
"Hhhhh."
Lea bernafas lega usai melihat hasil testpack yang ternyata negatif. Perempuan itu sempat takut lantaran ia terlambat datang bulan.
"Kenapa Le?"
Daniel yang baru pulang kerja dan menjemput Richard dirumah sakit, bertanya pada istrinya itu. Lea lalu menunjukkan testpack yang masih berada ditangannya tersebut.
"Aku pikir hamil lagi mas, karena telat bulan ini. Tapi untungnya aja nggak." jawab Lea.
"Hamil juga nggak apa-apa, Le. Nggak usah takut." ujar Daniel.
"Aku masih sanggup buat menghidupi kalian." lanjut pria itu.
"Bukan masalah sanggup apa nggak, mas. Kasihan Darriel kalau harus punya adek sekarang." jawab Lea.
"Nanti ASI aku berubah dan jadi nggak enak buat dia. Haknya dia harus dapat ASI eksklusif, ntar malah terganggu sama adeknya." lanjut perempuan itu kemudian.
Daniel menarik nafas dalam-dalam dan mengembalikan testpack itu pada Lea. Lalu ia pun memeluk istrinya tersebut dengan erat. Sebab ia tau mungkin Lea telah dilanda ketakutan serta kecemasan yang mendalam.
***
Beberapa hari kemudian tepatnya di hari Minggu pagi.
"Dan."
Richard menelpon Daniel.
"Kenapa bro?" tanya Daniel pada ayah mertuanya itu.
"Mau ikut bakar ikan nggak?"
"Lah tumben lo ngadain bakar-bakaran segala, udah sembuh beneran?"
Daniel memastikan kesehatan sahabatnya tersebut, sebab meski sudah pulang Richard masih harus beristirahat dirumah.
"Udah, dan sebenarnya gue nggak ada niat. Tapi ini semua gara-gara Ellio." ujar Richard.
__ADS_1
"Gara-gara Ellio?" tanya Daniel heran.
"Maksudnya Ellio yang ngajakin gitu?" lanjutnya lagi.
"Kalau lo mau tau kelakuan dia, kesini aja!" tukas Richard.
Maka dengan didorong rasa penasaran ia pun menyambangi kediaman Richard, dengan membawa Lea serta Darriel tentunya.
"Ayah koq tumben mas ngajakin acara bakar ikan segala?"
Lea bertanya pada Daniel ketika mobil sudah mulai merayap meninggalkan rumah.
"Kata Richard ini ulahnya Ellio. Nggak tau apaan yang dibikin sama tuh kecoa Jerman." jawab Daniel.
Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Setibanya di kediaman Richard, Daniel dan Lea melongo. Sementara Darriel tampak tertawa-tawa dalam gendongan Marsha dan juga Ellio di kejauhan.
"Ini serius?" tanya Daniel dan Lea seraya menatap ke dalam kolam.
Pasalnya di kolam renang Richard kini terdapat banyak sekali ikan mas.
"Bininya ngidam pengen makan ikan mas di lesehan yang ada di puncak. Tapi ternyata tempatnya tutup, terus dia bikin empang dadakan." jawab Richard.
"Lo tau Ellio kan?" tanya Richard seraya menatap mata Daniel.
Seketika ingatan Richard pun tertuju pada beberapa saat sebelum itu. Ellio datang memohon meminjamkan tempat padanya.
"Lo mau buat apaan?" tanya Richard.
"Marsha ngidam kepengen makan ikan bakar di puncak Bogor. Gue udah ajakin kesana tapi tempatnya tutup. Diajak ke tempat lain dia nggak mau, terus ngambek. Bingung banget gue harus gimana?. Ntar anak gue mirip ikan mas lagi kalau nggak diturutin." ujar Ellio.
"Ya udah pake aja, kasihan istri lo." Richard mengizinkan.
Ia pikir Ellio akan membeli ikan satu sampai sepuluh kilogram saja. Tapi ternyata yang sampai seperti orang yang hendak berjualan.
Pada saat ikan-ikan tersebut diturunkan, Richard harus mengangkat telpon dari seorang klien. Dan pada saat ia kembali, Ellio sudah memasukkan ikan-ikan tersebut ke dalam kolam renang.
"Jadi si Bambang langsung masukin tanpa permisi?" tanya Daniel.
__ADS_1
Sementara kini Lea terbahak demi mendengar semua itu.
"Lo tau kelakuan burung unta satu itu kan?" Richard balik bertanya.
Daniel menahan senyum, tapi ternyata ia tak kuasa. Ellio memang selalu ada-ada saja tingkahnya dari dulu.
Sejak kecil ia memang paling banyak menyusahkan Daniel dan juga Richard. Terutama Richard yang paling banyak ia buat mengelus dada. Sebab Richard rumahnya lebih dekat dengan pria itu.
Pernah ia mengeluarkan ikan arwana milik Richard dan memindahkannya ke dalam baskom. Lantaran ia dilarang memelihara kura-kura dan ia mengadu pada Richard.
Richard bilang suruh bawa kura-kuranya ke rumah. Namun Ellio malah menjajah Aquarium arwana milik Richard.
"Koq masukin situ. Kenapa nggak kura-kura lo aja yang di tarok di baskom?" tanya Richard.
"Kasihan, bro. Dia udahlah numpang, terus dimasukin baskom pula. Ntar kalau kura-kura gue baperan terus mati gimana?" Ellio balik bertanya.
Baru saja Richard hendak berkata, namun Ellio kembali nyerocos.
"Jangan dzalim ke kura-kura gue. Kasihan mereka udahlah jalannya lambat, matinya lama. Nggak kebayang kan betapa beratnya mereka menjalani kehidupan di dunia ini." ujar pria tersebut.
Maka Richard pun hanya bisa menahan kedongkolan dalam hati. Kini Daniel dan Lea tertawa-tawa melihat semua itu.
"Seneng lo." seloroh Richard.
"Iyalah, senang gue liat muka lo sewot." ujar Daniel.
"Bro, itu udah dibakarin sama mbak Lita. Lo sama Lea harus makan." ujar Ellio dari kejauhan.
"Iya bro, gampang." jawab Daniel masih tertawa-tawa.
Beberapa saat ke depan mereka sudah terlihat makan bersama. Richard sendiri meski dongkol hati, namun ia sangat menyayangi Ellio.
Sekalipun Ellio tingkahnya paling ajaib dan kadang seperti remaja berumur belasan tahun diantara mereka bertiga.
Sebab Ellio pun sama seperti Daniel, ia akan maju di depan jika Richard mendapatkan masalah dalam hidup. Terlepas dari masalah itu mengecewakan mereka berdua atau tidak, yang jelas mereka akan tetap membantu kapanpun Richard membutuhkan.
Waktu beranjak, ikan-ikan yang masih hidup di dalam kolam pada akhirnya dibagikan ke orang-orang random yang lewat di jalan. ada sebagian yang diberikan kepada tetangga atau dikirim kepada keluarga dengan menggunakan jasa ojek online.
__ADS_1
Ellio cukup bertanggung jawab dengan menyewa jasa pembersih kolam. Sekalipun petugas pembersih itu baru bisa datang pada keesokan harinya.
Ia dan Marsha pamit pulang, usai membereskan semuanya. Begitupula dengan Lea dan juga Daniel. Mereka kembali ke rumah, meski Darriel mengamuk karena enggan meninggalkan sang kakek.