
"Nah Lea semua sudah siap."
Ibu Richard meletakkan masakan yang terakhir jadi ke atas meja makan.
"Iya oma." ujar Lea seraya tersenyum.
Ia memandangi banyak masakan yang telah ia dan sang nenek buat. Dibantu juga oleh seorang asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
"Kamu mau oma bikin kan apa lagi?" tanya ibu Richard kemudian.
"Pengen rujak, oma." jawab Lea dengan nada penuh harap.
"Rujak?"
"Iya."
"Kayaknya oma masih punya banyak buah deh. Coba oma cek dulu."
Ibu Richard membuka kulkas besarnya dan melihat ada apa saja yang masih tersisa.
"Ada apel, jambu kristal, jambu air, timun. Tapi nggak ada mangga, nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa oma, itu aja udah cukup koq." ujar Lea gembira.
"Ya sudah."
Ibu Richard mulai mengeluarkan buah-buahan tersebut. Lea membantu membersihkan dan memotong, sementara sang nenek meracik bumbu.
"Kebetulan sekali masih ada kacang, gula merah, asam jawa. Jadi nggak perlu beli." ujar ibu Richard kemudian.
"Iya oma, makasih ya."
"Iya, kamu kalau mau apapun itu bilang saja. Nanti oma usahakan buat kamu."
"Iya oma, saat ini aku lagi nggak pengen apa-apa koq. Ini aja udah cukup." ujar Lea.
Ibu Richard tersenyum.
"Kamu itu persis bapakmu."
"Oh ya?"
"Iya, dia itu nggak banyak tingkah soal makanan. Tapi kalau cewek baru banyak maunya."
Lea terkekeh.
"Iya, ayah makan mie instan juga mau." ujarnya kemudian.
"Richie itu sebenarnya anak baik. Dulu, oma sama opa ini belum seperti sekarang."
"Dalam hal?" Lea bertanya.
"Ya ekonominya. Kalau dibilang lumayan sih lumayan, tapi masih ada banyak hutang di sana-sini karena usaha opa mu naik turun."
Ibu Richard memasukkan gula merah ke dalam ulekan kacang yang sudah halus.
"Nah bapakmu itu dari remaja memang sudah suka berbisnis, sama seperti Daniel dan Ellio. Walau saat itu dia bisa saja pinjam uang ke opa mu, tapi dia berusaha sendiri. Dia memulai bisnisnya yang sekarang itu tanpa sokongan dari orang tua. Kami hanya membiayai sekolah dia, karena itu kewajiban kami. Sisanya dia cari uang sendiri, tidak mengandalkan privilege."
Lea tersenyum.
"Oma ingat pertama kali dia bisa beli mobil sendiri, tau nggak kamu yang silver. Yang paling pasaran sendiri bentuk dan merk nya."
"Oh iya, tau-tau." ujar Lea.
"Itu dia beli pertama kali, dan nggak mau di jual sama dia. Walaupun sekarang sudah punya mobil-mobil mewah."
"Oh."
__ADS_1
Lea benar-benar baru mengetahui fakta dibalik mobil tersebut. Mobil yang sama pernah dipakai oleh Daniel dulu, saat pertama kali mereka bertemu. Ketika itu Lea dan Leo menyeberang jalan dan Leo di serempet oleh Daniel, hingga mereka bertengkar di pinggir jalan.
"Oma pernah tanya, kenapa nggak di jual aja. Tapi katanya mobil itu banyak kenangannya."
Ibu Richard mewadahi bumbu rujak yang sudah jadi.
"Ayah orangnya nggak melupakan masa lalu gitu aja ya, oma."
"Iya, kecuali kalau soal cewek. Oma rasa dia gampang lupa."
Lea kembali terkekeh.
"Oh ya oma, ngomong-ngomong soal cewek. Oma jadi mau jodohin ayah sama om Ellio?"
Lea pura-pura tidak tahu, ini hanya pancingan karena ia akan segera memasukkan omongan lain.
"Ya jadi, kamu nggak apa-apa kan punya ibu tiri?. Biar bapakmu ada yang ngurus."
"Ya nggak apa-apa sih, asal ayah bahagia." jawab Lea.
"Sebenarnya kalau ibumu itu nggak punya suami, oma setuju saja Richie menikah sama ibumu. Tapi ibumu punya suami, masa Richie jadi pebinor."
Lea tertawa ngakak kali ini.
"Tau-tauan oma sama pebinor." ujarnya kemudian.
"Kan oma main tiktok sama Instagram." jawab ibu Richard.
"Oh ya?"
"Iya dong."
Ibu Richard mengambil handphone dan menunjukkan laman sosial media miliknya pada Lea.
"Wah, oma hits juga nih. Lea follow ya."
Lea mengambil handphone, lalu memfollow akun neneknya tersebut.
"Emang Richie bisa punya pacar yang dia akui gitu?. Setahu oma bapakmu itu banyakan main-main doang, nggak ada yang serius."
"Ada oma, Lea pernah ketemu." ujar Lea dengan nada agak sedikit ragu.
"Orangnya gimana?" tanya ibu Richard kemudian.
"Baik, cantik, lembut, dan terpelajar."
Ibu Richard menghela nafas.
"Ya kalau memang ada, harusnya Richie bawa perempuan itu kesini."
"Mmm..."
Lea ingin mengatakan jika saat ini Dian tengah berada di luar negri untuk kuliah. Tapi jika ia mengatakan hal tersebut, ia takut neneknya akan menanyakan perihal berapa usia Dian. Dan jika disebutkan, Lea juga takut neneknya akan langsung menolak dan makin mempercepat perjodohan ayahnya dengan perempuan lain.
Lebih baik di tunda dulu, supaya neneknya bisa melihat sendiri bagaimana Dian. Dan supaya neneknya bisa menilai berdasarkan apa yang ia lihat.
"Nanti Lea bilangin ayah deh, suruh bawa ceweknya kesini. Supaya oma, opa, om Reynald bisa kenal juga."
"Ya sudah, nanti bilang sama sama Richie. Bilang kalau oma welcome aja, semisal dia mau memperkenalkan pacarnya. Kalau memang baik, ya kenapa nggak."
"Ok deh oma." ujar Lea seraya tersenyum.
"Ayo ini di makan rujaknya, enak loh."
"Iya oma."
Lea mulai memakan rujak tersebut.
__ADS_1
***
Malam harinya semua berkumpul. Ada ibu dan ayah Richard, Reynald serta Richard sendiri. Tak lama Daniel dan Ellio tiba, karena keduanya juga diminta orang tua Richard untuk datang.
"Lama bangsat, di jalan ngapain aja lo berdua." Richard berseloroh.
"Kamu itu kalau ngomong disaring, ngomong bangsat depan anak dan calon cucu."
Ibu Richard memarahi anaknya, sedang Daniel dan Ellio kompak menahan tawa.
"Mi, gitu doang jadi masalah." Richard mulai sewot pada ibunya.
"Ya kamu itu bapak, calon kakek. Harus belajar attitude yang baik di depan anak. Kalau cuma kalian bertiga aja, atau depan mami, papi dan Reynald nggak masalah. Lea itu masih muda, perlu bimbingan kamu."
"Mampus."
Daniel dan Ellio berujar tanpa suara sambil meledek dan menjulurkan lidah. Membuat Richard ingin mengirim kedua temannya itu ke planet mars.
"Daniel, kamu juga harus bersikap layaknya menantu. Kamu cium tangan Richie, kayak Lea kalau lagi ketemu bapaknya."
"Hmmph."
Ellio menutup bibir rapat-rapat, namun tak kuasa karena tawanya keburu pecah.
"Hahaha."
Ia ngakak dihadapan Daniel. Sementara ayah dan kakak Richard pun turut tertawa meski tanpa suara, begitupula dengan Lea.
"Kamu juga Ellio." Ibu Richard kembali berujar, seketika tawa Ellio mendadak lenyap.
"Hah, koq Ellio juga mi?" tanya nya heran.
Daniel menahan tawa karena kini ia tidak sendirian.
"Kamu kan datang bersama Daniel. Berarti status kamu adalah teman pendamping Daniel. Kalau teman kamu punya mertua, kamu juga harus hormati dengan cara yang sama."
"Tapi kan Ellio seumur Richard, mi."
"Iya, Daniel juga seumur Richard. Tapi posisinya dia menantu, dan kamu sedang datang bersama Daniel. Kalau kamu datang duluan, kamu bisa dikategorikan sebagai taman Richard. Berhubung kamu datang sama Daniel, ya kamu harus memposisikan diri sebagai teman Daniel."
Ellio menghela nafas pasrah. Richard sendiri kini berdiri dengan wajah sok penuh wibawa, sambil mengulurkan tangannya.
Jujur Daniel dan Ellio ingin sekali melempar Richard ke luar angkasa. Karena ia terlihat sangat-sangat menggunakan otoritasnya sebagai mertua.
"Congkak anjir, Richard." bisik Ellio pada Daniel.
"Pengen banget gue sleding palanya." ujar Daniel.
"Ayo Daniel, cium tangan Richie." Ibu Richard memberi perintah. Sementara Richard melambai-lambaikan tangannya dengan sombong.
Daniel pun menghela nafas, lalu mencium tangan Richard. Sementara Richard tersenyum penuh kemenangan.
"Tangan lo bau terasi." ujar Ellio ketika tiba gilirannya.
"Emang, orang tadi gue abis nyobain sambel terasi mami."
"Bangsat."
Daniel dan Ellio berujar tanpa suara. Lea tertawa bersama ayah Richard dan juga Reynald.
"Mereka dari dulu gitu aja tuh, Lea." Reynald berujar pada Lea.
"Oh ya?" tanya Lea masih sambil tertawa.
"Iya, mami, Richard, Daniel, Ellio itu, ada aja yang mereka persoalkan. Selalu ribut dan selalu jadi bulan-bulanan mami."
"Kalau om Reynald sering kena marah juga sama Oma?" tanya Lea.
__ADS_1
"Nggak, om kamu ini anak kesayangan oma. jarang kena marah." Ayah Richard menimpali, sementara Reynald hanya tersipu.
Richard, Daniel, Ellio dan ibu Richard pun akhirnya duduk di meja makan. Menyusul Lea, Reynald dan ayah Richard yang sudah lebih dulu. Tak lama, suasana pun bertambah hangat. Mereka menikmati makanan sambil mengobrol santai.