Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cerita Menjelang Malam


__ADS_3

"Lea, Lea. Masa sih lo nggak tau, apa yang di semprotin sama laki lo."


Nina dan Vita meledek Lea sambil tertawa. Hal ini terjadi tepat setelah Lea bercerita soal kepolosannya, yang mengira benih suaminya adalah air seni.


"Kan gue anak IPS." ujar Lea sambil nyengir.


"Gue juga anak IPS, seloroh Vita."


"Iya gue juga, tapi gue tau." seloroh Nina.


"Ye, orang gue baru pertama kali. Mana tau kalau itu apa, walaupun gue pernah baca di pelajaran reproduksi. Kan nggak dijelasin secara detail, gimana proses keluarnya. Apa yang kita rasakan kalau terkena itu."


"Tapi enak kan?" tanya Nina seraya menaik turunkan alisnya.


"Jangan mancing gue lebih jauh, ini urusan ranjang rumah tangga gue. Nggak boleh diceritain." ujar Lea seraya tertawa.


"Ih, lo mah." Nina mencubit dan menggelitik Lea, begitupula dengan Vita.


"Eh, geli tau nggak." teriak Lea. Mereka pun kini tertawa-tawa.


***


"Mas, udah pulang?"


Lea menghampiri sang suami yang baru saja pulang dari kantor, tepat ketika malam mulai menjelang. Ia telah berada di rumah sejak tadi. Lea meraih tas yang ada ditangan Daniel, lalu mencium tangan suaminya itu.


"Aku haus." ujar Daniel kemudian.


Lea buru-buru mengambilkan segelas air putih untuk suaminya itu.


"Makasih ya." ujar Daniel lalu mereguk air putih tersebut hingga habis.


"Mas mau mandi dulu, apa makan dulu?"


Lea melirik ke arah meja makan yang sudah dipenuhi oleh beberapa jenis masakan.


"Aku mandi dulu deh." ujar Daniel.


Lea lalu mengantar Daniel ke atas, sesampainya di sana Daniel mencopot dasi dan juga jas yang ia kenakan. Namun ia kemudian menarik pinggang istrinya itu, lalu mencium bibir Lea secara serta merta.


"Hmm."


Lea bereaksi, ia sangat gampang dibangkitkan gairahnya. Lantaran masih begitu muda dan baru pertama kali melakukan hubungan dengan suaminya.


"Masih sakit?" tanya Daniel dengan pandangan mata yang menunduk sekilas ke arah bawah, lalu kembali menatap Lea. Perempuan itu menggeleng.


"Nggak mas." jawabnya kemudian.


Daniel kembali mencium bibir istrinya itu beberapa kali.


"Ya udah aku mandi dulu, ya." lagi-lagi Daniel berujar.


"Aku siapin makan buat mas."


Daniel mengangguk sambil tersenyum tipis, laki-laki itu kemudian beranjak menuju kamar mandi. Sementara Lea kembali ke bawah dan menyiapkan piring, sendok, serta air minum untuk ia dan suaminya.


Beberapa menit berlalu, Daniel keluar dari lift lalu menyambangi Lea yang sudah menunggu di meja makan.


"Udah mas, mandinya." tanya Lea sambil menuangkan air minum. Daniel menggeser kursi lalu duduk dan mengambil nasi.

__ADS_1


"Ya, mana dingin banget lagi. Water heater yang diatas rusak deh kayaknya, air panasnya nggak keluar."


"Emang yang dikamar aku, beda?"


"Beda."


Daniel mulai mengambil lauk yang ada, dan meraih suapan pertama.


"Kenapa nggak mandi di kamar aku?" tanya Lea heran.


"Udah terlanjur." jawab Daniel.


"Mas mah orangnya pasrahan."


Kali ini Daniel tertawa.


"Kenapa emangnya?" tanya pria itu kemudian.


"Ya kayak tadi pagi, masakan aku asin tetep dimakan. Terus sekarang water heater nya rusak, udah tau airnya dingin tetep mandi juga. Bukannya ke bawah aja.


Lagi-lagi Daniel tertawa, namun ia tetap melanjutkan makan.


"Ntar aku protes ini-itu, dibilang banyak maunya. Giliran nerima aja, dibilang pasrahan. Mental netizen nih kamu, salah semua."


Lea memanyunkan bibirnya, namun setengah tertawa.


"Aku dikatain netijen."


"Emang kamu netijen." Daniel tetap tak mau mengalah, kali ini Lea yang tertawa.


"Yang ini enak nggak mas, masakannya?" Lea bertanya pada Lea.


"Menurut kamu sendiri?" Daniel balik melempar pertanyaan pada istrinya itu.


"Enak koq, yang tadi pagi itu enak juga. Cuma agak asin aja."


"Yang ini nggak ada masalah dong berarti?" tanya Lea lagi.


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, bikin semur daging lagi dong kayak waktu itu." ujar Daniel meminta.


"Mas mau?"


Daniel mengangguk.


"Ya tapi jangan pake wagyu A5 juga, kayak waktu itu."


Kali ini Lea tersenyum malu sambil menutup wajahnya dengan tangan.


"Ya kan aku nggak tau mas, waktu itu." ujarnya kemudian.


Daniel terkekeh, lalu meminum air putih yang ada dihadapannya.


"Ya udah besok aku bikinin."


"Bikinnya yang banyak, soalnya mau aku bawa ke kantor juga besoknya. Buat Richard sama Ellio."


"Ok." ujar Lea lalu tersenyum, mereka kemudian melanjutkan makan sambil terus berbincang.

__ADS_1


***


Beberapa saat kemudian, Lea dan Daniel terlihat duduk di sofa depan televisi. Itu terjadi setelah Lea membereskan dapur, mencuci piring dan mereka telah menggosok gigi serta mencuci muka.


Meskipun tadi sudah mandi, Daniel punya kebiasaan mencuci muka setelah menggosok gigi. Ini lazim ia lakukan sehabis makan. Tak ada alasan apapun, ia hanya suka melakukan itu. Lea jadi ikut-ikutan akan hal tersebut.


Kini mereka duduk sambil berbincang, dengan posisi Lea berada dalam pelukannya.


"Mas, jangan ke atas dulu ya. Aku masih pengen peluk mas." ujar Lea seraya melingkarkan tangannya di tubuh sang suami.


Daniel membelai rambut perempuan muda itu dan mencium bibirnya berkali-kali.


"Aku juga masih kangen sama kamu." ujarnya kemudian. Kali ini ia mencium kening Lea.


"Aku juga kangen sama mas seharian ini, biasanya nggak. Kenapa ya, mas?"


Daniel tertawa.


"Mana aku aku." jawabnya singkat.


"Aku kangen sama kamu aja, nggak tau alasannya kenapa." lanjutnya lagi.


Mereka pun kembali berciuman, kali ini lebih panas. Sampai Daniel memberikan remasan di beberapa bagian. Namun ia menahan diri untuk tidak terpancing, karena baru semalam mereka melakukannya. Daniel ingin mengumpulkan benihnya dulu selama dua atau tiga hari ke depan.


Ia menginginkan sebuah kepuasan yang tinggi saat melakukan hal tersebut. Lagipula kasihan Lea, jika setiap hari di gempur habis-habisan. Perempuan itu masih baru dan masih kaget pada semua ini. Meskipun ketika melihat tingkahnya yang begitu menggoda, ingin sekali Daniel menyelesaikannya malam ini juga.


"Mas."


"Hmm?"


"Kenapa sih kamu, sama om Richard dan om Ellio itu. Pada tua-tua banget baru mikir mau nikah."


"Emang aku udah tua?" ujar Daniel sewot.


"Maksud aku secara umur, bukan secara visual." Lea membela diri, sementara Daniel tertawa.


"Simpelnya gini, kita itu nggak mau begitu pulang ke rumah ada yang berisik. Karena di kantor, kita udah pusing. Kita nggak mau ada yang mengekang, itu aja sih alasannya."


"Jadi karena itu pada nggak mau nikah?"


"Yes, karena nikah itu ribet." ujar Daniel lalu menatap Lea.


"Terus kenapa mau nikah sama aku?"


"Karena aku udah janji."


Kali ini Lea sedikit terdiam.


"Jadi bukan karena sayang?" tanya nya kemudian.


"Aku sayang sama kamu, tapi aku menikahi kamu karena janji. Janji yang udah aku ucapkan, kamu butuh jawaban jujur kan?"


Lea mengangguk.


"Jadi mas nggak akan suka kalau aku berisik dan mengekang mas."


"Yes, karena aku juga nggak akan melakukan hal tersebut ke kamu. Kamu tetap bebas dengan batasan tertentu, dan aku pun demikian. Aku nggak mau kamu bersikap layaknya perempuan pada umumnya. Yang setiap WhatsApp aku online, harus melulu chat atau balas chat kamu. Yang selalu harus di rumah, meluk kamu dari pagi sampai sore. Aku punya pekerjaan, Lea. Dan aku juga punya teman-teman, sama seperti kamu."


"Aku janji nggak akan gitu koq, mas. Yang penting mas jangan sama cewek lain."

__ADS_1


"Aku nggak akan melakukan itu, jadi kamu tenang aja."


Lea mempererat pelukannya, dan Daniel pun kembali mencium kening perempuan itu.


__ADS_2