
"Lele, masih nggak enak hati ya?"
Daniel bertanya pada Lea ketika mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Lea sedikit menunduk, lalu menganggukkan kepala. Ia ingat pada peristiwa beberapa saat yang lalu. Saat itu dirinya enggan pulang dan ingin menemani Nina sampai esok menjelang.
"Le, lo pulang aja. Takut bayi lo nanti kenapa-kenapa. Liat gue, anak gue udah nggak ada. Kehilangan anak itu nggak enak, Le. Sakit rasanya."
Nina memohon pada Lea agar dirinya segera pulang.
"Tapi Nin, gue mau nemenin lo disini."
Lea bersikeras.
"Ada Vita sama Adisty, Le. Besok lo datang lagi aja. Ariana juga besok mau datang lagi bareng Iqbal, Arsen, dan yang lainnya."
"Gue mau disini." rengek Lea.
"Gue akan kepikiran sama lo kalau udah pulang." lanjut perempuan itu lagi.
"Le, sini deh."
Tiba-tiba Vita menarik Lea keluar dari ruangan.
"Kenapa sih, Vit?"
Lea bertanya pada Vita dengan nada heran. Saat itu mereka berdua tak sadar ada Daniel yang baru tiba dari suatu arah.
"Le, paling bener itu lo pulang. Lo bisa istirahat dan nggak melukai hatinya Nina." Vita berujar dengan suara cukup pelan, namun Daniel bisa mendengar semua itu.
"Melukai gimana sih, emang gue ngapain dia coba?" Lea sudah bersiap marah pada Vita.
"Dengerin gue dulu." Vita memegang bahu Lea dan menatap sahabatnya itu dalam-dalam.
"Lo sama Nina itu hampir barengan hamilnya. Sekarang dia kehilangan bayinya dan lo masih hamil. Lo nggak mikir, kalau Nina bakalan tambah sedih setiap kali ngeliat lo dan bayi lo. Dia pasti keinget terus sama kehamilan dia. Takutnya dia banyak menyesali diri dan akhirnya depresi."
"Maksud lo, gue berbahaya untuk Nina gitu?"
"Le, lo sayang Nina kan?" tanya Vita kemudian.
Lea mengangguk dengan air mata yang sudah merebak di pelupuk mata.
"Lo nggak mau kan Nina kenapa-kenapa?. Apalagi sampai dia depresi, terus bunuh diri?"
Lea menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kita sama-sama jaga nina. Lo jaga dari jauh, gue jaga dari dekat. Gue akan kabarin lo terus mengenai perkembangan Nina. Lo masih boleh datang, tapi jangan terlalu sering dan jangan terlalu lama. Kasian bayi lo, kasian Nina juga."
__ADS_1
Lea menunduk, ada begitu banyak kesedihan di wajahnya kini.
"Le, gue begini demi elo dan demi Nina juga. Gue disini ada di tengah-tengah, nggak memihak siapapun."
"Ok."
Lea akhirnya mengerti, meski belum begitu rela. Ia pun lalu kembali ke dalam dan berpamitan dengan Nina dan juga Adisty. Kini ia berada di dalam mobil bersama dengan Daniel.
"Kita jalan dulu aja yuk, biar kamu nggak bete. Abis itu baru kita pulang."
Daniel memberikan ide, supaya Lea bisa sedikit terhibur.
"Mau jalan kemana?" tanya Lea dengan nada lesu.
"Ya terserah Lele. Mau makan atau mau jalan ke suatu tempat. Mau duduk di pinggir jalan juga nggak apa-apa." jawab Daniel.
Lea diam.
"Mau makan cilok, mas."
Lea kemudian berujar dengan wajah tertekuk dan nada bicara yang merengek manja. Daniel pun seketika tersenyum.
"Ya udah kita cari ya."
***
Daniel mengajak Lea menyusuri jalan demi jalan. Hingga akhirnya mereka menemukan tukang cilok yang mangkal di depan sebuah sekolah dasar.
"Tuh tukang ciloknya, beli yuk. Atau mau aku aja yang beli?" tanya Daniel.
"Mas aja yang beli, aku tunggu disini."
"Ok, mau pake bumbu apa?"
"Mau pake saos satu porsi, pake saos kacang satu porsi."
"Ok."
Daniel segera keluar untuk membelikan apa yang jadi keinginan Lea. Tak lama ia kembali dengan membawa jajanan tersebut, lengkap beserta air mineral dalam kemasan.
"Nih makan dulu...!" ujar Daniel seraya menyodorkan apa yang sudah ia dapatkan.
"Makasih ya mas." ujar Lea.
"Sama-sama." Daniel menjawab sambil coba tersenyum.
__ADS_1
"Aku sedih mas, nggak bisa terlalu banyak ketemu sama Nina."
Lea berujar sambil makan, sementara Daniel fokus mendengarkan.
"Yang dibilang Vita tadi itu bener, Le. Kamu harus agak menjaga jarak kunjungan dulu. Takutnya Nina keinget terus sama anaknya. Lagipula kan temen-temen kamu pasti datang untuk menghibur dia. Ada Marsha juga, om Ellio. Nanti aku tugaskan mereka berdua buat menemani Nina."
Lea mengangguk, lalu lanjut makan.
"Aku ngerti kamu nggak enak hati jadinya. Tapi ini semua demi kesembuhan Nina, biar dia cepat move on dari masalah ini."
"Suaminya gimana mas, udah kamu jebloskan ke penjara?"
Daniel menatap Lea dan lagi-lagi ia tersenyum.
"Kamu tenang aja soal itu. Ayah kamu juga ikut ngurusin koq. Dia linknya banyak dan gampang bagi dia untuk bikin suami Nina dan keluarganya itu jera."
Lea menghela nafas, benar apa yang dikatakan Daniel. Pada saat yang bersamaan, ibu mertua serta ipar Nina di datangi oleh Imelda. Imelda mengutarakan niatnya untuk bercerai dari sang suami.
Dan ketika ibu mertua serta ipar Nina masih syok dengan kedatangan Imelda. Tiba-tiba mereka mendapat kabar jika suami Nina ditahan polisi. Mereka juga mendengar berita mengenai bayi Nina yang tak terselamatkan, akibat ulah dari suami Nina sendiri.
Sontak semuanya pun menjadi kacau balau. Apa yang telah mereka semua rencanakan, tak ada satupun yang berhasil. Karena jika merencanakan sesuatu di atas penderitaan dan kesakitan orang lain, maka hasilnya hanyalah kehancuran.
Mendengar berita tersebut, Imelda pun makin mantap bercerai. Berita mengenai Imelda yang disakiti juga telah sampai ke telinga keluarga Imelda. Tentu saja ayah Imelda marah besar, melihat Puteri kesayangannya di khianati.
Tak ada ampun bagi sang menantu, hanya perceraian dan pemecatan lah obatnya. Sejatinya ayah Imelda tak masalah jika anaknya bercerai. Ia juga tau apa permasalahan yang dihadapi oleh rumah tangga Imelda.
Namun ia tak terima apabila anaknya di sakiti dan dibohongi. Ia tak terima anaknya di duakan, bahkan oleh menantu yang ekonominya ia selamatkan lewat perusahaan.
Kini suami Nina hanya tinggal menunggu nasib saja, dia telah menuai apa yang ia tabur. Ia telah menyiramkan bahan bakar dan membakar sekeliling, tapi ia sendiri berada di tengah-tengah. Akhirnya ia pun ikut terbakar.
***
"Lele udah makannya?"
Daniel kembali bertanya ketika Lea telah menghabiskan cilok yang tadi dibeli oleh sang suami.
"Udah mas." jawab Lea lalu meminum air mineral.
"Mau jalan lagi nggak?"
"Nggak usah, kita pulang aja. Aku mau rebahan."
"Ya udah ayok, abis ini istirahat." ujar Daniel kemudian.
Pria itu pun lalu menghidupkan mesin mobil. Tak lama mereka mulai merayap meninggalkan bahu jalan, tempat dimana tadi mereka berhenti.
__ADS_1