Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Makan Banyak


__ADS_3

"Gue maunya lo berdua ikut protes ke SB Agency. Bilang kalau kita semua merasa dirugikan."


Vita berujar pada Lea dan juga Nina di kampus, pada suatu pagi yang dingin. Lantaran semalam hujan turun dengan deras dan masih menyisakan rintiknya pada pagi itu.


"Tapi Vit, kita mau protes apa. Sedangkan sugar daddy gue sama Nina itu, nggak ada masalah." ujar Lea.


"Iya Vit, ntar dibilang tuntutan palsu lagi." timpal Nina.


"Jadi lo berdua nggak mau bantu gue?" Vita bertanya pada Lea dan juga Nina dengan nada setengah marah serta kecewa.


"Kita mau bantu, tapi apa dulu isi protesnya. Apa yang mau di protes, kalau kejadian yang gue sama Nina alami aja nggak sama dengan apa yang lo alami."


"Ya lo tinggal ngarang aja, Le. Mana mereka tau juga kalau kehidupan lo sama sugar daddy lo, atau Nina sama sugar daddy nya itu baik-baik aja atau nggak. Yang pasti suara lo sama Nina, bisa bantu gue dan yang lain buat dapetin kompensasi yang harusnya jadi milik kami."


"Vit, justru kalau kita ikutan protes dan tidak terbukti benar. Itu akan menyulitkan kalian yang benar-benar mengalami hal buruk. Kalian semua bisa dianggap memberikan keterangan palsu. Bisa aja kan pihak SB Agency memutarbalikkan fakta, mereka bilang kalau kalian pergi dari sugar daddy kalian atas kemauan kalian sendiri. Apalagi kalau misalkan mereka tau, gue sama Lea menikah dan bahagia. Bisa-bisa protes yang kalian layangkan dianggap mengada-ada."


"Ya udah kalau lo berdua nggak mau bantu gue, tinggal kasih keterangan aja apa susahnya. Gue tau nasib lo berdua baik, tapi nggak harus mengabaikan temen lo juga yang nasibnya nggak baik."


Vita berujar di muka Nina dengan sangat marah, lalu kemudian ia menghujani Lea dengan tatapan yang tak kalah murkanya. Vita kemudian berlalu, meninggalkan tempat itu dengan penuh kebencian.


"Hhhh."


Lea dan Nina menghela nafas, dan saling menatap satu sama lain. Mereka benar-benar bingung kali ini.


***


Di Kantor.


"Aw."


Marsha meringis kesakitan ketika tangannya mendadak berdarah. Ia baru saja menjatuhkan gelas tanpa sengaja dan memecahkannya. Ketika ia hendak membersihkan pecahan tersebut, tangannya tergores dan terluka.


"Marsha?"


Daniel yang baru keluar dari ruangannya melihat semua itu, ia panik melihat darah yang mengucur dari tangan Marsha.

__ADS_1


"Kenapa kamu bersihkan sendiri, kan ada office boy." ujar Daniel lalu menarik gadis itu ke ruangannya.


Karyawan yang melihat hal tersebut langsung memanggil office boy. Marsha kini ditangani oleh Daniel di dalam, sedang dari kejauhan Clarissa melihat semua itu.


"Maafin saya pak, di rumah juga saya biasa membersihkan pecahan apapun sendirian. Tadi lagi apes aja."


Marsha berujar sambil menahan sakit, sedang Daniel kini fokus mengobati jari gadis itu. Kemudian ia membalutkan kasa dan perban di sana.


"Lain kali panggil office boy, mereka kan punya alat untuk membersihkan. Atau kalau kamu butuh bantuan apapun, bisa minta karyawan lain atau langsung ke aku."


Daniel menatap Marsha, namun kini Marsha mendadak terdiam. Ada perasaan hangat yang menjalar dihatinya.


"Marsha?"


"Eh, em, iya pak. Sekali lagi saya minta maaf dan, em..."


Marsha menarik nafas.


"Terima kasih." ujarnya kemudian.


***


Selain muntah di pagi hari, Lea kini mengalami lapar yang luar biasa di jam-jam yang terkadang tak wajar. Jam sehabis makan misalnya, ia kembali lapar hanya berselang beberapa saat setelah perutnya terisi.


Akibatnya ia jadi makan seperti orang yang kesurupan. Siang ini saja, seusai makan siang dan menjalani 30 menit kelas. Ia kembali merasa lapar, bahkan perutnya berbunyi di depan teman-temannya. Hal tersebut tentunya membuat Lea sangat malu sekali.


"Lo laper lagi, Le?" tanya Adisty pada Lea. Hal tersebut juga didengar oleh Iqbal dan yang lainnya.


"Iya nih, nggak tau gue laper mulu. Kayak ada naga di perut gue." ujar Lea.


Adisty dan Ariana yang kebetulan berdekatan, kini sama-sama tertawa.


"Nggak apa-apa, Le." ujar Ariana.


"Gue juga makannya banyak koq, dan sama kayak lo laper mulu."

__ADS_1


"Gimana kalau kita makan?" Adisty memberi saran.


"Ayo, ayo." Lea bersemangat.


"Gue pengen fast food." lanjut Lea.


Maka mereka pun buru-buru pergi ke restoran cepat saji, yang ada di seberang kampus. Mereka memesan sesuai keinginan, Lea sendiri memesan nasi, ayam goreng, kentang goreng dan juga burger. Plus minuman dingin dan juga sebotol air mineral.


Adisty dan Ariana pun tak kalah binalnya memesan makanan. Meski bertubuh langsing, namun muatan mereka ternyata sama kontainernya dengan Lea. Meski Lea sedikit lebih banyak ketimbang mereka.


"Duh, enak banget."


Lea makan seperti orang yang tidak makan selama tiga hari, begitupula dengan kedua temannya. Namun mereka bertiga terlihat sangat-sangat bahagia.


Saat pulang ke rumah, Lea begitu gemetaran. Kebetulan ia ada kelas sampai sore. Daniel pulang terlebih dahulu dan memasak makan malam untuk mereka.


"Hai mas." ujarnya ketika telah keluar dari dalam lift. Daniel tampak sibuk menyiapkan makan di meja makan.


"Hai." jawab Daniel seraya tersenyum, Lea buru-buru meletakkan tas ke dalam kamar lalu menghampiri Daniel.


"Ada yang mau dibantu, mas?" tanya nya kemudian.


"Udah selesai koq." ujar Daniel seraya meletakkan sayur di atas meja.


"Makan sekarang yuk mas, aku laper banget. Sampe tremor loh."


"Ya udah ayok kita makan." Daniel bersiap. Lea menggeser kursi lalu duduk, Daniel duduk diseberang istrinya itu.


Lea buru-buru mengambil nasi, lauk dan sayuran. Ia pun buru-buru makan, bahkan sebelum Daniel menyuap makanannya.


Daniel menghirup kuah sayur bening yang ia buat, sejenak ia terdiam. Pasalnya sayur tersebut cukup hambar. Ia kurang banyak menambahkan garam, Daniel melihat ke arah Lea.


Namun istrinya itu makan dengan sangat lahap, seakan tak ada masalah dengan rasa masakan suaminya. Mendadak Daniel tersenyum melihat tingkah perempuan itu, dan Lea menyadari jika tengah diperhatikan oleh suaminya.


"Koq mas ngeliatin aku gitu sih?" tanya Lea dengan mulut yang penuh makanan. Daniel menggeleng dan lanjut makan, sambil menahan senyuman.

__ADS_1


"Mas aku malu diliatin kayak gitu, tapi aku bodo amat. Soalnya laper banget." Lea lanjut makan dan Daniel pun tak kuasa menahan tawa.


__ADS_2