Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mulai Emosi Jiwa (Bonus Part)


__ADS_3

"Gue mau lewat kesana, terus ntar gue mau pura-pura jatuh."


Salah satu bridesmaids alias teman Susi yang bernama Shela berkata pada teman-temannya yang lain.


"Emang lo berani, Shel?" tanya salah seorang dari mereka.


"Jangan panggil gue Shela kalau nggak bisa menggaet salah satu dari mereka." ujar Shela dengan penuh percaya diri.


Ia mulai berjalan, teman-temannya menyemangati perempuan itu. Mula-mula ia pergi ke arah toilet, pura-pura masuk ke sana dan kemudian keluar.


Saat hendak kembali pada teman-temannya ia sengaja mengambil langkah di dekat Daniel, Richard, dan juga Ellio.


Lalu tak lama kemudian, semua orang melihat tubuhnya oleng. Secara refleks Daniel yang berdiri paling dekat dari perempuan itu langsung menangkap tubuhnya.


Pada saat yang bersamaan Lea, Darriel, dan Marsha tiba dan langsung melihat pemandangan tersebut.


Tak seperti yang diharapkan Shela layaknya drama Korea atau India yang begitu lama saat adegan jatuh. Daniel segera membenarkan posisi perempuan itu.


Ia tak berlama-lama memeluk ataupun bertatap mata. Sebab itu bukan adegan sinetron ataupun cerita novel.


"Hati-hati." ujar Daniel lalu kembali mengobrol dengan yang lain.


Teman-teman Shela yang tadinya hendak ber-uwu-uwu dan bersorak sorai menjadi anti *******. Rencana berjalan namun hasil tak sesuai ekspektasi.


"Sengaja itu pasti, Le." ujar Marsha seolah hendak menelan perempuan itu hidup-hidup.


"Gue tau kak, tapi biarin aja. Nggak usah ngeliat ke dia, ntar dia ngira dia berhasil bikin kita iri dan cemburu. Pura-pura nggak tau aja." ujar Lea.


"Bikin dia yang kaget sama kehadiran kita." Lanjutnya kemudian.


Marsha mengalihkan pandangan ke arah depan.


"Siap untuk drama berikutnya?" tanya Lea.


"Oke." jawab Marsha.


"Mas."


Mereka berdua memanggil suami-suami mereka dengan suara lembut dan elegan. Daniel serta Ellio yang mengenali suara istri-istri mereka tersebut, sontak langsung menoleh.


"Lea?"


"Marsha?"


Keduanya terkejut, dan kini mata semua orang tertuju pada Lea si emak-emak satu anak dan Marsha ibu-ibu hamil.


Tak terkecuali mata si empunya acara yakni Hanif dan istri barunya, Susi. Begitupula dengan para bridesmaids.

__ADS_1


Mereka kaget melihat kedatangan Lea, dan mereka tak mengenali Marsha. Tapi memang dua perempuan itu sangat cantik bahkan membuat mereka mendadak merasa iri serta dengki.


Apalagi ketika Daniel dan Ellio langsung mendekat serta mencium pipi mereka berdua. Makin berapi-api pula lubang hidung mereka.


"Tadi diajak nggak mau." ujar Ellio pada Marsha.


"Koq kamu berubah pikiran, Le?" tanya Daniel.


"Nih Marsha, tiba-tiba ngidam makanan di kondangan katanya. Daripada ngeces anaknya nanti, makanya aku sarankan kesini dan dia minta temenin." ujar Lea.


Sejatinya ia dan Marsha telah mempersiapkan alasan ini sejak tadi. Mereka sudah meminta maaf pada calon anak di dalam perut wanita itu. Karena sudah menggunakannya sebagai alasan.


"Nanti kita makan ya?" ujar Ellio seraya mengelus perut sang istri.


Sementara Daniel kini tersenyum melihat Darriel yang tampak memakai setelan tuxedo.


"Ganteng banget, Darriel-nya papa."


Ia menggendong Darriel. Bridesmaids di pojokan ketar-ketir.


"Yah, gendong anak lagi."


Mereka menyayangkan, padahal itu adalah hak daniel sebagai ayah dari Darriel.


"Itu temennya udah nikah ya?" Salah seorang dari mereka mempertanyakan Ellio dengan nada kecewa.


"Iya juga sih, ntar gue godain liat aja."


Mereka masih tetap kepedean meski kecantikan mereka kalah telak dengan Lea dan juga Marsha.


"Bro, kesana dulu."


Dari agak jauh Richard memberi kode pada Daniel dan juga Ellio, untuk mengajak istri-istri mereka menemui Hanif. Sekalian berkenalan dan berbincang.


"Oke, bro." jawab Daniel.


Richard kembali berbincang dengan teman-temannya.


"Itu ayah nyuruh kita ke dekat pengantin gitu?" tanya Lea pada Daniel.


"Iya yuk kesana dulu, nggak enak." ujar Daniel.


Lea mulai melihat ke arah Hanif yang Marsha bilang mirip Ikan patin. Dalam pandangan Lea pria itu memang mirip ikan, namun bukan patin melainkan betok.


"Males ah, mas. Aku kesini tuh buat nemenin Marsha, bukan buat mau ketemu dia." ujar Lea dengan suara pelan.


"Kesana dulu, Le. Aku yang nggak enak." ujar Daniel.

__ADS_1


Sama halnya dengan Lea Marsha pun menolak.


"Jangan pak, nanti anak kita mirip ikan patin. Aku kalau ngeliat Hanif itu bawaanya pengen ngatain aja." ia berujar dengan suara pelan sama seperti Lea tadi.


"Nggak boleh gitu." ujar Ellio.


"Maksudnya bukan nggak boleh ngatain, itu hak kamu mau bilang dia apa. Tapi kita sebagai tamu harus menyapa yang punya hajat.". lanjut pria itu lagi.


"Oke deh." Marsha setuju sambil mengucap mantra,


"Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayi." ujarnya.


Lea menepikan kereta dorong Darriel dan mengikuti langkah sang suami yang membawanya ke dekat pelaminan. Ellio dan Marsha berjalan beriringan dengan mereka.


"Bro."


Hanif langsung menyambut mereka semua. Sementara Susi ikut berdiri dan menatap seolah tidak senang pada Lea dan juga Marsha. Entah mungkin karena gaun mereka lebih bagus, atau karena mereka jauh lebih good looking.


"Ini istri gue, bro." ujar Daniel dan Ellio pada Hanif.


Mereka memperkenalkan Lea dan juga Marsha, pada teman mereka yang doyan menikah tersebut.


"Hai."


Hanif menatap Lea dan Marsha. Kedua perempuan itu sangat memaksakan sebuah senyuman. Sementara Susi istri baru Hanif makin tak karuan rasa iri dengki serta cemburu yang ia rasakan dalam hati.


Pasalnya dari berjabat tangan pun, tangan Susi kalah halus dengan Lea dan Marsha. Meski kedua perempuan itu sering mencuci piring.


"Istri kalian cantik-cantik. Tapi sayang cuma satu." Hanif tertawa-tawa.


"Kayak gue dong, tiga." lanjutnya lagi.


"Suami kita mah menghargai istri dan nggak mau menyakiti, pak."


Marsha yang kadung gregetan itu menjawab ucapan Hanif, namun masih ia iringi dengan tawa. Sementara Ellio dan Daniel agak merasa tak enak pada Hanif. Meski mereka juga kesal degan ucapan teman mereka itu barusan.


"Istri yang baik itu, yang mengerti kebutuhan suaminya loh." ujar Hanif pada Marsha.


"Suami yang baik adalah suami yang menjaga ke maluannya dari perbuatan bejat." ujar Lea.


Daniel refleks menarik istrinya itu.


"Kita kesana dulu ya, bro." ujarnya.


"Kita juga, bro."


Ellio turut menarik Marsha sebelum terjadi huru-hara lebih lanjut. Hanif tampak kesal, namun berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut. Sebab usahanya banyak bergantung pada supply dari perusahan Daniel.

__ADS_1


Beruntung kejadian tadi tak di dengar oleh orang tua atau keluarga Hanif yang memang posisinya agak jauh. Jika tidak, mungkin akan terjadi keributan besar. Sebab keluarga Hanif akan selalu membela pria itu.


__ADS_2