Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lele oh Lele


__ADS_3

"Ayo yah, sini."


Lea mengajak Richard duduk di sebuah warung seblak. Padahal ia dan ayahnya tadi menggunakan mobil mewah. Namun ia cuek saja masuk ke tempat tersebut.


"Ini kita mau makan apa sih, Le?" tanya Richard heran.


"Seblak yah." jawab Lea.


"Yang kayak waktu dulu kamu lempar di mobilnya Daniel?"


"Iya." jawab Lea seraya tertawa.


"Emang itu enak?" tanya Richard pada sang anak.


"Ye, cobain dulu yah. Jangan langsung mengunderestimate sesuatu." tukas perempuan itu.


"Bukan meremehkan, tapi kan ayah emang nggak pernah makan."


"Ayah tapi dirumah masakannya lokal banget. Kirain dulu cuma makan masakan Eropa doang."


"Ya emang selalu makan makanan lokal di rumah, tapi kan nggak seblak juga. Masakan yang ayah makan itu standarnya masakan rumahan semua orang. Mana pernah ayah makan masakan modifikasi kayak gini."


"Ya udah, pokoknya ayah cobain dulu nih ntar. Biar ayah nggak galau lagi."


"Apa hubungannya makan seblak sama galau?" tanya Richard heran.


"Kalau kita makan pedes yah, kita bakalan konsentrasi sama rasa pedas itu. Nggak nakal ingat lagi sama yang namanya hal-hal galau."


"Oh ya?"


"Iya dong."


"Awas yang kalau nggak terbukti. Kamu bayar ayah 10 juta." ujar Richard.


"Beres, 10 juta doang mah."


Lea berujar seraya terkekeh. Sementara Richard kini tersenyum. Mereka lalu memesan seblak campur dan menunggu makanan tersebut jadi. Saat masih dimasak saja, Richard sudah batuk-batuk mencium aromanya.


"Le, kamu yakin ini bisa dimakan manusia?"


Richard berujar ketika seblak tersebut sudah hadir depan mata mereka. Warnanya yang merah merona serta memiliki aroma yang khas, memberikan kengerian tersendiri bagi Richard.


"Coba aja dulu." ujar Lea.


"Palingan juga ntar ketagihan." lanjutnya lagi.


Richard lalu mengambil sendok dan memperhatikan seblak tersebut dengan ragu-ragu. Perlahan ia pun menyendok dan memakannya.


"Ehmm."


Pria itu seperti tersedak lalu meminum air mineral yang juga tadi ia pesan.


"Kenapa yah?" tanya Lea cemas.


"Keselek cabe, pedesnya sampe kuping." ujar Richard kemudian. Keduanya lalu sama-sama tertawa.


"Pelan-pelan makanya." ujar Lea lagi.


Richard pun lalu memakannya secara perlahan.


"Hah, kenapa panas banget ya?" tanya Richard di sela-sela makan.


"Nggak tau yah, ini masih mengandung misteri." jawab Lea.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Richard tak mengerti.


"Ini kita bungkus nih, terus kita muter-muter dulu sampe puncak Bogor. Ntar sampe rumah masih panas."


"Oh ya?"


"Ntar kita bungkus buat mas Daniel sama om Ellio." lanjutnya kemudian.


"Oke." jawab Richard.


Mereka pun lanjut makan, hingga semuanya habis tak bersisa.


"Habis pak Richard?" Lea meledek sang ayah.


"Orang laper." Richard membela diri.


"Masih ngeles aja, padahal enak kan?" tanya nya kemudian.


Richard tertawa.


"Pedes banget tapi. Tanggung jawab kamu kalau ayah sakit perut."


"Iya, ntar abis ini kita minum yoghurt sama air kelapa. Biar nggak pup api." ujar Lea.


Richard terkekeh dibuatnya. Lea lalu memesan beberapa porsi untuk Daniel, Ellio dan mbak-mbak di rumah. Tak lupa ia juga membelikan martabak telor pesanan Ellio.


Selang beberapa saat kemudian mereka pulang ke rumah, dengan perasaan Richard yang sudah jauh lebih baik.


"Nih yah pegang yah, masih panas kan?" ujar Lea seraya menyodorkan seblak yang ia bawa. Padahal tadi sempat mereka duduk-duduk dulu di suatu tempat, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.


"Oh iya, bisa gitu ya." ujar Richard kemudian.


Lea tertawa, kemudian masuk dan menemui Daniel serta Ellio.


"Astaga, masih disini juga."


"Udah mandi, Le. Udah ngurus Darriel juga tadi aku. Ini aku balik lagi kesini."


"Nangis nggak Darriel nya mas?"


"Nangis minta susu. Sekarang udah tidur lagi." ucap Daniel.


"Nih om martabak telornya sama ada seblak." ujar Lea.


"Wah asik." Ellio jadi bersemangat.


Tak lama Lea pun memanggil para asisten rumah tangga dan membaginya juga dengan mereka.


Ellio yang belum pernah memakan makanan tersebut pun, beberapa kali tersedak. Pasalnya itu cukup pedas baginya.


"Ternyata enak juga ya." ujar Ellio setelah makanannya sudah hampir habis. Sementara Daniel tak banyak komentar. Ia hanya terus makan sambil menahan rasa pedas di mulutnya.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba handphone Richard berbunyi. Pria itu terkejut.


"Apa?. Lo dirumah sakit?"


Lea, Daniel, serta Ellio kini menoleh ke arah pria Richard.

__ADS_1


"Kenapa emangnya?" tanya Richard kemudian. Lalu ia diam mendengarkan.


"Astagaaa."


Terus Arsen gimana?" tanya nya dengan nada kian cemas.


Lea, Daniel, dan Ellio kini jadi tau siapa yang dimaksud oleh Richard. Mereka mendadak khawatir di waktu yang nyaris bersamaan.


"Ya udah, gue kesana sekarang." ucap Richard.


Tak lama ia pun menyudahi panggilan tersebut.


"Kenapa yah?" tanya Lea pada Richard.


"Arsen, dia diukai orang lagi."


"Hah?"


Mereka semua kaget.


"Gimana bisa, bukannya personel yang jagain dia udah lo tambah." ujar Daniel.


"Gue juga belum tau gimana kronologi lengkapnya. Ini gue mau kesana dulu."


"Gue ikut." ujar Daniel.


"Ellio sama Lea dirumah aja." lanjutnya kemudian.


Lea dan Ellio pun mengangguk. Maka Daniel dan Richard langsung bergegas. Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menyambangi tempat dimana Arsen dirawat.


Richard sebegitu khawatirnya pada sang keponakan. Sampai-sampai ia memeluk Arsen dengan penuh emosional.


"Ini gimana ceritanya sih?" tanya Richard pada remaja itu.


"Ini salah Arsen, om. Arsen yang sengaja ngejer orang itu."


"Kejar?"


Arsen mengangguk.


"Jadi ceritanya Arsen kan ke toko buku. Terus pas mau pulang, Arsen ngerasa ada yang ngikutin Arsen. Pas Arsen noleh, beneran ada orang yang mencurigakan. Terus karena pengen tau dia itu siapa, Arsen kejar sampai jauh. Ternyata dia bawa senjata tajam."


"Kamu tuh terlalu penasaran orangnya." ujar Reynald pada sang anak."


"Harusnya kamu diemin aja dan jangan sekali-sekali didekati." lanjutnya kemudian.


"Iya Sen, kita nggak tau orang itu bawa senjata apa." Daniel menimpali.


Arsen sedikit menunduk.


"Untung cuma dilukai tangan doang." ujar Reynald lagi.


"Kalau kayak papa waktu itu gimana?. Sampe sekarang masih belum ilang loh sakitnya." lanjut pria itu.


Arsen menunduk.


"Maafin Arsen, pa." ujarnya kemudian.


"Arsen janji nggak akan ulangi lagi."


Richard memegang kepala keponakannya tersebut. Sedang Reynald hanya mengangguk.


"Ini udah nggak bisa di biarkan." ujar Daniel pada Richard, ketika mereka duduk di luar. Arsen sendiri sudah tidur ditemani Reynald.

__ADS_1


"Nggak kelang sebulan, bro. Abis Reynald, terus Arsen. Ini bener-bener bahaya." lanjut pria itu.


Richard menarik nafas, sambil berfikir apa lagi yang harus ia lakukan selanjutnya. Orang-orang yang ia suruh untuk menyelidiki kasus ini, belum ada laporan sampai sekarang.


__ADS_2