
"Lele."
Ariana dan Adisty kembali berteriak pada Lea. Saat ibu dari bayi Darriel itu kembali masuk ke kampus pada keesokan harinya.
"Hai, gue datang lagi." ujar Lea bersemangat.
Mereka bertiga kemudian bercengkrama dan berbicara satu sama lain. Tak lama kemudian Vita dan Nina datang menghampiri.
Kebetulan jadwal Vita dan Nina ada di jam yang sama, sehingga mereka dapat bertemu. Sementara di kejauhan, sebuah mobil berhenti untuk mengamati mereka. Didalam mobil tersebut terdapat sepasang manusia yang tengah melihat ke arah Lea.
"Itu istrinya Daniel, umurnya masih 18. Namanya Lea."
Perempuan yang tiada lain adalah Clarissa itu berujar pada Marvin, yang berada di sisi kemudi. Marvin memperhatikan Lea cukup lama. Sementara Lea sendiri tak tau jika ada orang yang tengah mengawasinya.
"Dia anak kandung Richard, di luar nikah." ujarnya lagi.
Marvin terus memperhatikan. Tak lama kemudian mereka pun berlalu.
***
"Ada cerita apa aja anak lo hari ini, Le?" Adisty kepo pada keadaan Darriel di rumah.
"Cerita tidur dia mah. Tidur mulu dari pagi ke malem. Bangun cuma kalau pipis sama pub doang. Abis itu laper dan gue kasih ASI. Tidur lagi deh kayak kebo."
Adisty dan yang lainnya tertawa-tawa.
"Nggak pernah main lama gitu sama lo?" tanya Ariana.
"Mana pernah. Kadang sengaja gue gangguin biar bangun. Eh dilirik doang, abis itu tidur lagi. Tapi kalau sama bapaknya kadang melek lama."
"Koq gitu?" tanya Vita.
"Tau kali kalau yang itu jarang dirumah siang hari." timpal Nina.
"Iya kali ya. Karena gue di rumah mulu, bosen kali dia mencium aroma tubuh gue." seloroh Lea.
Kelima perempuan itu pun kembali tertawa. Sementara di tempat lain, Arsen yang baru keluar dari sebuah toko buku merasa dirinya diikuti oleh seseorang. Maka ia pun menoleh dan mengamati sekitar selama beberapa saat.
Tak ada siapapun yang terlihat. Namun ia yakin pada firasatnya yang barusan. Bahwasannya ada orang yang dengan sengaja mengikuti.
Arsen kembali melangkah, namun perasaan itu lagi-lagi muncul. Secara serta-merta ia pun menoleh dan mendapati seseorang, yang matanya tanpa sengaja bertemu tatap dengan Arsen.
__ADS_1
Seketika kecurigaan remaja itu pun menyeruak. Ditambah lagi orang yang menatapnya itu kini buru-buru berbalik dan seperti menghindar. Sontak saja Arsen segera menyusulnya.
"Hei tunggu!"
Arsen terus mengejar orang itu. Namun orang itu semakin mempercepat langkah bahkan berlari.
"Hei."
Arsen turut berlari. Semakin kencang orang tersebut, semakin kencang pula dirinya. Orang tersebut memasuki gang demi gang, lorong demi lorong.
Arsen terus mengikuti sampai kemudian ia menemui jalan buntu dan tak ada siapapun disana. Arsen menarik nafas, ia bingung kemana orang itu berlari. Sedang dihadapannya kini hanyalah sebuah tembok yang tinggi.
"Hhhhh."
Remaja itu menghela nafas kemudian berbalik arah. Namun tiba-tiba muncul seseorang dihadapannya. Orang tersebut adalah orang yang tadi ia kejar. Terlihat orang tersebut membawa sebilah pisau dan langsung melakukan penyerangan terhadap Arsen.
Perkelahian pun tak dapat dihindari. Arsen melawan orang tersebut dengan tangan kosong. Ketika orang tersebut memukul, maka ia balas memukul tak kalah kuatnya. Ia ingin segera melumpuhkan orang tersebut dan bertanya siapa dirinya, atas suruhan siapa ia mengikuti kemana Arsen pergi.
Sementara supir dan bodyguard masih menunggu di parkiran. Arsen berjibaku dengan orang yang tengah menyerangnya itu dengan susah payah. Berkali-kali ia terkena pukulan dan balas memukul. Sampai suatu ketika pisau tajam yang di bawa oleh orang itu terkena tangan Arsen dan melukainya.
"Aaaakkh."
Arsen berteriak, darah seketika mengucur deras. Sayatan yang ia dapat cukup dalam serta panjang. Orang tersebut ingin menghabisinya, namun kemudian ia mendapat telpon dan memaksa ia harus meninggalkan lokasi. Orang tersebut pergi begitu saja, tinggallah Arsen kini menahan kesakitan.
***
Reynald yang berada di kantor mendadak ingat pada puteranya dan menelpon sang supir. Ia khawatir sebab sejak tadi Arsen tak ada membalas pesan di WhatsApp.
Sebelum itu ia memang menonaktifkan notifikasi, semata agar ia bisa berkonsentrasi dalam membaca buku. Namun kini remaja itu tengah mengejar orang yang mengikutinya. Sementara Reynald, seperti tersentak dan mendadak khawatir pada sang anak.
"Iya pak." jawab pak Budi pada Reynald.
"Arsen masih di toko buku?" tanya nya kemudian.
"Iya pak, belum ada keluar. Mungkin masih baca-baca."
"Oh ya udah kalau gitu. Saya cuma khawatir aja." ujar Reynald.
"Berarti masih ama ya, pak?" lanjutnya lagi.
"Aman pak." jawab supirnya itu.
__ADS_1
Maka Reynald pun menyudahi telpon tersebut. Sang supir sejatinya berada cukup jauh dari toko buku. Sebab lahan parkir berada disisi timur dan mereka parkir di area paling luar. Sebab parkir didalam dan basemen toko buku itu sudah penuh sesak.
***
Marvin telah kembali ke kantor dan Clarissa sudah ia antarkan pulang. Pria itu kini mengingat wajah Lea sambil tersenyum penuh maksud.
"Lo bakal kena kali ini, Dan." ujarnya kemudian.
"Gue akan buat perhitungan sama lo." lanjutnya lagi.
Tak lama ia pun tertawa-tawa sendirian. Bahkan tawanya terdengar sampai keluar. Membuat para karyawannya merasa heran.
"Bos kita kenapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Tau, kesambet kali." celetuk yang lainnya sambil tertawa.
Sementara di kediamannya Clarissa tersenyum puas. Ia tak sabar segera menunggu kehancuran dari Daniel. Ia tak sabar menunggu Daniel mendapatkan masalah yang besar, serta Lea jadi menderita.
***
"Koq Arsen nggak ada di dalam ya."
Sang bodyguard bertanya pada supir, ketika ia telah kembali dari dalam toko buku. Tadi ada sempat ia mengawasi ke dalam dan mencari remaja itu di empat lantai gedung pertokoan tersebut. Namun ia tak menemukan Arsen.
"Di ujung kali, di balik rak-rak buku." Supir menjawab.
"Udah dicari bahkan ke ujung-ujung. Nggak ada semuanya.
"Di toilet mungkin." ujar sang supir lagi.
"Iya kali ya. Ya udalah tunggu aja." ujar bodyguardnya tersebut.
***
"Pa, nanti jangan marahin supir sama bodyguard."
Arsen mengirim pesan singkat pada Reynald. Ia kini berada dalam perjalanan menuju rumah sakit, dengan menggunakan taxi. Sebab terlalu jauh apabila harus menemui supirnya terlebih dahulu.
Kalaupun sang supir yang menghampiri, sudah pasti akan lama. Sebab tadi Arsen mengejar dan berkelahi dengan orang itu di jalur yang berbeda. Supir harus memutar arah jauh dulu untuk tiba di dekatnya.
Sedang ia harus segera mendapat pertolongan. Sebab ia menderita Thalasemia dan lukanya harus di tindak lanjuti oleh tenaga medis.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?. Supir sama bodyguard kamu kenapa?"
Reynald mulai mencurigai sesuatu dan kini jadi semakin cemas. Arsen pun menceritakan kronologi kejadian termasuk kondisinya saat ini. Dan tentu saja, Reynald pun akhirnya terkejut.