Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rencana Selanjutnya (Extra Part)


__ADS_3

"Le, kita ke Thailand yuk." ajak Daniel ketika mereka tengah sarapan pagi di resort.


"Nggak ah, mas. Kita bawa bayi soalnya. Kalau nggak ada Darriel nggak apa-apa." jawab Lea.


"Kenapa emangnya kalau ada bayi?" tanya Daniel heran.


"Kan Thailand masih kental banget sama hal mistis. Ntar Darriel tau-tau bengong, kayak abis di hisap Dementor arwahnya gimana?"


Daniel memperhatikan Lea lalu tertawa mendengar semua itu.


"Mana ada, Le. Lagian di sana juga orang pada punya bayi koq. Emang mereka melahirkan langsung segede patung Pancoran anaknya, nggak kan?" ucap Daniel.


"Ih, pokoknya nggak mau. Ntar aja kalau Darriel udah agak gede. Di sana tuh kepercayaan soal hantunya masih tinggi, mas. Masih banyak sesembahan dan sesajen di tiap sudut. Ntar anak kita kenapa-kenapa lagi."


"Apa bedanya sama di negara kita coba?. Bayi di gelang-gelangin pake jimat, yang kata bisa ngusir setan dan lain-lain. Itu kan sama aja musyirik dan mengundang setannya sendiri." Setan gelang." ujar Daniel.


"Segala lah di kasih-kasih sapu lidi, gunting, peniti. Ketusuk baru tau rasa." lanjutnya kemudian.


"Beda mas, disini tuh orang yang mistis nggak semuanya. Yang udah modern dan nggak pake begitu-begituan banyak. Kalau disana ngeri, semua orang masih percaya hal-hal gaib. Mau kamu Darriel nangis mulu, sambil bengong ngeliat ke depan. Sedangkan kita nggak tau dia lagi ngeliatin apa."


Daniel masih tertawa.


"Ya udah kalau kamu nggak mau. Kita ke negara lain aja yang modern, yang nggak percaya hantu." ujarnya.


"Kemana?" tanya Lea.


"Singapore misalnya."


"Deket amat." ujar Lea lagi.


"Lah, ini kan Maldives juga dekat." tukas Daniel.


"Iya, tapi nggak sedekat Singapore. Berenang dikit nyampe Batam."


"Iya sih, tapi mau nggak?. Sekalian kita belanja." ujar Daniel.


"Oh kalau itu pasti mau." jawab Lea.


"Dasar, emaknya Darriel. Belanja aja, semangat." tukas Daniel.


Lea tertawa, Darriel pun ikut-ikutan.


"Heheee."


"Hehe, hehe aja kamu. Emang mama ngajak Darriel ngomong?" tanya Lea.


"Heheee."


"Belanja mah semua cewek juga suka, mas. Bukan cuma aku doang. Salah satu kebahagiaan cewek itu, ya belanja. Mau itu cuma belanja detergen sama pelicin pakaian di alpa sama Indo juga udah seneng."


Daniel tertawa.


"Aturan aku nggak usah ngajak jalan ke luar negri ya. Ajak aja kamu beli detergen."


"Ya nggak gitu juga konsepnya, bapak Darriel. Heeeh."


Lea gemas seakan hendak memukul Daniel, namun tak berani. Takut dibilang kurang ajar serta takut tak di tinggalkan.


"Heheee."


"Heheee."

__ADS_1


"Eh Delil, kamu caper banget dari tadi. Minta apa kamu, minta di gendong?" tanya Lea.


"Hiyaaaa."


Bayi itu mengeluarkan suara seperti berteriak.


"Semangat banget, nak." ucap Daniel.


"Mau sun bathing kamu ya?. ujarnya lagi.


"Heheee."


"Nanti, papa makan dulu ya. Nanti kita keluar, ketemu matahari."


"Biar Darriel tanning." ujar Lea.


Bayi itu makin tertawa-tawa.


"Baru kali ini mas, aku ngeliat Darriel bersemangat over kayak gini." tukas Lea.


Ia telah menyelesaikan suapan terakhirnya. Sementara Daniel kini tertawa.


"Kayaknya dia suka pantai, sama kayak bapaknya." ucap pria itu.


"Kalau bapaknya mah, suka karena di beberapa pantai banyak yang bikinian. Iya kan?"


Daniel hampir tersedak, karena kali ini ia tertawa lebih keras.


"Bapaknya Darriel, ganjen." ujar Lea.


"Yang penting kan nikahnya sama kamu, tidurnya sama kamu. Si otong juga bersarangnya di punya kamu, nggak ke cewek lain. Daripada yang sok nggak suka ngeliat cewek lain, tau-tau punya simpanan lain. Hayo?"


"Sekarepmu lah mas, emang dasar ganjen."


"Heheee."


Darriel lebih bersemangat lagi.


"Kamu suka disini?" tanya Daniel.


Darriel menatap ke depan, ketempat dimana air yang tampak bergerak karen angin.


"Heheee."


Tak lama Lea pun menyusul dengan membawa kamera.


"Mas sini, liat kesini!" ujarnya pada Daniel.


"Daniel pun menoleh.


"Delil, liat mama!" ujar Lea.


Darriel masih melihat ke arah pantai.


"Itu nak, liat mama dulu."


Daniel menunjuk tempat dimana Lea berada. Maka Darriel pun mengikuti arah tangan sang ayah.


"Delil." Lea memanggil anaknya itu.


"Senyum dong?"

__ADS_1


Maka Darriel pun tersenyum dan foto ia beserta sang ayah diambil oleh Lea.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


***


"Kamu betah banget jauh dari papa."


Richard berkata pada Darriel ketika ketika akhirnya ia menelpon Daniel dan melihat cucunya tersebut.


"Kangen ya papa Rich sama Darriel?" Lea bertanya seolah itu adalah Darriel yang berbicara.


"Iya dong, kangen. Kangen denger tawanya Darriel." jawab Richard.


"Heheee."


Darriel tertawa dan itu menjadikan Richard senang bukan kepalang.


"Susul aja kesini, bro." ujar Daniel pada ayah mertuanya itu.


"Gue sih mau aja, bro. Adek lo noh, Ellio. Ngambek ntar, gara-gara dia nggak bisa ikut." ujar Richard lagi.


"Kan bininya lagi hamil muda, belum boleh jalan jauh dulu." ujar Daniel.


"Iya paham, tapi Ellio kan tau sendiri. Ntar gue di ambekin. Di bilang, enak ya lo berdua bisa have fun, sementara gue nggak bisa ikutan. Kan kita yang jadinya nggak enak hati, gara-gara si Bambang." tukas Richard.


Daniel tertawa kali ini.


"Iya sih, Ellio emang suka gitu. Kadang kitanya jadi yang ngerasa bersalah. Padahal mau happy jadi kepikiran." ujarnya kemudian.


"Makanya."


"Eh tapi bisa lo kesini, kalaupun mau foto jangan di upload." Daniel memberi ide.


"Ntar kalau dia lagi nyariin gue gimana?" tanya Richard.


"Dia kan kalau lagi butuh seseorang dan pengen ketemu, mesti harus nggak boleh nggak. Kalau nggak dipenuhi, bisa nggak negur dua minggu."


"Iya sih." ujar Daniel sambil masih tertawa.


"Semogalah pas punya anak nanti, dia jadi lebih dewasa sedikit. Kasihan ntar anaknya juga di ambekin sama dia." lanjut pria itu.


"Makanya." ucap Richard.


"Heheee."


Lagi-lagi Darriel tertawa.


Daniel, Richard dan Lea sontak ikut tertawa melihat bayi itu. Sebab mereka tak ada yang melucu, tetapi Darriel malah terbahak.


"Siapa yang ngajak bercanda coba?" tanya Lea.


"Heheee."


"Sini pulang, sama papa aja yuk!" ujar Richard.


"Biar mama sama papa kamu pergi jalan-jalan." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Dan lagi-lagi Darriel hanya bisa tertawa sambil menggerakkan kaki dan tangannya dengan penuh antusias.


"Heheee."


__ADS_2