
"Mas, kenapa sih harus pake acara pertandingan minum segala. Kalau mas sakit gimana?. Mas nggak sayang di badan?"
Lea memarahi Daniel, ketika suaminya itu akhirnya menelpon.
"Semuanya udah selesai, Le. Dan aku baik-baik aja." ujar Daniel.
"Emang kenapa sih, kalau misalkan ngomong baik-baik. Diskusi gitu sama ayah."
"Sekarang yang nggak mau melakukan itu siapa?. Ayah kamu kan?"
Lea terdiam.
"Kalau dia emang mau diskusi dan mencari jalan tengah, permasalahan ini nggak akan berlarut-larut. Ini udah beberapa hari coba, dia mengurung kamu dan misahin kamu dari aku." lanjut Daniel lagi.
Lea menghela nafas.
"Emang mas yakin, setelah pertandingan ini ayah akan menyerahkan aku kembali sama mas?"
"Lea, Richard itu laki-laki terhormat. Dia akan menepati janjinya. Ya walaupun dia itu bejat, bajingan kadang. Tapi kalau soal perjanjian, dia pasti tepati. Aku tau Richard."
Lagi-lagi Lea menghela nafas.
"Kayak anak kecil tau nggak, kalian."
Kali ini Daniel tertawa.
"Koq mas ketawa?"
"Justru hal inilah yang diperlukan saat ini, sebab kami sudah mulai menua dan jarang bermain. Richard butuh refreshing otak, biar nggak makin jadi orang tua yang ngeselin."
Lea diam, namun jadi ikut-ikutan tersenyum. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak mau memusingkan apapun. Daniel dan Richard adalah dua orang dewasa, mereka tau apa yang mereka lakukan. Meski sampai detik ini Lea belum mengetahui, jika akan ada pertandingan lanjutan.
"Ya pokoknya apapun yang terjadi, semoga masalah kita cepet selesai." ujar Lea kemudian.
"Iya, aku juga berharap begitu." tukas Daniel.
"Aku sayang kalian berdua, mas." ujar Lea lagi.
"Lea, om nggak ikutan disayang?"
Tiba-tiba terdengar suara celetukan.
"Eh, ada om Ellio?" tanya Lea. Ellio lalu menongolkan kepalanya di layar.
Lea tersenyum.
"Om." ujarnya kemudian.
"Enak aja kamu cuma sayang sama ayah kamu dan Daniel. Kan kami temenannya bertiga." ujar Ellio sewot.
"Iya, sayang sama om juga." ujar Lea.
Ellio lalu di geser oleh Daniel, dengan menoyor kepalanya. Ellio pun terkekeh-kekeh.
"Hari ini kamu makan apa aja?" tanya Daniel.
"Banyak, mas. Nasi sih pasti, sama koloni-koloni nya." jawab Lea.
__ADS_1
"Apa tuh koloni nya?"
"Aku tadi makan nasi, sama ikan, sayur bayam, minum susu, sama makan buah juga."
"Rame ya bund." celetuk Ellio.
Daniel dan Lea sama-sama tertawa.
"Bro gue balik kantor." ujar Ellio.
"Yak." jawab Daniel.
Kemudian ia kembali mengobrol dengan Lea.
"Mas udah makan?" tanya Lea lagi.
"Belum." jawab Daniel.
"Masih di perjalanan." lanjutnya.
"Mas pesan online?"
"Iya, apalagi coba. Istri aku yang pinter masak, lagi di pingit orang tuanya."
Kali ini Lea tertawa, sejatinya ia sedih mendengar hal tersebut. Namun ia tak mau merusak suasana.
"Sabar ya mas, nanti kalau pulang aku masakin yang banyak."
"Janji ya."
Daniel tertawa.
"Aku nggak maksa koq. Sebenarnya mau kamu masak, mau beli tiap hari, nggak ada masalah buat aku."
"Iya mas, aku tuh suka aja masak. Karena bisa dapet banyak dan bisa makan berkali-kali."
"Iya sayang, senyaman kamu aja. Aku nggak mau jadi suami yang ribet."
Lagi-lagi Lea tersenyum, mereka lanjut berbincang.
***
Di sebuah tempat, saat angin tengah bertiup kencang. Clarissa diam berdiri di balkon, sambil mengingat penuh dendam semua hal yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.
Wanita itu benar-benar merasa kesal, sebab ia telah begitu maksimal melakukan segala hal. Tapi entah kenapa hasilnya malah mengecewakan.
Ia benar-benar merasa malu dan terpojok kini, ia juga didesak untuk segera resign dari kantor Daniel. Padahal ada lebih banyak rencana yang ingin ia realisasikan. Termasuk menyingkirkan Lea, dan merebut kembali posisinya di hati Daniel.
Tapi ucapan Daniel hari itu telah membuatnya benar-benar marah. Ia kesal mengapa Lea mesti hamil. Kini Clarissa pun tak hanya menginginkan kehancuran Lea, tapi juga ingin mencegah agar bayi itu tak lahir ke dunia. Sebab bayi itu hanya akan semakin menambah jarak, antara dirinya dan Daniel.
***
Hujan akhirnya turun dengan deras. Daniel yang baru saja keluar dari supermarket, buru-buru memasukkan barang ke dalam bagasi dan sesaat kemudian ia pun masuk lalu menyalakan mesin mobil.
Ia membeli berbagai keperluan rumah yang telah habis. Biasanya jika ada Lea, Lea lah yang akan pergi berbelanja. Karena istrinya itu memang sangat suka berbelanja.
Tapi berhubung Lea saat ini sedang tidak ada, maka kegiatan itu kembali menjadi kesibukan Daniel.
__ADS_1
Mobil berjalan, meninggalkan pelataran parkir supermarket. Daniel menyusuri jalan demi jalan dengan kecepatan sedang. Lantaran hujan turun deras sekali, dan mengganggu penglihatannya.
Tak ada yang terjadi, karena jalanan cukup lengang malam itu. Sampai kemudian di suatu jalan, ia melihat seseorang yang tengah berteduh di sebuah halte. Halte tersebut cukup terpencil dan tak ada orang lain, selain orang tersebut. Segera saja Daniel menghentikan mobilnya lalu turun.
"Leo?"ujarnya kemudian.
Remaja itu pun terkejut dengan kehadiran kakak iparnya.
"Mas Dan?" ujarnya kemudian.
"Kamu ngapain disini?" tanya Daniel heran. Ia melihat anak itu membawa tas sekolah, yang isinya tampak sesak.
"Aku, mm."
Leo tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu. Wajahnya sangat tertekan dan seperti tengah terbebani.
"Kamu cerita di dalam mobil." ujar Daniel.
Awalnya Leo tampak ragu, namun kemudian ia mengikuti langkah Daniel untuk masuk ke dalam mobil. Kini mobil kembali berjalan, sedang Daniel akhirnya mendengar sebuah cerita.
"Jadi ini kamu pergi dari rumah?" tanya Daniel pada Leo.
Pria itu masih terus fokus ke jalan, karena hujan belum lagi reda.
"Iya, mas." jawab Leo seraya menjatuhkan pandangannya ke bawah.
"Kenapa, ada masalah apa kalau boleh tau?"
"Aku bertengkar dengan ibu, aku nggak suka dia selalu memanfaatkan Lea demi uang."
Daniel diam, ia kini bingung harus memberi tanggapan apa. Dari Lea sendiri pun ia sudah sering mendengar, perihal sifat buruk yang dimiliki oleh ibu dari istrinya tersebut.
"Aku nggak suka, aku benci sama dia." lanjut Leo lagi.
Kali ini Daniel menghela nafas.
"Leo, mas nggak tau ya. Apa yang sudah terjadi diantara kalian, dan seberapa besar kemarahan yang kamu punya. Silahkan marah, tapi jangan membenci terlalu dalam. Itu ibu kamu, seberapapun jahatnya dia bagi kamu. Dia tetap ibu kamu."
"Ibu macam apa yang modelnya seperti itu?"
"Kita nggak pernah tau apa yang dia alami selama ini, bagaimana sulitnya dia membesarkan kalian berdua. Aku juga selalu bilang ini ke kakak kamu, supaya hatinya nggak melulu di penuhi kemarahan."
"Tapi tadi ibu usir aku."
Daniel menoleh sejenak ke arah Leo yang tampak sedih, jujur dalam hatinya ia marah pada ibu Lea. Bagaimana mungkin ia mengusir anak seusia Leo dari rumah. Apa dia tidak berfikir akan bahaya di luar.
"Mungkin ibu kamu lagi emosi aja."
Daniel tetap memberikan pandangan yang positif, agar Leo tak semakin larut dalam kemarahannya.
"Nanti juga reda." lanjutnya kemudian.
"Dulu aku emang udah nggak tinggal sama dia, aku tinggal sama temen aku. Tapi saat ibu mau jebak mas supaya nikahi Lea, aku dipaksa pulang dan disuruh tinggal lagi sama dia. Sekarang aku udah nggak bisa tinggal dirumah temanku lagi, karena ada sepupu nya yang sekarang tinggal sama dia. Aku bingung mau kemana."
"Ya sudah, nanti kita pikirkan itu. Kita makan dulu ya, kamu belum makan kan?" tanya Daniel.
Leo menggeleng. Daniel kini menambah kecepatan, karena hujan mulai mereda.
__ADS_1