Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lanjut Pencarian


__ADS_3

Daniel menyusuri jalan demi jalan, benaknya secara otomatis mengingat semua perlakuannya terhadap Lea akhir-akhir ini.


Ia ingat betapa kuat ia mendorong tubuh Lea ke dinding, hingga bagian belakang dan kepalanya tersentak. Hati Daniel kini seperti di tusuk benda tajam, betapa kejamnya ia pada perempuan itu.


Ia bahkan berteriak di muka Lea, membuat Lea terlihat sangat syok dan ketakutan. Padahal perempuan itu saat ini tengah mengandung, dan seharusnya Daniel tak bersikap demikian.


"Hhhh."


Daniel menghela nafas seraya memejamkan matanya sejenak, sementara mobil terus melaju kencang.


Ia benar-benar harus meminta maaf dan memperbaiki semua ini, sebelum terlambat. Tapi kemana ia harus mencari, sedang dirinya tak memiliki kontak teman-teman Lea.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."


Daniel mencoba menelpon kembali nomor istrinya, namun tetap saja belum tersambung. Ia terpikir akan Ellio, mungkin saja Ellio bisa membantunya menemukan Lea. Namun kemudian Daniel sadar jika ini masih dini hari. Ellio pasti masih tertidur, dan kebiasaan temannya itu juga selalu menonaktifkan handphone saat ia tengah istirahat.


Daniel benar-benar resah, ia tak mungkin pulang ke rumah dan tidur dalam keadaan yang tidak tenang seperti ini. Ia belum mengetahui dimana Lea berada, bagaimana keadaannya, dengan siapa dia.


Daniel menekan pedal gas mobilnya lebih dalam, ia memutuskan akan mencari Lea di manapun itu. Ia kemudian menyusuri jalan demi jalan tanpa tujuan. Hingga tiba di suatu titik, tiba-tiba saja ia mendengar klakson kencang dari arah belakang.


Daniel yang blank seketika tersadar, jika mobilnya telah berada di jalur tengah. Segera saja ia membanting stir ke kiri dan ternyata, ada sebuah truk besar yang nyaris saja menabraknya.


Daniel syok dan terpaksa menghentikan laju kendaraannya di bahu jalan. Ia memejamkan mata beberapa kali, udara terasa begitu sesak baginya kini. Nyari saja nyawanya melayang, andai ia tak segera menarik diri dari lamunannya yang dalam.


Bayangan Lea saat berbicara, tersenyum melintas di benaknya, ia kini juga memikirkan anak mereka yang ada di rahim wanita itu. Betapa jahatnya ia sebagai seorang suami dan ayah.


***


Waktu berlalu.


Matahari naik ke permukaan, dan perlahan meninggi. Membuat Daniel tersentak dan membuka mata. Pria itu telah tertidur didalam mobilnya, dan ternyata hari sudah terang benderang. Segera saja ia kembali menghidupkan mesin mobil, ia berencana pergi ke kampus Lea.


Pasti istrinya itu ada di sana, pikirnya. Maka dengan kecepatan tinggi, ia pun kembali menyusuri jalan demi jalan. Meski tubuhnya kini terasa tak karuan, akibat belum makan dari semalam dan pikirannya begitu runyam. Namun Daniel ingin menemukan Lea terlebih dahulu.


Ia berhenti pada sebuah minimarket, membeli air mineral dan kembali ke dalam mobil. Ia minum cukup banyak, sebelum melanjutkan perjalanan.


Setibanya di kampus Lea, ia keluar dari dalam mobil dan matanya mulai menjelajah kesana-kemari. Ia masih ingat dengan wajah beberapa teman Lea, terutama Iqbal. Lea sendiri sempat beberapa kali menceritakan perihal teman-temannya itu pada Daniel.


Beberapa saat berlalu, Daniel belum juga melihat Lea ataupun salah satu dari temannya itu. Ia terus mencari kesana-kemari, sampai kemudian.


"Iqbal."


Daniel berteriak memanggil Iqbal yang saat itu hendak berjalan ke arah tangga lobi.


"Tunggu...!" ujar Daniel lagi.


Iqbal menoleh dan menatap Daniel dengan penuh keterkejutan, namun ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.

__ADS_1


"Ya." jawab Iqbal kemudian.


"Dimana Lea?"


Daniel langsung to the point menanyakan istrinya.


"Saya nggak tau." jawab Iqbal, namun Daniel tak percaya begitu saja. Karena dari gestur dan nada bicara pemuda itu, sama sekali tak meyakinkan.


"Saya tau kamu tau dimana Lea, tolong jangan menutupi keberadaanya dari saya."


"Kenapa, om merasa kehilangan?"


Iqbal berkata dengan nada sinis kepada Daniel.


"Kalau iya, kenapa om dorong dia dan berteriak sama dia?"


Daniel terkejut mendengar semua itu.


"Lea menceritakan semuanya ke kamu?" tanya nya kemudian.


"Nggak, dia cerita sama Nina dan saya tidak sengaja mendengar. Om harusnya nggak berlaku sekasar itu terhadap Lea, terlebih dia sedang hamil."


"Saya nggak tau dia hamil."


"Lantas kalaupun dia nggak hamil, apa pantas om perlakukan dia seperti itu?"


"Ok, saya tau saya salah. Tapi tolong katakan dimana Lea sekarang."


"Saya nggak tau."


"Iqbal, dia istri saya."


"But, I love her so much."


Bak disambar petir, kata-kata tersebut berhasil menampar Daniel. Ia kini mencoba menarik nafas di sela emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya ia marah pada Iqbal, tapi mencintai siapapun adalah hak pemuda itu.


"Itu urusan kamu, kalau kamu suka sama Lea. Tapi saya sedang mau menyelamatkan rumah tangga saya."


"Karena Lea hamil, atau karena om memang saya sama Lea.?"


Pertanyaan tersebut lagi-lagi membuat Daniel terdiam.


"I love her, and the baby." ujarnya kemudian.


Ada getaran dalam nada bicaranya, Iqbal pun akhirnya luluh karena tak tega melihat Daniel yang tampak sudah sangat stress tersebut.


"Dia di rumah Nina, beberapa hari ini dia menginap di sana."

__ADS_1


"Kamu tau rumahnya dimana?"


Iqbal mengangguk, lalu memberitahu lokasi rumah Nina.


"Thanks."


Daniel segera berlalu dari hadapan Iqbal, sementara pemuda itu kini menarik nafas.


***


"Nina."


Daniel menemukan Nina di muka kampus, sesaat setelah ia berlalu dari hadapan Iqbal. Ia buru-buru menghampiri teman istrinya itu dan bertanya.


"Lea dimana?" tanya nya kemudian.


"Mmm, Lea."


"Lea dimana, Nina. Kasih tau saya...!"


"Kamu jangan coba menyembunyikan dia dari saya."


"Sa, saya nggak menyembunyikan dia. Tadi dia sama saya, tapi sampai di tengah jalan dia dapat kabar dari ibunya. Kalau ayahnya sudah ditemukan."


"Apa?" Daniel terperangah.


"Iya, om. Ayah kandung Lea sudah ketemu dan saat ini Lea dan ibunya sedang menuju ke sana."


"Apa kamu tau mereka kemana?"


"Tau."


Nina lalu memberikan alamat dimana Lea akan bertemu dengan ayah kandungnya.


"Thanks, Nin." ujar Daniel seraya bergegas, pria itu buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan pelataran kampus.


Ia menuju ke alamat yang talah diberikan Nina. Ia melaju dengan kecepatan tinggi, namun kemudian sebuah kemacetan terjadi.


"Brengsek." gerutu Daniel seraya memukul stir kemudi.


Ia benar-benar terjebak di tengah. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menungggu.


"Aarrgghh."


Emosi Daniel kian memuncak, beberapa kali ia menekan klakson meski itu tak membantu banyak. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar, hingga kemudian kemacetan itu berangsur-angsur mereda.


Mobilnya kembali berjalan, dan lama kelamaan ketika kemacetan itu benar-benar telah usai. Daniel semakin dalam menginjak pedal gas, hingga mobil yang dikendarainya itu melesat sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2