukai Hanif, namun hatinya masih ragu dan selalu ragu.


Nadya dididik hanya untuk menjadi wanita yang penurut. Dan itu berpengaruh besar bagi kehidupannya saat ini. Ia jadi takut untuk tidak mengikuti alur. Ia jadi takut untuk membuat keputusan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2