Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Siapa Yang Membalas (Bonus Part)


__ADS_3

"Mas, transferannya kurang."


Susi merengek manja ketika Hanif sudah tiba dirumah. Baru beberapa jam yang lalu Hanif bertengkar lagi dengan Yayah, sang istri kedua. Lantaran Yayah semakin mantap untuk bercerai dari dirinya.


Malah kini Yayah juga tengah melaporkan Hanif atas kekerasan yang ia terima tempo hari. Saat Hanif kelepasan memukul istri keduanya itu.


"Kamu uang buat apa lagi sayang?"


Hanif masih tak bisa berlaku kasar pada Susi, sebab ia cinta mati pada perempuan muda itu.


"Aku pengen kasih ibu uang mas, sama beli gelang Cartier. Soalnya aku malu sama temen-temen aku. Kata mereka aku punya suami kaya tapi nggak punya perhiasan mahal."


Hanif menarik nafas panjang, andai ini dilakukan Nadya pastilah ia bisa mengamuk sejadi-jadinya. Namun karena Susi masih berharga dimatanya, jadilah Hanif menahan emosi. Dan lagi pula saat ini Susi tengah hamil.


"Ini bawaan dedek loh mas."


Susi mengungkapkan alasan klasik, dengan mengkambinghitamkan anaknya sendiri yang masih belum tau apa-apa di dalam perut.


"Ya sudah butuh berapa?" tanya Hanif.


"Dua ratus juta mas." Dengan entengnya Susi menjawab.


Hanif diam sekali lagi. Emosi pria itu benar-benar naik ke ubun-ubun kali ini. Namun sekali lagi ia tahan demi satu dan lain hal.


"Ya udah, kamu tunggu aja. Nanti aku suruh asisten aku yang transferin kamu." ucap Hanif.


"Yeay, aku senang mas."


Susi bersorak-sorai, sedang Hanif tersenyum kecut. Sebab meskipun kaya raya, memberi uang sebesar dua ratus juta dalam waktu satu hari merupakan hal yang berat untuk Hanif.


Karena ia sudah menjatah masing-masing istrinya itu sebesar lima puluh juta perbulan. Lain dari tempat tinggal dan kendaraan.


Sejatinya dalam segi materi, Hanif tak begitu berbeda pada tiap-tiap istrinya. Namun sekali lagi pernikahan bukan sekedar tentang materi semata, melainkan juga soal kepuasan dan ketenangan batin.


Untuk apa materi berlimpah jika kasih sayang terbagi di sana sini. Untuk apa harta berlimpah ketika cinta digilir seperti antrian kasir minimarket. Setidaknya itulah yang kini tertanam jelas dibenak Nadya.

__ADS_1


Ia benar-benar sudah tidak takut lagi akan semuanya. Lagipula ia cukup pintar dibanding istri yang lain. Di awal-awal pernikahan saat hubungan masih semanis madu. Nadya


meminta pada Hanif untuk memindahkan nama kepemilikan rumah yang ia tempati, menjadi atas namanya.


Tentu saja saat itu Hanif memenuhi, sebab ia masih sangat cinta pada Nadya. Nadya juga memindahkan nama atas kepemilikan dua mobil serta ia rajin menabung dan memiliki banyak aset.


Nadya tidak tahu apakah istri-istri Hanif yang lain juga demikian. Yang jelas dirinya tidak akan kelaparan jika bercerai dari suaminya itu. Untuk urusan Arkana sendiri, ia masih masuk dalam daftar tanggung jawab Hanif sampai pendidikannya selesai.


"Ini udh aku transfer ya." ucap Hanif pada Susi, ketika telah beberapa saat berlalu.


Maka dengan tipu muslihatnya Susi segera memberi Hanif perlakuan manis. Hanif pun menjadi luluh, padahal itu adalah trik klasik hampir semua perempuan. Manis dan penurut serta melayani bila cuan sudah masuk di dalam kantong.


Tak hanya sekedar itu, Susi juga menggoyang sang suami dengan hot setelah makan malam. Dan itu membuat Hanif tertidur lelap. setelahnya Susi mulai mengabarkan orang tuanya, bahwa ia mendapatkan uang dan akan segera mentransfer uang tersebut.


Tentu saja kedua orang tua Susi merasa bangga atas prestasi yang dimiliki sang anak. Yakni mampu memoroti suaminya sendiri.


"Hebat kamu, Sus. Besok ibu mau memperbaiki bagian teras dulu. Mau cari bahan bangunan sama tukang malam ini."


"Iya bu, nanti uang buat beli mobilnya bertahap ya bu." ujar Susi.


"Sama-sama bu."


Kemudian sang ibu mempertanyakan perihal kehamilan Susi. Ibunya menyarankan Susi untuk memiliki anak banyak, agar memiliki banyak warisan pula apabila ia bercerai dari Hanif suatu saat.


"Iya bu, pasti." jawab Susi.


"Habis melahirkan ini Susi bakal hamil lagi koq bu. Dan suatu saat Susi pasti minta cerai. Ya kali Susi mau ngurusin tuanya dia, ih amit-amit." ujar Susi.


"Bagus Sus, kumpulkan uang selagi kamu sama dia."


Ibu Susi yang sama jahatnya itu mendoktrin sang putri. Dan Susi yang memang sudah jahat dari lahir menerima wejangan laknat itu dengan senang hati. Sementara Hanif tidur dalam mimpi kenikmatan. Ia tidak tau jika istri ularnya tengah merencanakan sesuatu.


***


"Pak Dan."

__ADS_1


Daniel tiba-tiba di cegat Shela saat ia baru keluar dari dalam mobil. Ini terjadi di halaman parkir kantor pada keesokan harinya. Dimana Richard dan Ellio pun berada di tempat yang sama, karena baru datang. Hanya saja posisi mereka berjauhan.


"Shela ya?" tanya Daniel seperti ingat tak ingat pada perempuan muda itu.


Sebab dalam pandangan matanya Shela itu sama seperti teman Lea. Layaknya Adisty, Ariana, dan lain-lain. Sebab mereka seumuran.


"Koq pak Dan kayak nggak kenal gitu sih sama saya?. Kan kita udah sering chat-an. Saling ngirim foto hot dan lain-lain." ujar Shela.


Daniel terkejut mendengar semua itu. Apalagi Richard dan Ellio yang kini tak sengaja mendekat.


"Maksud kamu apa sih?" tanya Daniel heran.


"Pak, waktu bapak minta pap foto saya toples saya kasih loh pak. Saya kirim ke DM instagram bapak. Bapak bilang mau ketemu saya kemaren di hotel Mutiara. Saya udah nunggu bapak disana berjam-jam, tapi bapak nggak datang. Makanya saya mau konfirmasi sekarang, bapak itu maunya apa sama saya?"


Daniel benar-benar bingung kali ini. Namun ia juga merasa tak enak pada sang mertua dan Ellio yang mendengar hal tersebut.


"Kamu jang ngaco ya." ujar Daniel pada Shela.


"Ngaco gimana?. Saya punya buktinya."


Shela memperlihatkan bukti direct message Daniel kepadanya di Instagram. Tentu itu membuat Richard ingin marah, namun masih ia tahan.


"Saya bahkan nggak pernah baca satupun direct message yang masuk dari orang yang nggak begitu saya kenal, atau yang nggak begitu pengen saya kenal." ucap Daniel.


Seperti tertampar Shela mendengar semua itu. Berarti selama ini dirinya masuk dalam kategori orang yang tidak dikenal ataupun tidak begitu ingin di kenal oleh Daniel.


"Bapak tega banget pak." ucap Shela terisak.


Richard kini menatap sang menantu, begitu pula dengan Ellio.


"Ini bukan perkara saya tega atau nggak, Shela. Saya bener-bener merasa nggak pernah meladeni kamu di DM." ucap Daniel.


"Lantas kalau bukan bapak, terus siapa?" tanya Shela setengah berteriak.


"Gue."

__ADS_1


Sebuah suara datang mengejutkan dari suatu arah. Sontak Daniel, Richard, Ellio dan Shela sendiri menoleh ke arah sumber suara itu. Dan ternyata itu Lea.


__ADS_2