Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Nah Kan


__ADS_3

"Kami minta maaf, karena belum sempat mendatangi kalian."


Ayah Ellio berbicara di hadapan ayah, ibu, serta kakak-kakak Marsha. Mereka kini duduk di meja yang sama. Dengan Ellio sendiri berada di samping ayahnya. Sedang Marsha berada di sisi Ellio. Ibu Ellio berada di sisi kiri sang suami.


"Kami sudah merencanakannya, tetapi waktu yang kami miliki terbatas. Tapi hari ini, kami ingin menyampaikan hal tersebut." ucap ayah Ellio lagi.


"Sebagai orang tua, kami meminta maaf sudah gagal mendidik anak kami. Sehingga dia melakukan perbuatan yang membuat kalian merasa malu." lanjut pria itu.


"Tolong maafkan kami sekeluarga." Ibu Ellio menimpali, sementara Ellio dan Marsha tampak tertunduk.


***


Sementara di bagian lain, Daniel dan Richard tampak makan puding dan buah, sambil sesekali melihat ke arah meja. Tempat dimana Ellio dan keluarganya beserta keluarga Marsha berkumpul. Daniel makan dengan tangan kiri masih menggendong Darriel.


"Le, ntar anak lo ketumpahan makanan loh." Nina yang sejak tadi memperhatikan Daniel dari meja lain, kini berujar. Membuat seluruh teman-teman Lea menoleh ke arah sana.


"Biarin aja, bapaknya ini yang mau." ucap Lea.


"Tadi kan udah mau gue ambil. Mas Daniel nya maksa, posesif banget kalau anaknya di pegang sama gue. Katanya ntar gue gangguin."


Teman-teman Lea tertawa.


"Tapi jarang loh, Le. Ada laki-laki yang mau gendong anaknya terus kayak gitu." ucap Adisty.


"Iya kebanyakan maunya nyantai." timpal Ariana.


"Kalau laki gue maunya nyantai doang mah, gue gedik palanya." ujar Lea.


Mereka kemudian tertawa-tawa.


***


"Kami sudah memaafkan."


Ayah dari Marsha berujar. Di waktu yang bersamaan dengan percakapan antara Daniel-Richard dan juga Lea serta teman-temannya.


"Marsha anak kami, anak yang dia kandung adalah cucu kami. Apa yang sudah terjadi ya sudah. Yang penting kedepannya Ellio mau menjadikan Marsha sebagai satu-satunya istri yang dia sayangi serta jaga. Sebagaimana kami menyayangi dan menjaga Marsha selama ini."


Air mata Marsha menetes mendengar semua itu. Sementara Ellio kini menggenggam tangan istrinya dengan erat.


"Kami sekeluarga berharap Ellio tidak akan pernah menyakiti Marsha dan juga anak mereka kelak. Kalau itu terjadi, kami tidak segan-segan untuk melakukan tindakan yang sama terhadap Ellio."


Ayah Marsha menarik nafas.


"Ini bukan ancaman. Ini hanya sekedar pesan dari seroang ayah yang memiliki anak perempuan. Kalau memang sudah tidak cinta lagi suatu saat, jangan khianati dia. Tapi kembalikan dulu dia pada kami, secara baik-baik. Kami lebih baik sakit anak kami dipulangkan, daripada mendengar anak kami di khianati."


"Dengar itu Ellio."


Ayah Ellio berkata kepada sang putera. Ellio mengangguk. Pada saat itu Lea tengah tertawa-tawa dengan temanya di kejauhan. Para ndangan sedang menikmati pesta dan juga hidangan.

__ADS_1


Sedang Daniel serta Richard terlibat obrolan dengan rekan kerja dan juga orang-orang kantor mereka serta kantor Ellio.


"Buuuk." Ellio terjatuh.


Semua mata tertuju padanya dan suasana mendadak beku. Mereka semua kaget, Marsha dan keluarga berusaha membangunkan Ellio. Richard dan Daniel pun bergegas mendekat.


"El, Ellio."


Tubuh pria itu begitu dingin, seisi ruangan panik. Tak lama ambulans pun didatangkan dan kemudian ia dibawa ke rumah sakit.


***


Di sebuah tempat di waktu yang sama. Beberapa orang pria pengusaha berusia di atas 60 tahunan tengah berkumpul. Mereka tengah berpesta dan seakan lupa jika sudah nyaris bau tanah.


Tubuh yang masih fit, lantaran terus berolahraga. Serta uang yang banyak membuat mereka memang terlihat jauh lebih muda. Ketimbang orang seumuran yang hidup susah di luar sana.


"Mana Pram, cewek lo yang muda itu. Yang dari SB Agency." Seorang pria seumuran bertanya padanya.


Pria bernama Pramana itu hanya merokok dan mereguk alkohol dari dalam gelas yang ada di hadapannya.


"Siapa nama cewek lo, Clarissa ya." tanya temannya lagi. Dan lagi-lagi Pramana diam.


"Ada." ujarnya kemudian.


Namun jelas nada bicaranya seperti menyimpan sesuatu.


"Iya, dia sibuk akhir-akhir ini." jawab Pram.


Pria itu kembali mereguk minumannya lalu beranjak. Ia pergi ke sudut lain dengan hati yang dipenuhi kekesalan.


***


Beberapa saat berlalu, Ellio sadar dari pingsannya. Daniel, serta Richard tertawa di sisi sahabat mereka itu.


"Untung udah selesai acaranya, udah foto-foto juga. Timing lo pingsan, pas." Daniel berseloroh.


"Koq lo malah seneng sih, Marsha mana?. Marah nggak dia sama gue?" tanya Ellio kemudian.


"Nggak lah, tadi dia nangis. Dia ikut nganterin kesini, nungguin lo tiga jam lebih." jawab Daniel.


"Emang gue pingsan selama itu?" tanya Ellio kaget.


"Kayaknya campur pengaruh obat juga sih." Richard berspekulasi.


"Iya bener, kan tadi lo waktu sampe ke IGD langsung dikasih tindakan dan nggak tau di suntik apa." timpal Daniel dengan sotoynya.


"Terus Marsha nya mana?" Ellio mencari ke sekitar.


"Udah pulang sama Lea dan orang tua lo. Tadinya dia nggak mau, bersikeras mau jagain lo disini. Tapi kan dia lagi hamil muda dan ini rumah sakit. Kita tadi nggak tau mungkin lo terjangkit virus atau apa dan bisa aja nularin dia. Makanya kita paksa pulang." ujar Daniel lagi.

__ADS_1


"Lu mah jahat, Dan." ucap Ellio.


"Koq jahat?" Daniel mengerutkan kening.


"Kan gue pengen ngerasain ngeliat dia khawatir dan jagain gue sebagai istri. Bukan sebagai pacar lagi."


Daniel menghela nafas dan melebarkan bibir sampai kuping.


"Eh, Qadir. Justru kalau lo sayang sama dia, lo nggak boleh egois." Richard menimpali.


"Tau lo, bukannya mikirin kondisi dia. Lagipula dia masih mau bicara sama keluarganya. Kan dia baru diterima lagi sama keluarganya." lanjut Daniel kemudian.


"Iya sih." ujar Ellio.


"Besok juga dia pasti datang pagi-pagi koq. Nggak mungkin dia nyenyak tidur malam ini, pasti mikirin lo." lagi-lagi Daniel berucap.


"Lagian gue kenapa mesti kambuh lagi sih. Kan udah sehat." gerutunya kemudian.


"Kan dokter bilangnya, lo bisa melaksanakan pernikahan. Dia nggak bilang lo sembuh loh." tukas Richard.


"Iya ya?. Terus tadi undangan gimana?"


"Mereka sempat panik, tapi gue bilang lanjutin aja pestanya sampe selesai. Pas lo udah diperiksa tadi kan, gue ngabarin juga kesana kalau lo itu baik-baik aja. Ya udah mereka lanjut party."


"Emang undangan nggak ada akhlak." gerutu Ellio.


Daniel dan Richard pun tertawa.


"Elo lagian, sakit mulu." seloroh Richard.


"Latihan oke, persiapan oke. Badan nggak fit." lanjutnya lagi.


"Tidur dirumah sakit jadinya. Padahal niat mesum." Daniel meledek sahabatnya itu.


"Padahal sabi nih nyenggol-nyenggol dikit." ucap Ellio.


"Eh kena senggol infus." ledek Daniel lagi.


Ketiganya pun kembali tertawa-tawa.


"By the way congrats ya El, lo udah jadi laki orang sekarang." tukas Richard.


"Thank you, gue harap lo juga segera menyusul." Ellio berkata seraya menatap Richard.


"Dia mah nggak usah di harap." tukas Daniel.


"Masih suka berubah-ubah." lanjutnya kemudian.


Richard tertawa kecil, sebab memang begitulah adanya ia. Hatinya masih suka mencla-mencle dan belum begitu mantap saat ini.

__ADS_1


__ADS_2