
Imelda terdiam, wanita itu mengalami syok berat. Pasca Nina menceritakan perihal siapa dirinya dan siapa ayah dari bayi yang tengah ia kandung.
Tubuh Imelda pun gemetaran, ia kini berusaha menyeka air matanya dengan tangan. Selama beberapa tahun pernikahan, baik di depan rekan, keluarga, maupun sosial media. Ia selalu memuji sang suami, sebagai suami yang sabar dan mau menerima keadaannya yang belum bisa memberikan keturunan.
Imelda merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Sebab suami dan keluarga suaminya menyatakan dukungan terhadap dirinya. Tak ada bullying ataupun tekanan, meski dirinya memiliki kekurangan.
Namun apa yang dikatakan Nina barusan, telah mematahkan anggapan jika sebenarnya laki-laki seperti itu masih ada.
Tak ada laki-laki yang benar-benar menerima keadaan jika istrinya tidak bisa memiliki anak, dan itu amat sangat melukai hati Imelda. Rasanya seperti di tusuk ribuan pisau.
"Saya mengatakan semua ini, karena saya ingin bercerai mbak. Saya tidak mau lagi di ganggu sama dia." ujar Nina.
"Sudah cukup saya dibohongi sampai saya hamil. Saya nggak mau melanjutkan semua ini. Mbak Imelda harus bantu saya, bilang sama dia untuk tidak lagi memaksa dan mengganggu saya. Apalagi sampai mau mencelakakan teman-teman saya." lanjutnya lagi.
Beberapa saat yang lalu Nina juga sempat menceritakan kelakuan sang suami yang sangat kekanak-kanakan. Bahkan sampai menyandera temanya dan mengancam dengan pisau.
"Masalah anak, saya nggak akan menghalangi untuk ketemu bapaknya. Cuma jangan paksa saya untuk melanjutkan pernikahan ini." Nina kembali berujar.
Imelda memejamkan mata sambil menghela nafas, air mata wanita itu kembali jatuh. Namun ia benar-benar merupakan sosok perempuan yang tangguh. Ia sama sekali tak mengamuk ataupun menyalahkan Nina. Sedari tadi ia terus berusaha meredam emosi dalam dirinya dan berusaha bersikap tenang meski kacau.
"Kamu nggak usah pergi." ujar Imelda.
Nina bingung mendengar pernyataan perempuan itu.
"Dalam hal ini akulah yang salah." ujarnya lagi.
"Maksud mbak?" tanya Nina heran.
"Seandainya aku nggak memiliki kekurangan, pasti semua ini nggak akan terjadi."
Kali ini Nina yang menghela nafas.
"Mbak, kekurangan pasangan bukan alasan untuk berkhianat. Bukan alasan untuk membohongi perempuan lain yang tidak tau apa-apa seperti saya."
"Tapi dia berhak menginginkan seorang anak." ujar Imelda lagi.
"Dan saya berhak untuk nggak mau melanjutkan hubungan dengan suami orang."
__ADS_1
Kata-kata Nina tersebut berhasil membuat Imelda terdiam.
"Saya mau suami seutuhnya mbak." ujar Nina.
"Saya nggak mau jadi madu ataupun di madu." lanjutnya lagi.
Untuk kesekian kali Imelda kembali menghela nafas. Ada segumpal perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Saya yang akan mundur, Nin."
Imelda memberikan pernyataan yang membuat Nina terkejut.
"Maksud mbak?"
"Saya yang akan mundur dari hidupnya dia, karena saya lah yang bermasalah dalam pernikahan ini. Saya nggak mau nanti bayi tidak berdosa itu tumbuh tanpa ayah ataupun ibunya. Saya mau dia punya keluarga lengkap, bayi itu berhak bahagia."
"Jangan mbak, itu sama saja mbak menormalisasi tindakan suami mbak sendiri. Sama saja mengajarkan pada orang lain, bahwa jika seorang perempuan tidak bisa memberi keturunan, maka jalan yang harus ditempuh adalah mencari wanita lain. Itu nggak bener mbak, cinta itu harusnya bisa menerima kekurangan. Bukan malah berusaha menenangkan ego diri sendiri."
Imelda berusaha tersenyum di tengah kehancuran hatinya.
"Justru karena saya tidak mau memenangkan ego saya sendiri. Makanya saya akan melepaskan dia." ujarnya.
"Nin, kamu berkata seperti ini seolah kamu adalah wanita yang kuat apabila tidak mempunyai suami."
"Mbak sendiri gimana?"
Imelda terdiam untuk yang kesekian kalinya.
"Mungkin aku akan terluka untuk waktu yang sangat lama. Tapi aku yakin semua itu akan berakhir suatu saat nanti, percayalah."
Imelda menatap Nina, sedang Nina merasa menyesal telah berani menemui wanita itu. Ia terlihat begitu pasrah dan merelakan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Bahkan disaat seperti ini ia masih memikirkan nasib bayi yang sedang dikandung oleh Nina.
Sungguh Nina menjadi kian marah terhadap suaminya. Betapa laki-laki itu tak pantas mendapatkan sosok wanita seperti Imelda maupun dirinya.
***
"Lo gimana sih, bisa bermasalah kayak gini?"
__ADS_1
Christ teman suami Nina yang berprofesi sebagai CEO sekaligus pengacara tersebut, bertanya kepada suami Nina dengan nada yang penasaran.
Suami Nina menghela nafas lalu memasang seatbelt, karena saat ini mereka sudah akan pulang ke rumah. Perkara sudah dijamin penuh oleh temannya itu, dan entah bagaimana cara dia melobi semuanya. Sehingga suami Nina sudah diizinkan pulang.
"Ini semua gara-gara Daniel." ujarnya kemudian.
"Daniel?" Christ bertanya dengan kening yang berkerut.
"Eragon."
Suami Nina menyebut nama perusahaan yang dimiliki oleh Daniel. Tak ada satupun yang tak mengenal Eragon di circle para bos yang ada di sekitar daniel, termasuk Christ.
"Kenapa emangnya dia?" tanya Christ penasaran.
Suami Nina lalu menceritakan pada sahabatnya itu, tentang apa yang telah diperbuat Daniel. Daniel lah yang melaporkan dirinya ke polisi, padahal sejatinya mereka bisa berdamai di tempat secara baik-baik.
"Gue cuma sekedar menggertak, supaya Nina mau pulang ke rumah. Dan lagipula gue yakin banget kalau Nina bisa punya pikiran seperti itu, karena pengaruh dari istrinya si Daniel juga. Gimana mungkin cewek kampung dan dari keluarga ekonomi kurang mampu kayak Nina, bisa punya pikiran seekstrim gitu buat ninggalin gue dalam keadaan hamil. Nggak mungkin nggak ada pengaruh dari kedua temannya itu."
"Pengaruh sih pasti, kan Nina nggak bisa hidup kalau nggak sama lo. Mau dapat duit dari mana dia, kalau nggak duit lo." ujar Christ.
"Nah makanya, mungkin si Lea dan si Vita mempengaruhi apa gitu ke Nina. Sehingga Nina yakin bisa hidup tanpa gue."
"Ditawari kerja di perusahaan Daniel mungkin." ujar Christ berspekulasi.
"Bisa jadi." jawab suami Nina.
"Perempuan mana sih, yang berani cerai saat dirinya lagi nggak punya kerjaan dan nggak ada duit. Lo pikir aja." lanjutnya kemudian.
Christ menghela nafas.
"Gue dari dulu kurang suka sama si Daniel." ujarnya kemudian.
"Dia tuh terlalu sok hebat menurut gue." lanjutnya lagi.
"Gue juga nggak terlalu respect." ujar suami Nina menimpali.
"Sekedar kenal-kenal aja." tukasnya lagi.
__ADS_1
"Dia tuh harus dikasih pelajaran sekali-kali, biar nggak merasa diri dia paling super power.".
Christ membuat pernyataan yang membuat suami Nina sedikit terdiam. Pikirannya membenarkan semua itu. Daniel memang sangat menyebalkan dan harus di beri peringatan. Supaya ia tak merasa jika dirinya adalah orang yang paling punya kuasa.