Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cerita Malam


__ADS_3

Richard menambah personel keamanan di rumahnya. Lea yang tadinya diminta untuk hanya menginap selama satu minggu, kini menjadi tak tentu waktunya.


Pasalnya Richard belum memperbolehkan anak, cucu, serta menantunya untuk pulang. Reynald dan Arsen bahkan ia tahan untuk tetap berada disana.


Ellio sendiri di ingatkan untuk berhati-hati, sebab Ellio tak bisa terlalu banyak berada di rumah Richard. Ia punya pekerjaan dan harus mengurus orang tua serta memberi waktu pada Marsha. Dan lagi Minggu depan ia bermaksud akan melamar kekasihnya itu.


"Pokoknya lo hati-hati, dimana pun itu." ujar Richard pada Ellio.


"Iya, lo tenang aja udah." ujar Ellio kemudian.


Tak lama sahabat Richard dan Daniel itu berpamitan, sebab ia harus menemui ibunya. Sementara yang lain tak boleh kemana-mana sampai kasus ini benar-benar di selidiki secara pasti.


***


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


Darriel menangis ketika Lea, Daniel, dan yang lainnya baru saja hendak makan. Lea beranjak, begitupula dengan Daniel. Mereka berdiri dari kursi makan secara bersamaan.


"Aku aja, Le." ucap Daniel.


"Aku aja mas."


"Udah kamu makan aja."


"Mas aja yang lanjutin makan."


Richard, Reynald, dan Arsen kompak melihat ke arah pasangan itu. Tak lama Darriel pun makin menangis, Lea berlarian ke atas untuk memeriksa anaknya.


Ternyata popok Darriel penuh dan seperti biasa ia lapar. Maka Lea pun memilih menyusui bayinya terlebih dahulu. Selang beberapa saat kemudian Daniel menyambanginya di kamar, dengan membawa piring berisi nasi dan juga air minum.


"Le."


"Iya mas."


"Sini sambil aku suapin."


"Mas ninggalin makan dibawah?" tanya Lea.


"Nggak, aku udah kelar."


Daniel menjawab seraya duduk disisi istrinya itu.


"Nggak boleh loh mas, makan buru-buru gitu. Nggak baik." ujar Lea kemudian.


"Udah nggak apa-apa, ayo sini sambil makan."


Daniel mulai menyuapi Lea dan Lea menerima makanan tersebut.


"Darriel belum kenyang-kenyang dari tadi?" tanya Daniel seraya memperhatikan Darriel yang masih semangat minum susu.


"Belum, nih masih semangat 45." jawab Lea seraya tertawa. Daniel kembali menyuapi istrinya itu sambil ikut tertawa.


"Kamu ya Darriel. Ambil terus aja punya papa."


Darriel menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu memberi lirikan super julid pada sang ayah.


"Dia julid banget mas, kalau di singgung." ujar Lea sambil memperhatikan Darriel dan tertawa.


"Tau, judes banget kalau sama papa." ucap Daniel seraya menatap kembali ke arah Darriel.


"Nggak boleh gitu nak, ini papanya Darriel loh. Yang nyari nafkah buat kita." Lea lagi-lagi berujar.

__ADS_1


Darriel kemudian berhenti melirik sang ayah dan kembali meminum susu. Daniel dan Lea sama-sama tertawa, kemudian Daniel kembali menyuapi istrinya itu hingga selesai.


"Mau nambah nggak?" tanya Daniel.


"Nggak usah mas, kan abis ini mau minum susu juga." jawab Lea.


"Ya udah."


Daniel memberikan minum pada istrinya, usai wanita itu menelan suapan terakhir. Kemudian ia beranjak untuk menaruh piring dan gelas ke dapur.


***


Beberapa saat berlalu.


"Pa."


Arsen mencari ayahnya dan menemukan pria itu tengah berada di balkon lantai dua, sambil merokok bersama Daniel dan juga Richard.


"Iya."


Reynald bertanya, namun lirikan mata Arsen tertuju pada rokok yang terselip di antara kedua jari ayahnya itu.


"Katanya udah nggak." Arsen berujar dengan nada dingin bercampur marah.


"Aaa, dikit koq."


Reynald mematikan rokoknya. Sementara Daniel dan juga Richard kompak menahan tawa.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Reynald pada Arsen.


"Lupa." jawab Arsen lalu berlalu meninggalkan tempat itu.


Daniel dan Richard benar-benar tertawa kali ini, sementara Reynald menahan senyum.


"Galak banget anjir." ujarnya kemudian.


"Dih, gue mah kagak ambekan." Reynald membela diri.


"Ambekan, Arsen tuh sama persis kayak lo." Richard kembali berujar, sementara Daniel terus tertawa.


"Samperin, Rey. Ntar marah sampe besok loh." Daniel bersuara kali ini.


"Mending sampe besok, sebulan."


Richard menghisap batang rokoknya seraya melirik Reynald. Menyinggung saat dirinya pernah di diamkan oleh Reynald selama itu. Reynald pun jadi terkekeh-kekeh.


Tak lama kemudian ia pergi ke dalam, untuk menyusul Arsen.


***


Malam hari.


Daniel terbangun dari tidurnya dan mendapati Lea yang tengah memberi ASI pada Darriel di sisinya. Lea tersenyum pada suaminya itu dan Daniel pun membalas.


"Dia tadi nangis, Le?. Koq aku nggak denger?"


"Nggak koq mas, cuma bangun doang. Kebetulan aku dari toilet. Dia lagi melek gitu ngeliatin langit-langit." jawab Lea.


Daniel makin tersenyum lalu membelai kepala Darriel.


"Kamu betah ya dirumah papa Rich?. Nggak mau pulang lagi ke rumah kita?"


Darriel menatap Daniel dengan mata lucunya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Jam berapa sih ini?" tanya Daniel seraya melihat handphone.


"Jam dua pagi mas." ujar Lea.


"Oh iya. Jam nya kamu laper ya dek ya?"


"Darriel selalu laper, papa." jawab Lea seraya tersenyum.


Daniel kembali mengusap kepala bayi nya itu dengan lembut.


"Papa tidur lagi gih, kan besok kerja." ujar Lea.


"Iya bentar lagi, mau ngeliat Darriel dulu." jawab pria itu.


"Dulu papa loh dek, yang kebangun jam segini minta disayang sama mama. Sekarang kamu." ucap Lea.


"Iya, udah merebut jatah papa nih. Biasanya papa jam segini bangun minta disayang, abis itu olahraga sama mama."


Lea tertawa, begitupula dengan Daniel.


***


Di kediaman Marsha.


Perempuan itu belum tidur, belakangan ada banyak hal yang ia pikirkan. Termasuk soal lamaran dan bagaimana nanti jika Ellio tidak diterima keluarganya. Ia sangat mencintai pria itu meski tak pernah mengatakannya secara gamblang.


Ia menyukai kejelasan hubungan dan juga keseriusan Ellio. Tapi masalahnya ada pada diri keluarganya. Keluarganya mengharuskan ia menikah dengan orang yang telah ditetapkan harus berasal dari mana.


Sedangkan kini ia melihat Ellio berada di sampingnya, terlelap karena kelelahan. Marsha terus menatap langit-langit kamar, hingga tanpa ia sadari jika Ellio telah terbangun dan memperhatikan dirinya.


"Kamu kenapa, sayang?" Ellio bertanya pada Marsha. Marsha yang terkejut itu pun menoleh.


"Bapak kebangun?" tanya nya kemudian.


Ellio lalu merubah posisinya menjadi bersandar pada bantal. Kemudian menarik Marsha untuk berada dalam pelukannya.


"Mikirin apa kamu?" tanya nya lagi.


Marsha diam, namun akhirnya ia pun berkata.


"Mikirin soal minggu depan, pak. Gimana kalau bapak di tolak sama keluarga saya."


Ellio menghela nafas lalu mencium kening Marsha. Jujur ia juga takut akan hal tersebut, namun ia merasa segala sesuatu butuh di perjuangkan.


"Kalau saya di tolak, selama saya masih mampu berjuang, saya nggak akan menyerah."


Ellio berusaha meyakinkan.


"Kalau tetap di tolak?" tanya Marsha lagi.


"Saya bawa kamu kawin lari." ucap Ellio sambil tertawa.


"Pasti keluarga saya murka dan bakalan nyariin bapak.


"Ya mau gimana, udah di datangi baik-baik dan diminta secara baik-baik juga, tapi ditolak. Cuma itu jalan satu-satunya."


"Kalau saya nggak mau diajak kawin lari?"


Ellio diam, ada air yang tiba-tiba merebak di pelupuk matanya. Namun berusaha keras ia tahan, sebab ia laki-laki.


"Pak saya bercanda, pak. Koq bapak malah mau nangis gitu?" Marsha merasa bersalah.


Selama berhubungan dengan Ellio, ia sudah hafal jika Ellio memang sangat peka hatinya. Bahkan cenderung emosional.

__ADS_1


"Pak."


Ellio mencoba tersenyum, namun air mata itu keburu jatuh di kedua belah pipinya yang bersih. Marsha mengusapnya dengan tangan, lalu Ellio memeluk wanita itu dengan erat.


__ADS_2